Spotlight

Lebaran Tiba, Waspada Terpaan Flu Singapura

Menjelang libur panjang, penyebaran flu Singapura mengalami kenaikan di Indonesia. Bagaimana mencegah penularannya?

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 4 April 2024

Ratih tak menyangka demam yang dialami anaknya ternyata bukan demam musiman biasa. Buah hati yang berusia 8 bulan itu enggan menyusu dan seperti merasa kesakitan di bagian mulut. Setelah ia cek, ternyata ada semacam luka melepuh pada lidah anaknya.

"Hari Jumat itu anak saya rewel sampai pagi. Tidur sebentar, terus bangun, tidur sebentar, bangun," kata Ratih kepada detikX pada Rabu, 3 April 2024.

Esok harinya, Ratih membawa anaknya ke dokter. Setelah diperiksa, ternyata terdapat bintik-bintik berair menyerupai cacar di tubuh anaknya. Dengan itu, dokter mendiagnosis terjangkit flu Singapura.

Menurut Ratih, bintik-bintik pada tubuh anaknya memang sudah ada sebelum demam muncul. Waktu itu ia mengira hanya bentol-bentol karena gigitan nyamuk.

"Kalau anak saya itu di punggung tengah, terus di pinggang. Kalau di telapak kaki itu tidak ada, terus di lengan tangan itu ada. Kemarin sempat merambah juga di sekitar bibir. Seperti koreng gitu, kayak cacar. Cuma kalau di anak saya itu yang di bawah bibir tidak terlalu besar, kecil-kecil gitu dan langsung kering," ucapnya.

Ilustrasi anak paling rentan tertular flu Singapura.
Foto : iStockphoto

Anak Ratih mungkin tertular flu Singapura saat dititipkan di fasilitas day care. Hal itu karena baik di sekitar rumahnya maupun keluarga tidak ada yang terkena penyakit tersebut. Terlebih, menurut sang dokter, flu Singapura memang sangat mudah menular pada anak.

Buat saya, biar pers itu memaki-maki asalkan saja ia tidak menyebut kata-kata: 'Ini pemerintah bobrok, marilah kita berontak.'

Kondisi serupa dialami Ana. Perempuan berusia 19 tahun itu mengaku merasa lemas seluruh badan selepas dari beraktivitas. Menurutnya, rasa lemas yang ia alami bukan karena kelelahan seperti biasanya. Kondisi itu dibarengi dengan rasa gatal di bagian tangan.

Saat gatal dan digaruk, muncul bintik-bintik kemerahan di tangannya. Keesokan harinya bintik-bintik itu makin banyak dan menyerupai kondisi cacar.

"Lumayan cepat penyebarannya, Mas. Jadi kayak pagi-pagi itu kan baru titik, baru dua titik warna merah. Pas saya ke dokter, itu kan jam agak siangan, itu udah nyebar ke seluruh tangan. Pas masuk ke ruangan dokter, itu udah sampe tenggorokan. Jadi memang secepat itu penyebaran virusnya ke badan," ucap Ana kepada detikX pada Rabu, 3 April 2024.

Ana mengaku merasakan rasa gatal yang luar biasa, terutama di telapak kaki, telapak tangan, hingga bagian siku. Namun bagian yang terasa gatal akan terasa perih saat disentuh atau digaruk. 

"Gatal-gatalnya itu benar-benar gatal banget. Terus kalau misalnya kita garuk, kan, misalnya nggak tahan banget, itu bakal perih banget. Jadi memang semengganggu itu," ucap Ana.

Untuk kondisi itu, oleh dokter ia diberi obat oles. Selain itu, ia memperoleh semacam obat tetes yang digunakan untuk luka di tenggorokan dan lidah. Setelahnya, Ana dapat membaik setelah dua minggu perawatan.

"Saya juga disuruh karantina. Jadi nggak boleh keluar. Saya tuh kayak COVID ya, jadi kayak menjaga jarak sama orang sekitar, terus untuk tempat makan semuanya itu harus dipisah, jadi waktu itu sempat dipisah sama keluarga," ucapnya.

Walaupun demikian, tetap ada keluarga Ana yang tertular. Berselang tiga hari setelah Ana berangsur pulih, giliran sang adik terkena flu Singapura.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui anggota Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular Dokter Erlina Burhan mengatakan flu Singapura tergolong sangat mudah menular, terutama pada anak-anak.

Flu Singapura atau hand, foot and mouth disease  (HFMD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus  Enterovirus. Spesies  i>Enterovirus  yang paling sering menyebabkan HFMD adalah  Coxsackievirus  dan  >Human Enterovirus 71 (HEV 71). Penyakit ini sering menyerang bayi dan anak-anak pada usia 5-10 tahun. 

"Flu Singapura ini kan kebanyakan pada anak-anak dan kita tahu anak-anak ini kan senang bermain-main, dekat-dekat, bersentuhan. Dan kita tahu penularannya kan lewat sentuhan langsung dan juga kontak erat," ucap Erlina kepada detikX.

Flu Singapura, kata Erlina, selain mengakibatkan demam, menimbulkan sakit tenggorokan, batuk pilek, serta lenting atau ruam di kulit, di kaki, dan di mulut. Ruam di mulut yang pecah akan menjadi sariawan. Namun ruam atau bintik di kaki atau tangan, saat pecah, akan menjadi luka terbuka seperti koreng.

Erlina menuturkan flu Singapura secara umum bukan penyakit yang mengancam jiwa. Penyakit ini dapat diatasi dengan istirahat serta gizi yang cukup. Pemulihan dapat terjadi dalam kurun waktu 7-10 hari. Namun kondisi yang lebih berbahaya dapat terjadi jika virus memasuki aliran darah dan mempengaruhi kerja organ-organ vital, seperti jantung dan sistem saraf pusat. Meskipun kondisi tersebut belum pernah terjadi sejauh ini di Indonesia.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan penyakit ini endemik di Asia, terutama ASEAN, juga di sebagian Afrika dan Amerika. Dengan itu, flu Singapura akan selalu mengalami lonjakan wabah tiap tahun, terutama saat ada peningkatan mobilitas penduduk. 

"Kalau di Indonesia artinya (peningkatan kasus) terkait dengan libur hari besar," ucapnya kepada detikXpada Selasa, 2 April 2024.



Menurut Dicky, penyakit HFMD dan yang memiliki karakter serupa, seperti flu, COVID, dan infeksi saluran napas lain, akan cenderung meningkat dalam pola yang sama, yaitu saat mobilitas tinggi. Adapun yang membedakannya dengan penyakit serupa adalah jenis kelompok rawan dan penyebarannya.

"Imunitas masyarakat yang buruk, sanitasi buruk, dan perilaku hidup buruk jadi penentu. Syukurnya, sejauh ini fatality-nya kecil sekali, termasuk keparahan dan dampak organnya. Namun case fatalities rate 1,1 persen tetap harus diwaspadai karena jumlah anak di bawah 10 tahun Indonesia bisa setara jumlah penduduk Singapura," terangnya.

Dicky mengatakan kelompok rentan flu Singapura adalah anak-anak. Anak-anak disebut belum memiliki imunitas mayoritas karena belum pernah terinfeksi virus sejenis.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, Devandra Abi Prasetyo
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE