Foto : Alat peraga kampanye (APK) di wilayah DKI jakarta, Selasa (9/1/2024). Pradita Utama/detikcom
Kamis, 22 Februari 2024Habiburokhman bertarung tak kenal waktu. Ia bertandang ke 300 titik di dapilnya, Jakarta Timur atau Dapil Jakarta I selama dua bulan terakhir. Caleg dari Partai Gerindra ini ‘blusukan’ keliling kampung demi memastikan ia lolos kembali ke Senayan pada Pileg 2024. Ia adalah salah satu caleg petahana dari Komisi III DPR RI.
“Ya, ketemu masyarakat, bagi-bagi kalender. Sehari saya jalan kaki minimal 15 kilometer (untuk berkampanye). Sambil olahragalah. Dari pagi ketemu malam. Dari Subuh sampai lepas salat Isya,” ungkapnya kepada detikX pada Rabu, 21 Februari 2024.
“Kan saya disurvei tuh. Oleh LSI, H-2 bulan kalau nggak salah, saya tertinggi. Pengalaman 2019, H-2 bulan survei tertinggi justru membangkitkan semangat kompetitor. Makanya, setelah hasil survei dinyatakan (saya) tertinggi, aduh… lebih gila lagi turunnya. Hampir kena tifus,” lanjutnya.
Menjaga kesehatan serta memastikan tubuhnya fit dan prima untuk berkampanye pun jadi salah satu komponen biaya nyaleg. “Hampir seminggu sekalilah kita infus, infus vitamin gitu ke rumah sakit, istirahat. Kalau nggak begitu, kalau drop, repot itu,” ujar Habiburokhman.

Alat peraga kampanye (APK) di daerah Jakarta yang dicopot Satpol PP usai persaingan ketat di dapil 'neraka' berakhir, Senin (29/1/2024).
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom
Hal ini dilakoninya karena, menurutnya, meski namanya sudah cukup santer terdengar sebagai juru bicara di TKN Prabowo-Gibran, selain dirinya anggota Dewan dan Waketum DPP Partai Gerindra, popularitas saja tak cukup mengalahkan para lawan politik yang sama kuat dan populernya.
Saya kan beruntung jadi jubir (Prabowo-Gibran). Jubir kan tiap hari (muncul) di TV, sementara masyarakat kami Jakarta Timur banyak yang menonton TV.”
Dari daftar petahana, di Dapil Jakarta I ada eks penyiar berita Putra Nababan (PDI Perjuangan), eks pelawak Eko Patrio atau Eko Hendro Purnomo (PAN), Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, dan Waketum Partai NasDem Ahmad Ali.
Penantang baru di dapil ini pun ada nama-nama populer, seperti Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo (Partai Golkar), Ustaz Yusuf Mansur (Perindo), aktris Ayu Azhari (PAN), penyiar berita Aiman Witjaksono (Perindo), jubir PSI Dedek Prayudi, serta Waketum Partai Ummat Buni Yani.
Sementara itu, di Dapil Jakarta II dan III, pertarungannya tak kalah ngeri. Di Dapil Jakarta II, misalnya, ada Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah; Wakil Dewan Syuro PKS dan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid; istri Sekjen Partai Gerindra dan petahana Ahmad Muzani yaitu Himmatul Aliyah; petahana dari Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu dan Eriko Sotarduga; Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi (PDI Perjuangan); eks Menpora Adhyaksa Dault (PAN); serta sejumlah selebriti seperti Elfonda Mekel atau Once Mekel (PDI Perjuangan) dan tiga caleg PAN yaitu Puput Novel, Uya Kuya, dan Lula Kamal.
“Saya kan beruntung jadi jubir (Prabowo-Gibran). Jubir kan tiap hari (muncul) di TV, sementara masyarakat kami Jakarta Timur banyak yang menonton TV,” kata Habiburokhman.
Modal keterkenalan itu saja, lanjutnya, belum cukup. Bahkan, meski pada Pileg 2019 ia meraup 76.028 suara di dapil yang sama, menurutnya, itu tak jadi jaminan terpilih kembali bila tak dibarengi upaya merawat suara tersebut. Ia mengaku sering ‘turun lapangan’ sejak dilantik jadi anggota Dewan pada Oktober 2019. Misalnya, membikin dapur umum saat banjir dan pandemi COVID-19.
“Sebagai petahana, ekspektasi masyarakat tinggi sekali, sehingga bahayanya kalau masyarakat kecewa. Apalagi orang Jakarta kan, kalau kita hanya datang menjelang kampanye, pasti ditegur, ’Eh, lu kemane aje kemarin’. Makanya kunjungan dapil harus dimaksimalkan, ke pasar, ke warung kopi, itu berlangsung selama empat tahun,” jelasnya.
Salah satu lawan Habiburokhman di Dapil Jakarta I, Mardani Ali Sera, melakukan tindakan serupa. Mardani, yang masih menjabat anggota Komisi II DPR RI, mengaku aktif merawat jaringan kader PKS sepanjang tahun, baik itu kader yang aktif di masjid, RT, RW, hingga Karang Taruna. “PKS itu kuat di kader, kan,” ucapnya kepada detikX pada Rabu kemarin.
Mardani juga aktif menyapa masyarakat saat masa reses maupun periode kampanye. Strateginya adalah pertemuan dan dialog yang intensif dan intim. “Kalau Sabtu-Minggu, dari sebelum Subuh sampai jam 11 atau 12 malamlah. Kalau bertemu tokoh, dengan dua atau tiga orang, paling banyak sepuluh orang. Kalau komunitas 20, 30, paling banyak 50 orang. Kalau ketemu yang ratus-ratus tuh nggak ada bonding gitu loh,” jelasnya.
Namun, berbeda dengan Habiburokhman, yang titik sosialisasinya merata, Mardani mengaku berfokus di Kecamatan Cakung dan Duren Sawit karena memiliki jumlah pemilih yang besar.

Alat peraga kampanye (APK) di daerah Jakarta yang dicopot Satpol PP usai persaingan ketat di dapil 'neraka' berakhir, Senin (29/1/2024).
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom
Kuncinya Popularitas dan ‘Isi Tas’
Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan tak ada jaminan bagi seorang caleg untuk menang di dapil neraka. Termasuk jika si caleg memiliki sumber daya berupa uang dan modal kedekatan sosial sekalipun. Menurutnya, kunci pemenangan ada pada kerja-kerja yang efektif dan terukur.
“Harus turun sendiri memastikan bahwa setiap orang yang didatangi dan diajak diskusi itu mau memilih dia,” ujar Adi kepada detikX.
Ia mencontohkan beberapa nama besar yang gagal melenggang ke Senayan pada Pileg 2019, seperti aktor FTV Lucky Hakim (Partai NasDem) dan eks Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (PKB).
Direktur Indonesia Political Review Ujang Komarudin juga menyatakan hal serupa. Menurutnya, caleg yang menang adalah yang memiliki uang dan infrastruktur tim berbasis tempat pemungutan suara (TPS).
“Kalau hanya mengandalkan popularitas, ya ‘tewas’. Yang harus diandalkan juga isi tas, termasuk para (caleg) artis juga saya dengar tidak hanya mengandalkan popularitas. Yang penting kan tim sukses. Nah, membangun tim tidak murah karena harus ada di banyak TPS, membutuhkan uang ratusan juta rupiah untuk membentuk dan mengelola tim, menggaji mereka tiga bulan terakhir, termasuk politik uang pada hari-H. Kalau baliho, itu nggak terlalu penting,” jelas Ujang kepada detikX.
Baik Habiburokhman maupun Mardani mengaku mengerahkan tim di TPS-TPS. Namun keduanya tidak ada yang buka suara soal dana mengelola tim ini. Habiburokhman bahkan menyatakan tidak ada gaji untuk tim yang ia sebut ‘Tim 20’ itu.
“Nggak ada gaji. Itulah semangat relawan yang cinta dengan partai saya, cinta dengan saya, dan cinta dengan pimpinan saya, Pak Prabowo,” katanya.
Ia menargetkan 20 suara di tiap TPS. Total ada 8.812 TPS di Jakarta Timur. Berdasarkan penghitungan timnya, ia memperoleh sekitar 140 ribu suara kali ini, kurang lebih sesuai harapan dan usahanya dengan Tim 20. Mardani, sementara itu, mengaku menempatkan sepuluh relawan untuk menggerakkan massa di 2.000 TPS.
Tidak hanya itu, Mardani dan Habiburokhman juga memaksimalkan kampanye di media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan TikTok. Mardani bahkan punya jingle-nya sendiri yang, menurutnya, cukup viral di TikTok dan menyasar pemilih muda.
“Saya ketemu orang itu ada yang nyanyi di depan saya. ‘Pak Mardani… Ali Sera... pilihanku dari hati nurani’. Terngiang-ngiang, katanya,” ucap politikus PKS itu bangga.
Soal baliho, Habiburokhman tidak sepakat dengan Ujang. “Baliho pun harus. Beruntung kan sekarang saya petahana, jadi mampulah bikin baliho,” celotehnya.
Jakarta bertabur baliho dan spanduk caleg sejak 28 November 2023 sampai 10 Februari 2024. Hal ini tak mengherankan karena ada 21 total kursi yang diperebutkan di tiga dapil neraka Jakarta. Sebanyak 107 caleg berebut enam kursi di Jakarta I, 125 caleg berebut tujuh kursi di Jakarta II, dan 141 caleg berebut delapan kursi di Jakarta III.
Baca Juga : Waswas Terhempas dari Senayan
Mardani mengaku membuat 1.000 spanduk dengan biaya pembuatan dan pemasangan Rp 100 ribu per spanduk. Menurutnya, itu sedikit. “Kalau baliho yang menang Adi Kurnia Setiadi (Demokrat) sama Faldo Maldini (PSI)-lah. Kalau sembako menang semua dah, saya yang kalah, minyak juga kalah saya,” gurau Mardani.
Sementara itu, laporan penurunan APK Pemilu 2024 di DKI Jakarta mencatat 393.211 APK, yang terdiri atas spanduk, baliho, banner, bendera, pamflet, dan stiker. Jika menyamaratakan dengan hitungan Mardani, kurang lebih Rp 40 miliar perputaran uang untuk APK saja di tiga dapil neraka.
Pada 2019, Habiburokhman mengeluarkan lebih dari Rp 1 miliar dari kocek pribadinya untuk nyaleg. Tahun ini, meski belum bersedia membeberkan nilai nominalnya, ia katakan jumlahnya lebih besar dari yang lalu.
“Ya, besar. Tapi kan kalau jadi anggota DPR kita ada dana reses, dana kundapil, kunjungan daerah pemilihan, jadi agak ringan bagi kita pribadi, walaupun tetap nggak cukup, butuh modal tambahan (dari dana pribadi),” jelasnya, sembari mengaku pengeluarannya jauh di bawah pengeluaran caleg konglomerat lain di dapilnya.
Reporter: Alya Nurbaiti, Fajar Yusuf Rasdianto
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban