SPOTLIGHT

Berebut Suara Nahdliyin

Prabowo ada pada setiap pilpres sejak 15 tahun yang lalu. Ini membuat elektabilitasnya terawat di Jawa Timur. Selain itu, ia dianggap mendapat limpahan suara dari pendukung Jokowi.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 11 Januari 2024

PKB menjadi partai yang paling percaya diri menarik perhatian warga Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan ketua umumnya, Muhaimin Iskandar, menegaskan dirinya ‘NU sejak lahir’. Ia cucu salah satu pendiri NU, yaitu KH Bisri Syansuri. Dia berharap para nahdliyin memilih pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN).

"Kalau ada orang NU yang tidak nyoblos orang NU asli, berarti kebangetan. Insyaallah warga nahdliyin bersatu untuk kader yang maju dalam pilpres yang akan datang," kata Cak Imin dalam konsolidasi relawan AMIN di DBL Arena, Surabaya, Rabu siang kemarin.

Anies dan Imin secara perseorangan, seperti halnya kandidat lain, telah sowan pula ke beberapa kiai. Salah satunya, pada 15 Oktober 2023, AMIN memohon restu KH Agoes Ali Masyhuri, pengasuh Pesantren Progresif Bumi Sholawat di Sidoarjo sekaligus Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.

Meski demikian, hasil survei berkata lain. Lembaga Survei Indonesia (LSI), salah satunya, mengungkap 47,1 persen warga NU di Jawa Timur memilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, 26,2 persen memilih Ganjar Pranowo-Mahfud Md. Sisanya, sebanyak 17,5 persen, memilih Anies-Muhaimin dan 9,2 persen responden belum menentukan pilihannya.

Survei itu menggunakan metode multistage random sampling dengan toleransi kesalahan 1,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Jumlah respondennya 8.800, yang tersebar di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Dari total responden, lebih dari tiga perempatnya mengaku nahdliyin, baik penganut NU secara kultural maupun anggota struktural.

Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan mengatakan warga NU, yang mayoritas berada di Jawa Timur, adalah warga yang plural, tidak tunggal. Preferensi politik mereka pun beragam sehingga, kata Djayadi, tidak ada jaminan orang yang merasa NU pasti akan memilih tokoh yang dianggap mewakili NU.

Calon wakil presiden nomor urut 1 Muhaimin Iskandar (tengah) berdialog dengan pedagang es cincau saat blusukan di pasar tradisional Citra Niaga, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (6/1/2024).
Foto : Syaiful Arif/Antarafoto

“Ada yang mengikuti kiai, pesantren, pengurus NU, padahal masing-masing punya pilihan dan afiliasi beragam. Keunggulan Prabowo-Gibran tampaknya juga disokong faktor afiliasi pemilih kepada Presiden Joko Widodo, yang dianggap pendukung Prabowo-Gibran. Jangan lupa, Jokowi adalah pemenang di Jatim selama dua pemilu terakhir,” demikian analisis Djayadi yang disampaikan kepada detikX.

Jawa Timur menjadi barometer kemenangan paslon. Sebab, selain merupakan basis NU (ada sekitar 90 juta pemilih terafiliasi NU di Nusantara), dalam Pemilu 2014 dan 2019, yang menang di Jawa Timur adalah pemenang di tingkat nasional. Ia juga provinsi dengan populasi pemilih terbesar kedua setelah Jawa Barat, mencapai 31,4 juta jiwa.

Bagaimana dengan nahdliyin di luar Jawa? Menurut Direktur Riset Poltracking Indonesia, Arya Budi, warga NU memang ada di berbagai daerah, tetapi nyantri-nya di Jawa Timur.

“Pesantrennya kan di Jawa Timur. Nanti ketika sudah jadi alumni dan keluar dari Jawa Timur, akarnya tetap kiai-kiai di Jawa Timur itu,” ujar Arya kepada detikX.

Poltracking juga memiliki data soal pemilih NU. Dari survei tatap muka yang dilakukan pada 29 November hingga 5 Desember 2023, dengan 1.220 responden dari seluruh Indonesia, 48,9 persen di antaranya adalah klaster NU. Sebanyak 40,3 persen warga NU menjagokan Prabowo-Gibran, 31,3 persen yang condong ke Ganjar-Mahfud. Sisanya 24,4 persen merapat ke Anies-Muhaimin.

Berdasarkan pantauan Poltracking sejak Mei 2022, saat belum memiliki cawapres, Prabowo memang sudah populer di kalangan nahdliyin, kompetitif dengan Ganjar. Pada awal September 2023, misalnya, 37,2 persen nahdliyin memilih Ganjar dan 33,9 persen memilih Prabowo, sedangkan pemilih Anies hanya 15 persen. Di sisi lain, Mahfud Md dan Imin, yang digadang-gadang sebagai tokoh NU atau memiliki kedekatan dengan NU, popularitasnya tidak pernah mencapai angka 10 persen.

“Angkanya makin ke sini makin melebar, di mana Prabowo memimpin. Setelah Ganjar berpasangan dengan Mahfud, malah terjadi penurunan. Sedangkan Anies, setelah berpasangan dengan Muhaimin, suaranya terkerek meski tidak signifikan,” terangnya.

Terkait tingginya suara NU untuk Prabowo-Gibran, Arya Budi sepakat dengan Djayadi soal faktor dukungan dari Jokowi, yang populer di kalangan pemilih NU. Ini hasil investasi politik dalam sepuluh tahun terakhir di kelompok santri. Dari 77,6 persen publik nasional yang menyatakan puas terhadap pemerintahan Jokowi, sebaran pilihannya kepada Prabowo-Gibran 47,4 persen, Ganjar-Mahfud 30,7 persen, dan Anies-Muhaimin 17,5 persen.

“Dia (Prabowo) merawat hubungan dengan kiai-kiai di daerah Tapal Kuda. Meskipun ia cenderung didukung oleh kelompok kanan atau muslim perkotaan, Prabowo sejak 2014 juga kuat di Tapal Kuda. Dia punya jangkar di sana, kiai-kiai dan pemilihnya. Prabowo-Gibran unggul karena menggabungkan dua basis pemilih yang kuat, yaitu pemilih Prabowo dan pemilih Jokowi,” jelas Arya.

Menjelang Pilpres 2019, Prabowo bahkan dibuatkan kartu anggota NU setelah bertemu dengan Said Aqil Siroj, yang saat itu menjabat Ketum PBNU, pada 16 Agustus 2018. Lalu pada November 2023, Prabowo mendatangi Ponpes Langitan di Tuban, disambut tuan rumah KH Ubaidillah Faqih dan 68 kiai yang turut hadir, termasuk KH Anwar Mansur dan KH Anwar Iskandar dari Ponpes Lirboyo, Kediri, serta KH Mutawakkil ‘Alallah dari Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo.

Bergabungnya sejumlah kiai di timses Prabowo juga dianggap memberi efek trickle-down bagi warga NU. Misalnya, kiai sepuh Habib Luthfi, Gus Miftah, dan Waketum PBNU Nusron Wahid. “Itu bisa jadi berkontribusi, tapi sejak awal memang suaranya (untuk Prabowo) sudah lumayan di kelompok nahdliyin,” lanjut Arya.

Analisis Arya terhadap dua paslon lainnya, Imin dianggap tidak berhasil mengatrol suara lantaran sejarah perseteruannya dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Hemat Arya, beberapa pengurus PBNU tampak kurang sreg dengan Imin. Putri Gus Dur, Zannuba Arrifah Chafsoh alias Yenny Wahid, bahkan merapat ke Ganjar-Mahfud.

Kampanye Calon wakil presiden nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (10/1/2024).
Foto : Firda Cynthia Anggrainy/detikcom

“Tetapi kelompok Gusdurian itu kan nahdliyin intelektual, kelas menengah terdidik, jumlahnya tidak banyak dan belum tentu solid. Lebih banyak nahdliyin menengah ke bawah, yang sebagian bisa jadi mengapresiasi program kerja Jokowi, apalagi menjelang pemilu isinya BLT (bantuan langsung tunai) semua,” jelas Arya.

Untuk paslon 03, Ganjar mendapat limpahan suara nahdliyin di Jawa Tengah lantaran istrinya, Siti Atikoh Supriyanti, adalah cucu KH Hisyam A Karim, kiai berpengaruh di Karanganyar, Purbalingga, dan pendiri Ponpes Sukawarah Roudlotus Sholichin Sholichat di Jawa Tengah. Ganjar juga telah sowan ke KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dan KH Ahmad Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha. Meski begitu, Mahfud Md, menurut Arya, kurang intens berkampanye di Jawa Timur.

Sementara itu, di Yogyakarta, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU DIY Muhammad Mustafid alias Gus Tafid mengaku relawan AMIN dari kalangan NU di Jogja menjamur. Klaim ini terlihat dari banyaknya deklarasi dukungan, misalnya dari Laskar Santri, Jarnas, hingga Bakorsi. Beberapa pondok pesantren, seperti Al Munawwir dan Krapyak, menurutnya, menunjukkan sikap yang jelas ke arah paslon 01. Dalam pertemuan dengan Partai NasDem dan PKB pada Selasa lalu, Said Aqil Siroj juga menyatakan menaruh simpati pada pasangan AMIN.

Arya Budi berkata, dengan tingginya angka swing voters (37,6 persen) dan undecided voters (13,2 persen) per Desember 2023, peta kekuatan elektoral, termasuk dari kelompok NU, masih dinamis. “Akan banyak dipengaruhi oleh kampanye darat, pendekatan ke kiai, dan program populis ataupun kepuasan terhadap Jokowi,” ujarnya.

“Kiai dianggap sebagai sumber kebenaran. Meskipun banyak juga pemilih NU yang independen, struktur patron-klien atau relasi kuasa kiai-santri juga masih kuat, dan memang adab santri kan patuh pada kiai. Jadi kiai bisa mengarahkan pilihan politik, ini realitasnya di Indonesia,” pungkasnya.


Reporter: Alya Nurbaiti
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE