Ilustrasi : Edi Wahyono
Rabu, 10 Januari 2024Pertemuan pengurus cabang Nahdlatul Ulama di Hotel Shangri-La Surabaya pada Rabu, 27 Desember 2023, menyisakan gejolak di kalangan kiai nahdliyin. Sejumlah kiai yang juga ketua PCNU di Jawa Timur merasa pertemuan itu seperti forum kampanye Pilpres 2024. Disinyalir ada upaya pejabat struktural PBNU mengarahkan dukungan peserta rapat kepada kandidat nomor urut 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
“Saya percaya informasi itu benar, karena informasi itu dari para pengurus PCNU yang hadir di pertemuan itu, dan tidak hanya satu, ada sekitar 5 orang yang memberikan informasi itu,” tutur Kiai Haji Abdussalam Shohib alias Gus Salam kepada detikX pekan lalu.
Arahan itu dilakukan secara eksplisit dan implisit. Secara implisit, misalnya Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya dalam pertemuan itu menyampaikan pentingnya nahdliyin mendukung program-program Presiden Joko Widodo, termasuk salah satunya Ibu Kota Negara (Nusantara). Gus Salam menafsirkan pernyataan ini sebagai instruksi kepada nahdliyin untuk mendukung Prabowo dan Gibran, yang dalam visi-misinya melanjutkan program-program Jokowi.
Dalam pertemuan itu juga, upaya mengarahkan dukungan ke Prabowo-Gibran datang dari Rais 'Aam PBNU Miftachul Akhyar. Kiai Haji Miftach menyampaikan pertimbangannya memilih paslon 02 dengan lebih eksplisit. Beliau membandingkan tiga pasangan calon dengan menyebut latar belakang ketiganya. Pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, misalnya, dianggap terlalu dekat dengan organisasi kemasyarakatan radikal. Sedangkan pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud Md dianggap hanya sebagai petugas partai.

Presiden Laskar Santri AMIN Indonesia, KH Abdussalam (nomor dua dari kanan) saat konferensi pers dukungan kepada Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Rabu (20/12/2023).
Foto : Faiq Azmi/detikJatim
“Nah, kalau yang 02 ini mualaf, baru masuk ke NU. Biasanya yang mualaf ini yang nurut sama NU,” kata Gus Salam mengulangi kembali cerita para kiai tentang pernyataan Kiai Haji Miftach dalam forum tersebut. “Ada bahasa seperti itu yang saya dapat informasinya.”
Kalau bahasa pesantren kan itu, bukan kalimat yang sharih, bukan kalimat yang verbal atau narasi yang jelas. Apakah itu perintah, instruksi, atau apa? Saya tidak berani menyimpulkan.”
detikX menghubungi Kyai Miftach dan Gus Yahya untuk mengkonfirmasi cerita tersebut via pesan singkat dan sambungan telepon, tapi hingga tenggat naskah ini, belum direspons. Kami juga menghubungi empat ketua PCNU di Jawa Timur untuk mengkonfirmasi cerita tersebut, tapi semuanya enggan berkomentar.
Ketua PCNU Bangkalan Muhammad Makki Nasir, misalnya, memilih tidak menanggapi soal pernyataan Kiai Haji Miftach dan Gus Yahya, yang mengarahkan dukungan terhadap paslon 02. Kiai haji yang juga Ketua MUI Kabupaten Bangkalan itu mengatakan forum tersebut merupakan konsolidasi internal NU yang tidak seharusnya menjadi konsumsi publik.
“Hanya konsolidasi organisasi. Terus informasi-informasi terkait langkah-langkah NU, khususnya PBNU. Terus bicarakan situasi sekarang yang harus disikapi oleh NU,” ungkap pengurus Pondok Pesantren Syaikhona Kholil, Bangkalan, ini melalui sambungan telepon pada Ahad, 7 Desember 2023.
Sebelum pertemuan di Hotel Shangri-La Surabaya, Gus Yahya juga dianggap beberapa kali menunjukkan arah dukungannya kepada Prabowo-Gibran dalam sejumlah rapat internal NU. Dalam rapat pleno Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta pada Ahad, 24 Desember 2023, Gus Yahya berulang kali menunjukkan gestur mengangkat dua jari di hadapan peserta rapat.
Gestur itu ditunjukkan Gus Yahya ketika menjawab sejumlah persoalan yang ditanyakan peserta rapat, termasuk pertanyaan soal sikap NU dalam menghadapi situasi politik terkini. Gestur itu kemudian diikuti Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, yang duduk persis di sampingnya.
“Saya cuma titip dua hal, dua hal tadi itu ya. Terima kasih,” kata Gus Yahya saat menutup ceramahnya.
Sekretaris PWNU DIY Muhajir menjelaskan Gus Yahya hadir dalam rapat pleno itu untuk memberikan arahan terkait langkah-langkah pengurus ranting NU menjalankan program-program organisasi. Dalam rapat itu kemudian ada sesi tanya-jawab peserta rapat dengan Gus Yahya. Pada sesi itu, seorang peserta rapat menanyakan terkait sikap PBNU dalam menyikapi situasi politik terkini.
Baca Juga : Ramai-ramai Mengeroyok Prabowo
Gus Yahya kemudian menjawab pertanyaan itu dengan mengistilahkan kontestasi pilpres sebagai seni pewayangan. Para paslon dianggap sebagai wayang, sementara para pengusungnya dipandang sebagai dalang. Gus Yahya mempersilakan para peserta rapat memilih dengan melihat wayangnya atau justru melihat dalangnya. Setelah momen itu, Gus Yahya menunjukkan kode-kode arah dukungannya dengan berulang kali menunjukkan gestur dua jari di hadapan peserta rapat.
“Kalau bahasa pesantren kan itu, bukan kalimat yang sharih, bukan kalimat yang verbal atau narasi yang jelas. Apakah itu perintah, instruksi, atau apa? Saya tidak berani menyimpulkan,” tutur Muhajir kepada detikX pada Senin, 8 Januari 2024.
Gus Ipul tidak membantah adanya pembicaraan terkait pemilu dalam pertemuan internal NU di Yogyakarta dan Surabaya. Namun itu bukan sebagai arahan untuk memilih calon tertentu, melainkan hanya diskusi ringan organisasi dalam menyikapi situasi politik terkini. Dalam rapat-rapat itu, diakui Gus Ipul, muncul pertimbangan terkait latar belakang ketiga pasangan calon.
Gus Yahya, misalnya, dalam diskusi-diskusi itu kerap menunjukkan kecondongannya terhadap pasangan nomor urut 2. Itu, menurut Gus Ipul, sah-sah saja. Begitu pula jika Kiai Haji Miftah menunjukkan kecenderungan pilihannya pada Prabowo-Gibran. Selama pertimbangan itu masih disampaikan dalam rapat-rapat konsolidasi internal dan tidak disampaikan kepada publik sebagai sikap organisasi, hal tersebut sah-sah saja.
“Nggak ada yang salah, wong yang lain juga punya calon lain, nggak ada masalah,” ungkap Gus Ipul saat dimintai konfirmasi detikX pada Senin, 8 Januari lalu.
Sampai saat ini, Gus Ipul berdalih, PBNU secara organisasi masih konsisten mengambil posisi netral dalam Pilpres 2024. Menurutnya, PBNU juga tidak melarang para kadernya, baik itu kiai maupun pimpinan pondok pesantren, menunjukkan dukungannya kepada calon tertentu. Selama dukungan itu tidak membawa atribut atau embel-embel nahdliyin, hal itu diperbolehkan.
Dukungan dari para kiai inilah yang sekarang mengesankan seolah PBNU telah bersikap memilih pasangan 02. Sebab, santri-santri NU punya prinsip mendasar dalam menjalani hidup, yakni sami'na wa atho'na (kami mendengar dan kami patuh). Kader NU akan ikut siapa yang dipilih mayoritas ulama. Arah dukungan mayoritas ulama itu, kata Gus Ipul, tecermin dari hasil sigi beberapa lembaga survei yang menunjukkan pasangan Prabowo-Gibran sebagai calon yang paling banyak dipilih kalangan nahdliyin.
Baca Juga : Banjir Serangan Debat Pilpres

Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat ditemui di Surabaya, Kamis (28/12/2023).
Foto : Faiq Azmi/detikJatim
“Jadi ada, misalnya, di NU yang menganggap (salat) Tarawih cukup 11 saja, tapi mayoritas itu kan 23,” kata Gus Ipul sembari terkekeh.
Ketua PBNU nonaktif Mohamad Syafi’i Alielha alias Savic Ali sedikit menyayangkan sikap para pengurus NU yang menunjukkan arah dukungannya saat mengisi forum-forum internal NU. Laku ini, menurut Savic, tidak mencerminkan sikap PBNU secara organisasi yang sejauh ini masih mengambil posisi netral dalam kontestasi Pilpres 2024. Secara aturan, pengurus harian NU yang aktif berkampanye atau mengarahkan dukungan pada calon tertentu harus mengambil cuti dari organisasi untuk menghindari konflik kepentingan.
“Harusnya tidak boleh. Yang masih aktif, ya, dia seharusnya tidak berkampanye menggunakan atributnya sebagai pengurus dan tidak menggunakan ekosistem organisasi untuk membantu pasangan yang dia dukung,” pungkas Savic, yang kini mengambil cuti dari pengurusan PBNU lantaran tergabung dalam Tim Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud, kepada detikX.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Alya Nurbaiti
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban