SPOTLIGHT

Trauma, Save Janda, Sintas Bersama 

Peringatan pemicu:
Laporan ini mendeskripsikan kasus kekerasan terhadap perempuan yang berpotensi memicu trauma. Harap tidak melanjutkan jika dalam keadaan rentan.


Ry dan Mutiara sama sepertiku, sepertimu, dan perempuan lainnya yang melamun, yang berdarah, yang pulih, yang hidup. Kita aman dan memang seharusnya aman.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 5 Januari 2024

Selasa lalu, saya bertemu dengan Mutiara Malika Proehoeman, pendiri Save Janda, di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Dia berdandan seperti musim semi, mengenakan kaus warna shell pink dan potongan rambut sebahu yang segar. Buat saya, dia tampak seperti bunga sakura. Dia riang, memesan waffle pisang karamel dan meminta tambahan mentega serta es krim vanila. Kami cuma bertemu dua jam karena Mutiara produser rekaman yang sibuk.

Ry Kusumaningtyas, si penulis dan konsultan tarot, saya jumpai beberapa jam setelahnya di kediamannya di Yogyakarta, lewat panggilan video. Entah kenapa hari itu saya memandang orang-orang layaknya musim. Ry dengan rambut burgundi dan pakaian earth tone-nya serupa musim gugur. Dia mengipas-ngipas, Jogja sedang berawan dan sumuk.

Ry berusia 47 tahun dan Mutiara 42. Keduanya korban dan penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dua-duanya juga ibu dari anak-anak perempuan yang beranjak dewasa.

Mendengarkan Ry dan Mutiara berkisah, saya membatin, bisa semirip itu ya ceritanya. Ada pola yang sama dalam pengalaman menavigasikan hubungan romantis yang berujung perjumpaan nahas dengan kekerasan. Kabar baiknya, pola itu sangat bisa diinterupsi, dihentikan, digantikan dengan yang lebih baik dan nyaman di badan.

“Aku perbaiki polaku supaya tidak berulang di anak perempuanku. Aku tanamkan padanya bahwa dia berharga apa pun yang terjadi. Jangan mau diperlakukan tidak baik sama cowok-cowok. Harus punya mindset yang lebih kuat, lebih menghargai diri sendiri. Jangan seperti aku di masa lalu, yang mendahulukan kebahagiaan orang lain tapi melupakan diriku sendiri,” kata Ry.

Perjuangan Keluar dari Siklus Kekerasan
Gelombang besar selalu datang
Dari laut yang dalam
Sauh kulepas
Nafas terbentang
Tiada waktu tuk karam
“Terus berjalan,
Terus berjalan”
Kata-katamu, teman

Save Janda saat diundang Universitas in Women in Business untuk bekerja sama dalam acara The Spring Circle.
Foto : Dok. Istimewa

Petikan lagu terbaru Hara dari album Layar Terkembang, Sebuah Lagu untuk Teman itu terputar di kepala saya beberapa hari ini. Bagi korban KDRT ataupun kekerasan lainnya, ada dua orang di dalam dirinya: dirinya yang korban dan dirinya yang selalu menjadi teman untuk dirinya yang korban.

Meski suaranya tidak bergetar, Mutiara masih berkaca-kaca saat menceritakan kekerasan yang dialaminya sekitar 20 tahun lalu. Ia berstrategi sendiri, tanpa ada yang menasihati. Pelan-pelan memindahkan dokumen anaknya dan menitipkannya di rumah kakaknya. Setelah ia ditendang mantan suaminya sampai terjengkang. Saat itu ia tengah hamil delapan bulan.

“Begitu lahiran, gue berlagak baby blues, pura-pura depresi, ngurung diri, nggak mau makan. Padahal aslinya sehat, tapi demi bisa keluar dari rumah itu. Akhirnya dijemput kakak. Sejak itu, gue nggak balik lagi,” ujar Mutiara.

Untuk sampai di titik itu, ia sudah berulang kali mengalami kekerasan fisik, verbal, psikis, dan seksual. Mantan suaminya bawa-bawa agama untuk membenarkan kekerasannya, biasanya seputar istri harus menurut pada suami. Pada saat yang sama, setiap habis melakukan kekerasan, lelaki itu selalu minta maaf sambil menangis, melakukan love bombing seperti mengajak Mutiara makan di restoran mahal, shopping, menginap di hotel mewah, dan berjanji tidak akan mengulangi.

Gue luluh, bahkan sampai memutuskan punya anak kedua. Semua karena bujuk rayunya manis, seperti ingin memulai dari nol, janji membangun keluarga sendiri yang jauh dari intervensi mertua,” katanya.

Mantan mertuanya juga melakukan kekerasan verbal, selalu membela anak laki-lakinya dan menyalahkan Mutiara. Demikian pula mantan mertua Ry. Kelakuan mantan suami Ry, padahal, menendang perut istrinya yang hamil, menjambak, menyeret, memukul istrinya di depan teman-temannya, mencekik, memaki, memperkosa, berselingkuh, tidak menafkahi, hingga mengancam dengan cara menaruh parang di leher Ry.

“Saat aku kabur setelah dicekik dan bayiku jatuh, mertua anggap tindakanku pergi meninggalkan rumah itu salah. Mereka bilang, kalau kamu ikhlas, pintu surga. Aku bilang sama ibu mertuaku, mohon maaf, pintu surga nggak cuma satu, saya mau cari pintu yang lain,” ujar Ry.

Ry dan Mutiara masing-masing menikah pada usia 22 dan 20 tahun karena menginginkan cinta, tanpa tahu hubungan yang sehat itu seperti apa.

“Aku broken home, besar tanpa orang tua. Jadi ketika aku SMA, ada yang nungguin aku di depan sekolah, ya senang dan merasa diperhatikan. Sebetulnya dari dulu cowok itu sudah cemburuan dan main tangan, tapi sulit melepaskan diri dari dia. Aku minta putus dia nggak mau dan meneror terus. Dia ngejar-ngejar sampai aku capek dan akhirnya malah mengira, mungkin dia secinta itu. Belum bisa membedakan cinta dan obsesi,” ungkap Ry.

Keluar dari siklus kekerasan memang sulit tanpa dukungan yang memadai. Mutiara bahkan pernah melapor ke polisi saat hidungnya patah dipukul mantan suami. Kata polisi, “Oh, nanti juga mesra lagi.”

Cahaya di Ujung Gelap
Bagian paling sulit memang keluar dari pernikahan beracun. Setelah berhasil bercerai, kata mereka, perasaan gelap itu masih ada, tapi kini sudah lebih bisa diterima. Siasat sembuhnya sama, terus berjalan ke depan, bergerak, tidak tinggal diam. Bekerja, berkomunitas, menulis, konseling dengan psikolog, bonding dengan anak. Semua untuk memantapkan nilai diri yang sempat terkoyak oleh pengalaman direndahkan.

Mutiara pernah menjajal teater, stand-up comedy, dan yang paling baru, mengambil sertifikasi animal communicator. Bulan ini ia mulai menawarkan jasa berkomunikasi dengan hewan kesayangan.

Selain itu, Mutiara bersama sahabat-sahabatnya, di antaranya pelawak Asep Suaji dan komposer Tya Subiakto mendirikan komunitas Save Janda, yang didasari keprihatinannya atas kondisi janda yang dirugikan stigma dan diskriminasi oleh masyarakat. Anggotanya sekitar 100 orang dari seluruh Indonesia.

“Delapan puluh persen anggota Save Janda penyintas KDRT. Beberapa anggota juga janda on the way. Jadi komunitas ini ada salah satunya untuk memberi pendampingan psikologis, menguatkan perempuan agar mantap meninggalkan pernikahannya yang penuh KDRT,” ucap Mutiara.

Foto bersama Save Janda usai menggelar kegiatan terapi seni untuk pemulihan psikologis.
Foto : Dok. Istimewa

Save Janda juga sering mengadakan event, lokakarya untuk penguatan skill anggotanya, menyediakan platform untuk anggotanya berjualan, termasuk thrifting atau jualan barang bekas, dan saat ini sedang membangun Save Janda Entertainment, event organizer yang mempekerjakan anggota komunitas tersebut.

Tak jauh beda, Ry pernah membuat program khusus untuk membantu korban KDRT saat pandemi COVID-19. Ia menyediakan konsultasi tarot gratis untuk korban KDRT pada 2020 dan 2021.

Ia mulai belajar tarot setelah pensiun dini dari pekerjaan sebelumnya sebagai ASN di sebuah kementerian. Lingkungan kerjanya pada waktu itu penuh tekanan dan perundungan. Perundungannya pun masih ada kaitannya dengan mantan suaminya dan dampak KDRT. Ry akhirnya memilih keluar dan memulai hidup baru. Kisah perundungan itu ia tulis juga dalam memoarnya, Mereka Bilang Aku Gila (2013), yang sekaligus menceritakan pengalamannya sebagai penyintas Gangguan Bipolar.

Ry mengaku kondisi kesehatan mentalnya terbantu dengan tarot, baik dari membaca tarot untuk dirinya sendiri maupun berkomunikasi dengan klien. Menurutnya, tarot adalah sebuah alternatif untuk mengenali emosi dalam perjalanan seseorang memperbaiki kesehatan mentalnya

“Tidak semua orang bisa membahasakan emosinya dan tarot bisa membantu itu, karena dia menggunakan bahasa simbol dan semiotika. Sebetulnya prinsipnya seperti terapi, karena tarot memiliki kedekatan dengan psikologi dan spiritualisme,” ujar perempuan yang pernah menjadi dosen tamu psikologi di beberapa kampus di Jogja itu.

“Ketika kita berguna untuk orang lain, membantu orang lain, itu juga jadi penyembuhan jiwa kita sendiri,” pungkas Ry.


Reporter: Alya Nurbaiti
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE