Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 1 Agustus 2023Laila Hilaby sesekali memandang foto suaminya, Dedi Umar Hamdun, sambil duduk di kursi yang tepat menghadap pintu. Dia setia menunggu suaminya pulang. Abdul Hakim Hamdun, anak Dedi dan Laila, bercerita ibunya tak pernah melewatkan sehari pun selama 26 tahun ini setiap siang hingga sore untuk termenung di sana.
“Setiap hari, tidak ada pengecualian, bengong sampai ketiduran. Pintu selalu dibuka, pagar dibuka, biar tahu biar Papa tidak nyasar, kata Mama. Sekarang (Mama) sudah bisa diarahkan, diajak berdialog agar pintu pagarnya ditutup saja. Kalau pintu ruang tamu, tidak apa-apa dibuka,” ungkap Hakim saat berbincang dengan reporter detikX.
Hakim menuturkan kesehatan mental ibunya terguncang sejak ayahnya dikabarkan menghilang. Baru pada 2007, ketika Hakim dan kakaknya mulai bisa membawa ibu mereka berobat, keadaannya mulai lebih stabil.
Laila tak pernah menyangka suaminya menjadi korban penghilangan secara paksa dan belum kembali hingga kini. Hanya kabar simpang siur yang ia dengar dari para kawan Dedi beberapa minggu setelah dinyatakan hilang.
-pvxrd1.png)
Foto Dedi Hamdun dengan tubuh berbalut kain ihram putih saat beribadah haji ini yang kerap diamati Laila sambil menunggunya pulang.
Foto : Dok. Keluarga Dedi Hamdun
Ia tahu betul sehari-hari Dedi sibuk dengan bisnis properti dan urusan pembebasan tanah. Selama di rumah sebelum menghilang, Dedi memang kerap bercerita menyoal proyek pembebasan lahan sekitar 135 hektare yang dia kerjakan di Cisarua.
Saya kepikiran ini apa di Cisarua nggak bisa pulang apa gimana. Ditelepon nggak nyambung. Kan saya panik. Saya susulin kawannya. Saya panggil ke rumah kawan-kawannya.”
“Saya kepikiran ini apa di Cisarua nggak bisa pulang apa gimana. Ditelepon nggak nyambung. Kan saya panik. Saya susulin kawannya. Saya panggil ke rumah kawan-kawannya,” tutur Laila kepada tim detikX di kediamannya daerah Kebon Nanas, Jakarta Timur.
Menurut keterangan salah seorang teman Dedi yang tidak ingin disebutkan namanya, suami Laila tersebut memang sempat bercerita: ditunjuk langsung oleh Ibnu Hartomo, adik Siti Suhartinah atau istri Soeharto, sebagai direktur operasional pembebasan lahan di Cisarua. Sebab, Dedi dikenal mudah akrab dengan rakyat kecil, termasuk para pekebun yang lahannya hendak dialihfungsikan.
Hari terakhir bertemu dengan Dedi, Laila merasa suaminya itu tak terlihat gelisah atau seperti sedang dikejar seseorang. Bahkan Dedi sempat mengajaknya, bersama dua putrinya, untuk makan bersama di restoran Hotel Nirwana, tempat suaminya menginap dari hari sebelumnya.
Siang itu, sebelum memasuki restoran di depan Hotel Nirwana, Laila tampak takjub melihat lautan massa mengenakan baju hijau dan membawa bendera PPP menggelar kampanye di sepanjang Jalan Otista Raya. Suaminya memang juga merupakan salah satu simpatisan PPP.
Keberadaan Dedi di Hotel Nirwana salah satunya untuk meramaikan kampanye Mega-Bintang—berasal dari gabungan massa pendukung Megawati Soekarnoputri dan Sri Bintang Pamungkas. Megawati kala itu menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Sedangkan Bintang pernah ditahan pemerintah Soeharto atas tuduhan subversif. Maka dari itu, penggunaan atribut kampanye ‘Mega-Bintang’ dilarang oleh Orde Baru.
Di antara keriuhan pendukung Mega-Bintang, Dedi dan keluarganya menyantap nasi kebuli kambing. Dedi mengenakan baju loreng berwarna hijau. Di sela makan siang itu, Dedi lagi-lagi bercerita menyoal kesibukannya menggarap pembebasan lahan di Jalan Gatot Subroto dan Cisarua.
“Dia (bercerita) di proyek itu sebagai direktur, nanti disisakan ke saya sama anak-anak tanahnya, kurang lebih 10 hektare,” tutur Laila.
Setelah makan siang hari itu, menjelang Magrib, Laila dan anak-anak pamit pulang kepada Dedi Hamdun. Sedangkan Dedi memutuskan tetap di Hotel Nirwana karena hendak menyelesaikan urusan tanah di Gatot Subroto.
Esok paginya menjadi percakapan terakhir dengan Laila melalui sambungan telepon. Dedi sembari pamit hendak pergi ke Cisarua, sekali lagi menegaskan, jika proyek pembebasan lahan di Cisarua sukses, ia akan memberikan bagian kepada Laila dan anak-anaknya. Dedi juga mengatakan akan mengajak Laila ke Cisarua jika proyeknya selesai digarap.

Foto Dedi Hamdun bersama istri, Laila Hilaby semasa muda. Di sebalah kanan, foto Laila Hilaby menggendong Lady Sofia (anak ke-5).
Foto : Dok. Keluarga Dedi Hamdun
Namun, hari demi hari, Dedi tak kunjung berkabar kembali. Seminggu pertama Dedi tak ada kabar, Laila semakin panik, hingga datanglah kabar bahwa ia memang dinyatakan hilang bersama rekan bisnis beserta sopirnya, Noval Alkatiri dan Ismail.
Tahun itu segala upaya Laila lakukan untuk menemukan Dedi, mulai lapor kepada kepolisian hingga siaran langsung di TV bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Bahkan ia menyewa pengacara meski akhirnya disetop karena tak kunjung ada perkembangan yang berarti.
“Kalau ada sama negara, saya titip, tapi tolong untuk dibiarkan pulang ke Kebon Nanas, jangan dihalangi, saya titip untuk barangkali ada kejadian hal yang tidak baik,” kata Laila menyoal pesannya saat siaran langsung di TV pada 1998.
Dedi Hamdun orang yang berpengaruh dan memiliki banyak pengikut. Dedi juga dikenal hampir setiap bulan membagikan beras kepada warga miskin sekitar Jakarta Timur. Setidaknya hal tersebut yang diungkapkan Ayub—bukan nama sebenarnya—teman Dedi, yang mengenalnya lebih dari 20 tahun sejak di Ambon.
Pada 1997 kala massa PPP membeludak untuk berkampanye di Jalan Otista Raya, ia bersama Dedi kerap bercengkerama di pinggir jalan sembari menontonnya. Bahkan, tiga hari sebelum Dedi menghilang, itulah kegiatan terakhir yang dilakukan Ayub bersama Dedi.
“Memang dari zaman dulu dia (Dedi) simpatisan PPP. Orangnya agak-agak fanatik sama PPP. Karena mungkin gambarnya (bendera) Ka’bah, karena kan Kebon Nanas, Jakarta Timur, wilayah PPP semua itu,” ujar Ayub kepada reporter detikX.
Senada dengan Ayub, Hamdun Saleh Helmy, kakak kandung Dedi Hamdun, mengatakan hal yang serupa. Sebagai simpatisan, Dedi cukup sering mengikuti kegiatan kampanye PPP.
“Kalau ada pawai, ikut. Beberapa kali ditangkap karena pawai itu. Sampai lima kali dibawa ke Kodim. Saya pernah besuk mereka, saya (ikut) dijebloskan, di depan Stasiun Jatinegara itu. Habis itu dioper ke Polda,” kenang Helmy.
Helmy menjadi anggota keluarga terakhir yang ditemui Dedi sebelum menghilang. Meski kini sudah berusia 70 tahun, Helmy masih ingat betul ia menemui adiknya di kantornya yang berada di Tebet. Dedi lantas meninggalkan Helmy terlebih dahulu dan pergi bersama Noval Alkatiri dan sopirnya, Ismail.
Kabar ganjil menghilangnya Dedi, Noval, dan Ismail mula-mula ia peroleh dari orang tua Noval, yang lebih dahulu melaporkan ke Polda karena Noval tak bisa dihubungi.
“Orang tua Noval, Pak Said ini, setiap kali komunikasi sama Noval. Tengah malam tidak ada komunikasi, besoknya melaporkan ke Polda,” cerita Helmy.
Baca Juga : Telepon Terakhir dan Derita Keluarga Hamdun
Berbeda dengan Said, Helmy baru melaporkan hilangnya Dedi ke Polda Metro Jaya tiga hari kemudian dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Tak sampai di situ, segala upaya Helmy lakukan bulan demi bulan.
Ia bersama Munir melalui KontraS terus melakukan upaya pencarian, mulai mendatangi petinggi ABRI hingga setiap pergantian pemerintahan menuntut untuk memberitahukan keberadaan adiknya.
“Kalau masih hidup, di mana? Kalau sudah meninggal, di mana dimakamkan?” kata Helmy mengulang apa yang ia tanyakan kepada pemerintah dari tahun ke tahun.
Kisah menyoal Dedi Hamdun bahkan teramat sedikit didengar oleh para korban penculikan yang telah kembali. Raharja Waluya Jati, salah seorang korban yang dulu merupakan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), bercerita, ketika sampai di sel hingga ia dikeluarkan, ia tak melihat Dedi Hamdun.
Raharja hanya sempat mendengar bahwa Dedi Hamdun pernah berada di salah satu sel dari Pius Lustrilanang dan Desmond Junaidi Mahesa di Pos Komando Taktis (Poskotis) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD di Cijantung, Jakarta Timur.
“(Biasanya) yang lebih lama di tempat penyekapan itu cerita ke yang baru datang. Cerita (Dedi Hamdun) di dalam sel itu dari Yani Afri sama Sony. Kalau tidak salah, soal Dedi Hamdun ini dari Yani Afri. Yang dapat cerita Dedi dari Yani Afri waktu itu Pius Lustrilanang,” kata Jati kepada reporter detikX melalui sambungan telepon.
Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban