Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 10 Juli 2023Melalui sebuah pembicaraan telepon, Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali membuat janji untuk bertemu dengan Yenny Wahid. Pada 17 Juni lalu, ia akhirnya berkesempatan bertamu ke Ciganjur, menemui anak ke-2 mantan Presiden RI Gus Dur alias Abdurrahman Wahid tersebut. Pertemuan itu digadang-gadang sebagai upaya Ali mempromosikan Yenny menjadi bakal calon wakil presiden pendamping Anies Baswedan pada Pilpres 2024.
Ali mengaku sudah kesekian kali bertemu dengan Yenny Wahid. Ia tak menampik pertemuan-pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu turut menyertakan pembahasan politik.
"Kami ngobrol di meja makan. Ya (membahas) politik kebangsaan," ucap Ali kepada reporter detikX.
Tidak berhenti di sana. Sekitar pukul 13.00 WIB pada Selasa 23 Juni, sebelum berangkat haji esok harinya, Ali kembali bertemu dengan Yenny. Pertemuan yang digelar selama satu jam itu berlangsung di kediaman kakek Yenny, di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Selain untuk berpamitan sebelum berangkat ke Tanah Suci, sambil mencicipi suguhan kopi dan tiga jenis kue basah, Ali mengaku juga berbincang mengenai kondisi politik terkini bersama Yenny.
“Kami bicara tentang menghindari politik identitas,” kata Ali.

Pertemuan Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali dengan Yenny Wahid alias Zannuba Ariffah Chafsoh, pada Jumat (23/6/2023).
Foto : Instagram @madtu_madali
Ia dan Partai NasDem mengaku perlu menjalin komunikasi dengan Yenny Wahid, yang dianggap sebagai salah satu tokoh nasional. Walaupun demikian, Ali menolak jika dikatakan bahwa pertemuan tersebut murni membahas soal tawaran sebagai cawapres Anies. Meski begitu, nama Yenny Wahid muncul setelah Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief menggelontorkan ultimatum karena Anies tak kunjung menentukan cawapres, sehingga membuat elektabilitas tiga partai pengusungnya merosot. Jika sampai Juni tak ada cawapres, kata Andi, Partai Demokrat mungkin akan melakukan evaluasi secara menyeluruh.
Apakah AHY berpotensi? Bisa jadi. Apakah AHY satu-satunya? Belum tentu."
Di sisi lain, Ahmad Ali menampik kabar bahwa bakal cawapres Anies telah dikerucutkan ke satu nama oleh Tim Delapan. Tim Delapan selama ini mengemban tugas mencari bakal pendamping Anies untuk 2024. Sedangkan Ali tak termasuk di dalamnya.
Saat ini, baik Anies maupun Koalisi Perubahan untuk Persatuan disebut masih terbuka terhadap sejumlah nama sebagai bakal cawapres. Adapun Ahmad Ali juga tidak membantah bahwa dua tokoh nahdliyin turut masuk dan dipertimbangkan sebagai bakal cawapres Anies. Dua tokoh yang dimaksud adalah Yenny Wahid serta Khofifah Indar Parawansa.
"Soal nama-nama yang beredar, seperti Pak AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), Bu Khofifah, Bu Yenny, mereka memiliki kapabilitas. Ibu Khofifah dengan segala kemewahan yang dimiliki di Jawa Timur, naif kalau kemudian tidak diperhitungkan," ucap Ali.
Ali mengatakan, bagi partainya, cawapres yang tepat bagi Anies adalah yang mampu memenuhi kebutuhan elektoral. Dengan kata lain, menambal kekurangan Anies, terutama di daerah dengan jumlah pemilih yang banyak, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hal itu karena ia tidak ingin hanya mampu memenuhi syarat maju pilpres, tetapi kalah pada akhirnya.
Ia menjelaskan saat ini Anies di atas kertas lemah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk itu, penting baginya untuk mencari pasangan yang mampu menguatkan suaranya di dua daerah tersebut. Terlebih, kemenangan pilpres sangat bergantung pada perolehan suara di Jawa. Untuk itu, sebaiknya pemilihan cawapres tidak semata-mata berdasarkan partai. Namun harus berdasarkan temuan riset saintifik.
"Apakah AHY berpotensi? Bisa jadi. Apakah AHY satu-satunya? Belum tentu. Kalau seseorang diambil karena faktor partai, itu nanti akan jadi keruwetan ya di internal partai. Karena kenapa, partai lain memaksakan orang untuk itu, kan," ujarnya.
Sementara itu, Ali juga masih berpendapat sebaiknya pendamping Anies berasal dari kalangan di luar partai koalisi perubahan. Hal itu ia sebut sesuai dengan kriteria cawapres yang disodorkan oleh Anies, yaitu mampu menjaga stabilitas koalisi. Artinya, menghindari sosok yang relatif hanya mewakili kepentingan satu partai saja di dalam koalisi. Dengan adanya sosok di luar ketiga partai, koalisi diharapkan lebih stabil.
Ali secara khusus menyebut dua kriteria utama pendamping Anies. Pertama yaitu membantu Anies menguatkan suara Anies di Jawa. Kedua, bisa mengelola internal koalisi supaya tidak ada yang merasa diuntungkan atau dirugikan.
Saat ditanya apakah Yenny adalah sosok yang potensial sebagai wapres Anies, Ali tidak membantah. Ia mengatakan latar belakang Yenny sebagai tokoh nahdliyin mampu melengkapi Anies, yang selama ini diidentikkan dengan kalangan Islam kanan atau Islam politik. Terlebih, Yenny merupakan keturunan langsung pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asy'ari.
Selain itu, ia menyinggung nama Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Muslimat NU selama empat periode, yang saat ini menjabat Gubernur Jawa Timur. Khofifah, dianggap sebagai salah satu cawapres ideal Anies karena memiliki basis kultural yang kuat di Jawa Timur serta punya pengalaman kepemimpinan.
Ali mengatakan sebelumnya beberapa kali bertemu dengan Khofifah. Namun, karena kesibukan, ia belum sempat bertemu lagi dalam waktu dekat. Ia berharap dapat bertemu dan berdiskusi dengan Khofifah ke depan.
"Saya pasti berharap suatu waktu punya kesempatan berdiskusi dengan beliau (Khofifah)," ucapnya.
Berseberangan dengan itu, Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan Anies telah mengantongi satu nama sebagai bakal cawapres. Nama itu tinggal menunggu waktu yang tepat untuk segera diumumkan.
"Udah. Udah clear. Mas Anies juga udah punya satu nama, kok," ucapnya kepada reporter detikX.
Zaky mengatakan pihaknya menyerahkan penentuan cawapres kepada Anies. Namun Demokrat juga selalu mengingatkan, selama ini menurut berbagai survei, dari sekian nama yang muncul, Agus Harimurti Yudhoyono menduduki posisi atas sebagai cawapres ideal bagi Anies.
Ia menambahkan, Anies membutuhkan pendamping yang memiliki pengalaman memimpin partai sekaligus elektabilitas kuat. Selain itu, dibutuhkan wakil yang mampu menggerakkan mesin politik partai di berbagai daerah.
"Ini kan koalisi mau jalan katanya. Kan ada Mas AHY kok di sini elektabilitas tinggi, punya mesin partai, ya kan, pendukung juga banyak anak muda, segmen yang Mas Anies nggak punya, kan begitu. Tapi kalau bagi kami, sudah tuntas urusan cawapres, silakan saja Mas Anies yang memutuskan," jelas Zaky.
Walaupun disebut telah mengantongi satu nama, nyatanya tak kunjung ada deklarasi terbuka dari Koalisi Perubahan. Zaky tidak membantah bahwa masih terjadi diskusi dan tarik ulur di internal koalisi, terutama terkait sejumlah usulan nama baru seperti Yenny dan Khofifah.
Bagi Demokrat, usulan-usulan tersebut boleh saja disampaikan. Hal itu dipandang sebagai tanda bahwa seisi koalisi menunjukkan keseriusan memenangkan Anies Baswedan. Namun ia mengingatkan untuk mengacu bakal calon yang mampu membawa kemenangan bagi Anies.
"Kalau kami sih pasangan yang mau membawa kemenangan itu yang mana. Itu saja. Semua itu ada hitung-hitungannya (survei elektabilitas), kok," ucapnya.
Sementara itu, juru bicara Anies Baswedan, Surya Tjandra, membenarkan bahwa saat ini memang banyak usulan nama terkait cawapres Anies. Termasuk nama-nama yang sudah beredar di publik, seperti AHY, Khofifah, dan Yenny Wahid. Usulan-usulan itu datang dari ketiga partai di koalisi perubahan.
"Memang nama-nama yang di media tuh bener. Ada Mbak Yenny, terus ada macam-macam ya," ucapnya kepada reporter detikX.
Di sisi lain, partai-partai juga disebut telah menyodorkan nama masing-masing kepada Anies. Namun ketiganya masih terus melakukan negosiasi. "NasDem sudah menyerahkan (nama) kepada Anies, terus Demokrat masih negosiasi, terus PKS masih nyerahin tapi juga ada negonya. Itu proses yang wajar. Nanti, begitu diputuskan oleh capres, nggak akan ada lagi ribut," ujarnya.
Surya mengaku senang bila memang ada cawapres perempuan. Namun harus dipastikan bahwa bakal calon tersebut memiliki tiket politik. Menurutnya, dalam memilih cawapres, penting mengedepankan pertimbangan rasional. Namun pertimbangan emosional juga penting untuk menjaga soliditas politik.
Adapun nama-nama bakal cawapres tersebut masih diproses dan dipertimbangkan oleh Anies Baswedan. Menurut Surya, Anies ingin pasangan yang tidak hanya mampu merebut kekuasaan, tetapi juga dapat menjalankan program kerja.
"Pasti tidak akan satu ya yang dipertimbangkan, tapi pilihannya satu. Dan yang jelas siapa pun yang dipilih, akan ada yang suka dan yang nggak. Itu sudah pasti di siapa pun orang yang ada yang sempurna," tuturnya.
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan setidaknya ada tiga nama kuat yang dipertimbangkan sebagai cawapres Anies hasil dari usulan para partai. Ketiganya adalah Ahmad Heryawan, Khofifah, dan AHY. PKS mulanya mengusulkan nama Aher. Namun, menurut Mardani, saat ini sudah dipilih satu nama. Pihaknya berharap cawapres yang dipilih Anies berasal dari kalangan internal ketiga partai. Hal itu demi menjaga soliditas koalisi perubahan.
"Ya tidak akan jauh dari apa yang beredar. Ada Khofifah, ada Mas AHY, ada Kang Aher, itu tiga," ucapnya kepada reporter detikX.
Baca Juga : Ultimatum dari Dalam Koalisi Anies
Sementara itu, Ketua DPP PKS sekaligus anggota Tim Delapan Koalisi Perubahan, Almuzzammil Yusuf mengatakan berbagai faktor telah dipertimbangkan untuk menyeleksi kandidat bakal cawapres Anies Baswedan. Termasuk terkait elektabilitas.
“Sepulang Anies dari Makkah nanti (akan diumumkan), selepas pelaksanaan ibadah haji," ucap Almuzzammil kepada reporter detikX.
Di sisi lain, Partai NasDem sangat terlihat terus mencari sosok cawapres ideal yang relatif bisa menambal kekurangan Anies selama ini. Terutama posisi Anies di basis-basis nahdliyin dan Jawa Timur. Itu menjadi alasan NasDem berulang kali menyebut sosok Khofifah sebagai nama yang potensial mendampingi Anies.
"Tapi karena gestur politik dari Khofifah itu kelihatan nggak terlampau tertarik, bahkan cenderung menolak halus ajakan itu, NasDem secara perlahan mulai mendekati Yenny Wahid," ucap Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno kepada reporter detikX.
Menurutnya, sosok Yenny diharapkan mampu menarik kekuatan politik NU. Di sisi lain juga mampu mengkonsolidasikan basis-basis politik di Jawa Timur, yang selama ini memang menjadi kelemahan Anies Baswedan.
Meski begitu, harus diakui, sekalipun NasDem berharap cawapres berasal dari kalangan NU, mereka harus hati-hati dan tidak boleh gegabah. Adi mengingatkan, walaupun tokoh penting di NU, elektabilitas nasional Yenny terhitung rendah. Namanya bahkan tidak muncul di beberapa survei yang digelar lembaga riset. Menurut Adi, hal itu terlalu berisiko bagi Anies.
"Jangan latah dengan NU-nya. Tapi kalau salah pilih figur NU-nya, ya sama saja tidak mendapatkan apa pun," ungkap Adi.
detikX telah berupaya menghubungi Yenny Wahid guna meminta keterangan terkait pertemuan dengan petinggi Partai NasDem. Sayangnya, hingga naskah ini tayang, Yenny masih menolak memberi penjelasan apa pun terkait pertemuan itu. Begitu juga dengan Khofifah, tidak memberi tanggapan saat kami mintai konfirmasi.
Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban