Spotlight

Amukan Tombak Gila di Nusa Tenggara

Anjing-anjing gila di NTT mengamuk dan menyerang ribuan warga. Sebanyak 10 orang meninggal dunia.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 27 Juni 2023

Namanya Tombak. Dia mati dibunuh warga Desa Fae, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 10 Februari 2023. Bangkai Tombak dikubur di belakang dapur rumah si empunya—seorang perempuan paruh baya—bernama Martha Missa. Anjing kampung itu terpaksa dibunuh lantaran belakangan perilakunya kerap meresahkan warga.

“Menunjukkan gejala agresif, menggigit, dan lari sembarangan,” tutur Kepala Satuan Tugas Rabies Timor Tengah Selatan Ady Tallo kepada reporter detikX pekan lalu.

Sebelum mati, Tombak merupakan anjing peliharaan yang penurut. Martha kerap melepaskan Tombak di lingkungan sekitar rumahnya. Warga Desa Fae cukup akrab dengan Tombak lantaran kerap terlihat bermain bersama anjing-anjing lainnya. Di NTT, anjing-anjing kampung memang hidup berdampingan dengan masyarakat.

Sampai pada awal Februari 2023, perilaku Tombak mulai aneh. Tombak kerap menyendiri di bawah pohon rindang atau tempat-tempat teduh lain yang tidak terkena sinar matahari. Lidah Tombak terus menjulur seperti anjing dehidrasi. Air liur tidak henti-hentinya menetes dari mulutnya yang selalu menganga.

Anjing terjangkit rabies yang diduga menggigit seorang bocah berusia tujuh tahun di Fautmolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. 
Foto : Yufen Bria/detikBali

Saban kali ada orang yang melintas, Tombak bakal menyalak dengan keras dan mengejar. Tombak menggila. Dia menerkam, menggigit, dan mencakar sembilan warga Desa Fae. Tombak tidak memilih bagian tubuh mana yang akan dia gigit. Tangan, jari, kepala, bokong, bahkan muka turut menjadi sasaran amuk Tombak. Akibat perilaku Tombak itu, warga Desa Fae pun menangkap dan memukulnya bertubi-tubi dengan kayu hingga tewas.

Dari total gigitan hingga meninggal dunia, paling banyak anak-anak karena paling dekat atau sering bermain dengan anjing.”

“Martha Missa juga kena gigit,” tutur Ady. Martha meninggal dunia pada 27 Februari 2023, menyusul anjing kesayangannya itu. Dia diduga meninggal dunia lantaran tertular virus rabies dari Tombak.

Empat bulan setelah meninggalnya Martha, satu korban gigitan Tombak lainnya, Franky Misa, juga meninggal dunia pada Jumat, 23 Juni 2023. Bocah berumur 8 tahun itu meninggal setelah dirawat sembilan hari di Puskesmas Oinlasi, Kabupaten TTS, NTT. Franky juga diduga meninggal dunia akibat virus rabies.

Gejala rabies pada Franky mulai terlihat sejak 13 Juni lalu. Mulanya Franky menderita demam parah dan terus gelisah. Saat diperiksa petugas kesehatan Puskesmas Oinlasi, suhu tubuh Franky bahkan sempat mencapai 39,3 derajat Celsius. Suhu tubuh yang tinggi itu kerap membuat Franky berhalusinasi.

Kondisi Franky lemas dan tidak berdaya. Dia sudah tidak bisa lagi menerima air masuk ke dalam tubuhnya. Ketika diberi air minum, tubuh Franky bakal gemetar tidak karuan. Franky bahkan terus memberontak dan tampak ketakutan saat petugas kesehatan mengipasinya dengan kertas. Dua gejala yang identik dengan penyakit rabies: takut angin dan air.

Petugas kesehatan Puskesmas Oinlasi sudah berupaya mengambil tindakan paliatif suportif untuk meredakan sakit yang diderita Franky. Tindakan ini biasanya dilakukan kepada penderita kanker dengan pemberian obat pereda nyeri. Franky disuntik dengan cairan intravena selama 24 jam dan diberi obat penurun panas.

Sayangnya, segala upaya itu sudah terlambat. Kondisi Franky tidak juga membaik. Suhu tubuhnya masih di atas 39 derajat Celsius. Tubuh Franky lemas, bibirnya kering, dan mulutnya terus-menerus mengeluarkan liur. Sesekali, Franky menceracau semaunya. Dia juga kerap berteriak seperti orang yang sedang ketakutan.

“Kondisinya tidak berubah hingga meninggal dunia,” jelas Ady.

Nyawa Martha dan Franky tidak tertolong lantaran keduanya terlambat mendapatkan vaksin antirabies (VAR). Sementara itu, kondisi tujuh korban amukan Tombak lainnya masih terselamatkan dan enam di antaranya sudah menerima suntikan VAR.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan keterlambatan pemberian vaksin kepada korban gigitan anjing rabies memang berakibat fatal. Korban gigitan anjing gila yang sudah menunjukkan gejala dan tidak divaksin nyaris mustahil bisa selamat.

Sebab, kata Imran, rabies menyerang jaringan otak. Virus ini merangsek perlahan masuk ke otak melalui saraf posterior. Virus akan berkembang biak selama perjalanannya menuju otak dalam waktu paling cepat dua pekan, paling lambat dua tahun. Selama perjalanan virus menuju otak, penderita rabies tidak akan menyadari sebetulnya di dalam tubuhnya ada virus yang tengah berkembang biak.

Barulah ketika sudah mencapai otak dan beranak pinak dengan jumlah yang banyak, virus rabies akan menyebar ke seluruh jaringan tubuh dengan cepat. Virus menyebar ke hampir setiap organ tubuh, mulai ginjal, paru-paru, hati, dan organ-organ penting lainnya. Saat itulah penderita rabies baru akan menunjukkan gejala-gejala seperti yang dialami Franky. Persis, kata Imran, seperti anjing gila.

“Ketika sudah ada gejala itu, vaksin dan serum tidak berguna lagi,” tutur Imran saat berbincang dengan reporter detikX pada Kamis, 22 Juni 2023.

Di NTT, teror anjing gila memang tengah menjadi problem serius. Kepala Dinas Kesehatan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil NTT Ruth Laiskodat mengatakan, baru setengah tahun saja, korban meninggal dunia akibat rabies di NTT sudah mencapai 10 orang. Lebih tinggi dari catatan sepanjang tahun lalu, yang memakan korban sembilan orang. 

“Dari total gigitan hingga meninggal dunia, paling banyak anak-anak karena paling dekat atau sering bermain dengan anjing,” kata Ruth kepada reporter detikX pada Jumat, 23 Juni lalu.

Dari Januari 2023 sampai sekarang, tercatat ada total 5.940 gigitan anjing gila di NTT. TTS menjadi daerah yang paling banyak mendapatkan serangan anjing gila. Di kota ini, anjing-anjing gila berkeliaran di total 29 kecamatan dan 148 desa.

Kecamatan Amanatun Selatan menjadi yang paling banyak menerima teror dengan total 165 gigitan. Kondisi ini bahkan sampai membuat masyarakat desa di Kecamatan Amanatun Selatan takut melakukan aktivitas di luar rumah.

Di Desa Fenun, Kecamatan Amanatun Selatan, misalnya. Seorang warga bernama Dominggus Taneo, 50 tahun, tidak berani lagi datang ke kebun untuk memanen buah-buahan yang ditanamnya sendiri. Segala aktivitas harian, kata Dominggus, menjadi terhambat, termasuk aktivitas memangkas rumput untuk pakan ternak.

“Kami diresahkan. Ke mana-mana harus bawa kayu, parang, katapel,” tutur Dominggus kepada kontributor detikX di NTT, pekan lalu.

Kekhawatiran Dominggus cukup beralasan lantaran di Desa Fenun memang sudah banyak juga warga yang menjadi korban gigitan anjing gila. Salah satu korban gigitan anjing gila itu adalah Petronela Misa. Petro diserang anjing peliharaannya sendiri pada 19 Mei 2023.

Mulanya, kata Petro, anjing yang dia beri nama Panaf itu menerkam dan hendak menggigitnya di bagian leher. Namun Petro berhasil menangkis gigitan itu tangan kirinya. Walhasil, tangan kiri Petro pun sobek lantaran gigitan Panaf. Gigitan itu bahkan sampai menembus otot tangan kiri Petro. Panaf merupakan bahasa NTT, yang berarti hidung.

Setelah digigit Panaf, Petro merasakan gejala demam selama dua hari. Kepalanya pusing bukan main. Beruntung, saat itu Petro berhasil tertolong lantaran cepat mendapatkan VAR. “Au nabenat kasa fa, mes hen mui sa sa nbi au aoke au eut kit he tahin (sekarang sudah tidak terasa apa-apa lagi, kalau terasa apa-apa di saya pasti ceritakan),” ungkap Petro.

Keresahan warga akan adanya teror anjing gila itu pun sudah ditangkap oleh Kepala Desa Fenun, Antonius Tega. Antonius berencana menerbitkan peraturan desa untuk mencegah teror anjing rabies di desanya terjadi berulang. Perdes itu bakal mewajibkan para pemilik anjing untuk mengikat dan mengandangkan anjingnya.

Para pemilik anjing yang tidak patuh terhadap peraturan itu, kata Antonius, bakal dikenai denda Rp 4-6 juta. Nilai itu setara dengan biaya pemberian SAR dan VAR yang dilakukan secara mandiri. Denda ini pulalah yang nantinya bakal digunakan perangkat desa untuk membiayai korban gigitan anjing milik si empunya.

“Sudah saya sampaikan ke setiap kepala dusun dan kepala RT agar kami mulai rapat untuk menyusun perdes dan kami akan libatkan semua warga,” kata Antonius.

Saat ini, Pemerintah Provinsi NTT juga sudah mulai mengambil tindakan. Kepala Dinas Peternakan NTT Johanna E Lisapaly mengatakan pemerintah kini tengah dalam proses perencanaan pengadaan 17.500 dosis vaksin untuk hewan pembawa rabies (HPR). Vaksin-vaksin ini nantinya bakal didistribusikan ke beberapa pulau, termasuk Flores, Lembata, dan TTS.

Dari pusat, Kementerian Pertanian dan sejumlah pemerhati hewan juga tengah berkoordinasi dengan Badan Kesehatan Hewan Dunia untuk memohon bantuan vaksin rabies sebanyak 200 ribu dosis. Rencananya, 100 ribu dosis untuk tahap pertama bakal dikirim dalam waktu dekat.

“Dengan demikian, jumlah populasi anjing di TTS sekitar 60-70 ribu ekor bisa mendapat vaksin yang bertujuan untuk memutus mata rantai penularannya. Sedangkan sisanya nanti didistribusikan ke Flores dan Lembata,” pungkas Johanna.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila, Made Wijaya Kusuma (Kontributor Buleleng untuk detikBali), Yufen Bria (Kontributor Kupang untuk detikBali), I Putu Budikrista Artawan (Kontributor Klungkung untuk detikBali)
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE