Spotlight

Lubang Menganga Menumpas Anjing Gila

Banyak korban meninggal terjangkit rabies karena tak segera diberi vaksin. Penyebabnya, tenaga medis secara kaku mengikuti aturan usang dari Kemenkes. Revisi akan dilakukan terkait aturan vaksin hanya bisa diberikan ke korban setelah hewan penggigit mati.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 26 Juni 2023

I Gede Adinata menggebrak salah satu meja di puskesmas. Dia kesal karena anaknya, Ni Made Keyla Maheswari, tak mendapatkan pelayanan yang baik dari Puskesmas II di Desa Tegak, Klungkung, Bali, tersebut. Selain itu, anak perempuannya yang digigit anjing tak segera diberi vaksin antirabies (VAR). Pihak puskesmas justru meminta agar anjing penggigit dipantau secara mandiri. Jika dalam waktu 14 hari anjing itu tak mati, korban tak akan diinjeksi VAR.

Gede Adinata sudah berulang kali memohon agar anaknya diberi VAR, tetapi tetap gagal. Sedangkan Keyla saat itu terus-terusan menangis karena kesakitan. Seekor anjing menggigit betis kanan anak ini. Akibatnya, terdapat tiga luka gores tipis yang hanya tampak memar serta satu goresan kecil yang membuat kulitnya mengelupas dan mengeluarkan sedikit darah.

Setiap hari secara rutin keluarga korban memantau anjing yang menggigit Keyla. Anjing tersebut ada pemiliknya, tetapi kerap dilepaskan dari kandang. Hingga 10 hari berlalu, keluarga korban bingung tak melihat anjing tersebut lagi. Saat ditanya, pemiliknya mengatakan anjingnya dipindah dan kondisinya sehat-sehat saja.

Setelah itu, semua berjalan nyaris baik-baik saja. Kemudian keadaan berubah ketika akhir Mei. Keyla mulai sakit panas, kejang-kejang, dan kesusahan kencing. Dia menangis terus menahan sakit. Akhirnya Keyla dibawa ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Krista, paman korban, membantu memegang lengan Keyla. Saat itu dokter kesulitan memasang infus karena Keyla terus memberontak. Alat bantu pernapasan juga dipasang ke tubuh Keyla. Kondisinya terus memburuk. Dia mengalami hipersalivasi atau meningkatnya air liur berlebihan hingga keluar dari mulut tanpa disadari.

"Dua bungkus tisu habis dalam satu jam," ungkap Krista. "Keluarnya air liur itu terus-menerus, sementara dokter menunggu hasil diagnosis darah."

Karena dilacak di kejadian dua bulan lalu. Kejadian dua bulan lalu itu ya memang digigit anjing. Cuma tidak mendapat vaksin di puskesmas."

Perburukan terjadi kian cepat. Keyla dilarikan ruang perawatan intensif atau ICU. Tubuhnya diikat karena terus memberontak. Tenaga medis memberinya suntikan obat penenang. Ini karena tubuh Keyla kerap memberontak dan sudah tak ingat siapa-siapa lagi.

"Kondisi tubuh (Keyla) mulai menghitam, dan kuku tangan serta kaki membiru seperti keracunan, bahkan darah yang dari suntikan infus juga menghitam," ujarnya.

Hingga akhirnya Keyla tutup usia. Gede Adinata menuturkan, setelah melakukan pengecekan, dokter menduga Keyla terjangkit rabies alias penyakit anjing gila. Gejala klinis yang diderita Keyla: sesak napas, kejang otot, takut air atau hidrofobia, takut angin atau udara segar atau aerofobia, dan air liur yang berlebihan atau hipersaliva.

"Karena dilacak di kejadian dua bulan lalu. Kejadian dua bulan lalu itu ya memang digigit anjing. Cuma tidak mendapat vaksin di puskesmas," terangnya.

Kesalahan Tak Langsung Diberi VAR

Saat di ruang jenazah, paman Keyla menghubungi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta. Dia menceritakan akar masalah yang mengakibatkan kematian keponakannya karena tak bergegas diberi VAR. Puskesmas II Klungkung memang merujuk pada aturan pelaksanaan teknis dalam buku saku Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2016. Isinya terkait petunjuk teknis pelaksanaan kasus GPHR di Indonesia.

Mulai saat itu, secara lisan Nyoman Suwirta memberikan perintah kepada Dinas Kesehatan Klungkung agar seluruh korban gigitan anjing segera diberi vaksin. Jadi tak perlu menunggu hewan tersebut dalam 14 hari mati atau tidak.

“Jangan sampai ada kasus-kasus baru lagi di Klungkung akibat aturan-aturan yang memberatkan masyarakat,” kata Suwirta.

Ternyata ada kasus baru. Kepala Dinas Kesehatan Bali I Nyoman Gede Anom menegaskan ada tiga kasus kematian rabies akibat korban tidak mendapatkan VAR. Ini di luar kasus Keyla, terdapat bocah berusia 5 tahun di Buleleng dan dua wanita asal Jembrana dengan permasalahan serupa.

"Kalau digigit anjing peliharaan, untuk VAR dilakukan sekali sambil melihat kondisi anjing. Kalau anjing sehat, VAR disetop. Tapi, kalau anjing liar dan tidak tahu anjingnya ke mana, pasien harus disuntik VAR pada hari pertama sebanyak dua kali, lalu di minggu berikutnya," kata Gede Anom.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi setuju atas sikap Bupati Klungkung, meskipun melangkahi petunjuk teknis buku saku Kemenkes tahun 2016. Menurutnya, VAR bisa langsung diberikan tanpa menunggu anjing penggigit mati.

“Ya sebenarnya itu situasional ya. Jadi SOP-nya itu bunyinya adalah kalau di daerah endemis itu tinggi, kemudian kita tidak bisa memastikan anjingnya dia sudah tervaksin atau belum, ya pasien divaksin saja,” tutur Imran kepada reporter detikX pekan lalu.

Sayangnya, peraturan situasional tersebut tidak pernah ditulis secara resmi dalam pedoman yang selama ini bisa diakses publik. Hal itu hanya diberitahukan dalam bentuk surat kepada daerah berstatus endemis. Buntutnya, kini sedang digodok perubahan-perubahan baru dalam pedoman tata laksana penanganan gigitan hewan penular rabies di pusat. 

“Itu nanti akan kami tambahkan, yang di daerah endemis itu kita bisa memberikan vaksin tanpa melihat adanya hewannya mati atau tidak,” ujarnya.

Pemberian VAR terhadap korban gigitan anjing memiliki potensi kesembuhan yang tinggi. Petronela Misa, misalnya, warga berusia 58 tahun, digigit anjing di lengannya. Setelah diberi VAR sebanyak dua kali, dia tak lagi mengalami gejala klinis demam dan pusing. Warga Desa Fenun, Kecamatan Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, itu hanya tinggal merasakan sakit di sekitar luka bekas gigitan.

"Saat ini bekas gigitannya sudah kering, tapi masih sakit," ujar Petronela.

Begitu juga anak yang menjadi korban gigitan anjing, yaitu Tania Atti, berusia 3 tahun, dan Risna Tampani, berusia 4 tahun. Mereka tak lagi merasakan gejala penyakit rabies setelah diberi VAR. Tim detikX menggali informasi terkait kedua anak ini kepada orang tuanya.

Pentingnya Pencegahan dari Hulu

Kini di Indonesia terdapat 42.359 kasus gigitan hewan penular rabies (GPHR) dan 45 jiwa telah meninggal dunia. Bali dan Nusa Tenggara Timur menjadi wilayah dengan kasus rabies tertinggi di Indonesia. Sejak awal tahun hingga kini, di Bali terdapat 19.035 kasus dan NTT 5.113 kasus GPHR. Angka tersebut kami dapatkan dari Kemenkes per 15 Juni 2023.

Sedangkan populasi anjing di Bali ialah 530.813 ekor. Di NTT terdapat populasi anjing sebesar 660.913 ekor. Keduanya memiliki angka perbandingan 8:1 dari jumlah populasi manusia di provinsinya. Angka estimasi populasi tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2018. Untuk mengeliminasi rabies, populasi tersebut harus dikendalikan.

Sayangnya, menurut catatan Kementerian Kesehatan, cakupan vaksinasi hewan penyebab rabies yang dilakukan Kementerian Pertanian masih tergolong rendah, yakni rata-rata hanya 10-20 persen setiap tahunnya. Ini jadi penyebab angka vaksinasi hewan penular rabies tidak akan mencapai sesuai harapan.

“Karena vaksinasi hewan penyebab rabies rendah cakupannya, jadi naik lagi dia kasusnya,” terang Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi.

Sedangkan Kementerian Pertanian mengakui jumlah vaksin yang disiapkan memang belum mencukupi. Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Nuryani Zainuddin menjelaskan, saat ini pihaknya tengah dalam proses mengakses vaksin rabies dari Badan Kesehatan Hewan Dunia atau World Organization for Animal Health.

“Dengan total 400 ribu dosis yang akan dikirimkan secara bertahap (ke daerah endemis),” kata Nuryani Zainuddin.

Baru-baru ini Kementerian Pertanian juga telah mengalokasikan vaksin rabies 198.700 dosis atau senilai Rp 6,92 miliar secara nasional. Tetapi jumlah tersebut tentu masih jauh dari target cakupan 70 persen, yaitu 7.115.138 dosis pada 2023.

I Gede Adinata tengah memeluk foto anaknya, Keyla.
Foto : I Putu Budikrista Artawan/detikBali

Oleh sebab itu, dengan keterbatasan anggaran pusat dalam penyediaan vaksin anjing, “Pemerintah mendorong daerah untuk mengakses anggaran yang tersedia, bisa melalui dana desa, dana siap pakai, atau mekanisme penganggaran lain yang diperbolehkan,” ujarnya.

Pemerhati rabies sekaligus Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata Asep Purnama menilai refocusing anggaran pada COVID-19 pada tahun-tahun sebelumnya turut memangkas anggaran yang dialokasikan untuk penyakit lain. Akibatnya, secara bertahap, cakupan vaksinasi menurun dan tak bisa optimal serta membuat infeksi rabies semakin luas.

Kasus gigitan hewan penular rabies memang tampak menurun 2020 dan 2021. Menurut Asep, hal tersebut karena interaksi minim manusia yang banyak menghabiskan waktu di dalam rumah alih-alih di luar sehingga meminimalkan pertemuan dengan anjing liar. Namun kemudian kasus kembali menanjak pada 2022, kala manusia kembali beraktivitas di luar ruangan.

“Bertemulah anjing yang terinfeksi rabies dengan manusia yang bergerak di luar ruangan. Puncak kasusnya pun terjadi pada 2023, ketika manusia hampir kembali 100 persen beraktivitas di luar ruangan,” jelas Asep, yang menjadi pengamat rabies sejak 2015 di Flores.

Asep menegaskan mengatasi kasus rabies mesti berfokus dan serius pada pencegahannya, yakni dengan berkomitmen memvaksin hewan penular rabies hingga lebih dari 70 persen.

“Intinya, kita harus mengutamakan di hulu, di anjingnya itu. Manusia juga perlu supaya tidak meninggal. Tapi, kalau kita berfokus pada manusia, itu sama seperti kita penjaga gawang, kita fokus pada pertahanan terakhir,” tandasnya.


Reporter: Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Made Wijaya Kusuma (Kontributor Buleleng untuk detikBali), Yufen Bria (Kontributor Kupang untuk detikBali), I Putu Budikrista Artawan (Kontributor Klungkung untuk detikBali)
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE