Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 2 Mei 2023Wajah Ginanjar, 18 tahun, tampak bingung. Ia celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Di dadanya, dia memeluk tas punggung yang tidak terlalu besar. Sesekali Ginanjar mengecek ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. Setelah beberapa saat, wajahnya kembali lesu dan bingung.
“Lagi nunggu kakak,” katanya kepada reporter detikX pada Jumat, 28 April lalu.
Hari itu Ginanjar baru saja tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan dengan menumpang bus antarkota dari Garut, Jawa Barat. Langkah pertamanya di Ibu Kota terpijak di Terminal Kalideres, Jakarta Barat.
Ginanjar datang ke Jakarta untuk memenuhi panggilan interviu di sebuah rumah makan di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Tawaran kerja itu didapat Ginanjar dari kakaknya, yang sudah lebih dulu tinggal di Jakarta
“Ya kalau mau ikut sama kakak sih, ayo,” kata Ginanjar mengulangi pernyataan kakaknya. “Gajinya sih sedikit, tapi kerjanya nggak capek.”

Potret Jakarta yang memesona bagi para perantau atau pendatang baru.
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom
Berbekal tawaran dan ongkos yang pas-pasan, Ginanjar akhirnya datang ke Jakarta untuk bertaruh nasib. Meski Ginanjar mengakui kakaknya juga tidak menjamin 100 persen bahwa dia bakal diterima kerja. Tapi Ginanjar bilang sudah siap untuk mengambil segala risikonya.
Di sini (Jakarta) mimpi tertinggi semua orang. Itu yang membuat orang berusaha menjajal potensinya di kota.”
Sebab, kata Ginanjar, kedatangannya ke Jakarta memang bukan hanya memburu pekerjaan, tetapi juga untuk mencari pengalaman. Lagi pula, Ginanjar mengenang, kakaknya bilang cari kerja di Jakarta lebih gampang dibandingkan di Garut, sehingga dia tidak perlu takut.
“Mumpung masih muda,” tutur Ginanjar.
Kedatangan perantau seperti Ginanjar saat arus balik Lebaran sebetulnya bukanlah fenomena baru di Jakarta. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati mengatakan tren maraknya pendatang ke Ibu kota terjadi jauh sebelum era Reformasi. Musababnya, pandangan sosial masyarakat yang menganggap bahwa penghidupan di kota pasti lebih baik dibandingkan di desa.
Paradigma itu kemudian semakin berkembang setelah banyak masyarakat di Indonesia memiliki televisi. Hampir semua, kata Devie, cerita kesuksesan di televisi digambarkan selalu berasal atau berada di kota.
Demikian juga ketika dunia telah memasuki era digital. Banyak YouTuber atau selebgram yang terkenal atau terbilang sukses juga mayoritas berada di Jakarta. Hal inilah yang akhirnya membuat Jakarta selalu memiliki daya tarik bagi orang-orang desa. Jakarta, kata Devie, bukan hanya tempat mencari kerja, tapi juga tempat menggapai mimpi.
“Di sini (Jakarta) mimpi tertinggi semua orang. Itu yang membuat orang berusaha menjajal potensinya di kota,” tutur Devie saat berbincang dengan reporter detikX beberapa waktu lalu.
Sekretaris Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertrans) DKI Jakarta Hedy Wijaya mengungkapkan, daya tarik ke Jakarta sebagai calon mantan ibu kota negara juga tetap mentereng lantaran tingkat kesempatan kerjanya yang cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada periode Agustus 2021 hingga Agustus 2022, tingkat kesempatan kerja di Jakarta bahkan mengalami peningkatan dari sebelumnya 91,5 persen menjadi 92,82 persen.
Angka ini menunjukkan, dalam periode tersebut, sekitar 93 dari 100 orang di Jakarta sudah memiliki pekerjaan. Jika dirinci, saat ini sebanyak 4.875.102 dari 5.252.396 angkatan kerja di Jakarta sudah memiliki pekerjaan.
Sisanya hanya 377.294 orang yang merupakan pengangguran atau belum bekerja. Angka pengangguran ini juga sejatinya sudah menurun 62.605 orang atau 14,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Namanya masih ibu kota,” tutur Hedy kepada reporter detikX. “Jadi memang tidak menutup kemungkinan pendatang itu pasti ada."
Meski demikian, tingginya kesempatan kerja ini sejatinya tidak membuat hidup di Jakarta terasa lebih mudah dibandingkan dengan di kota-kota lain. Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan, meski jumlah angkatan kerja di Jakarta cukup tinggi, masih banyak angkatan kerja di Jakarta yang bekerja di sektor informal.

Potret Jakarta yang menjadi target perantau.
Foto : Andhika Prasetia/detikcom
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS pada Agustus 2022 menunjukkan, dari total 4,88 juta pekerja di Jakarta, sekitar 38,6 persennya merupakan pekerja informal. Sementara itu, 63,2 persen merupakan pekerja formal.
Menurut Timboel, angka ini bukanlah porsi yang ideal untuk angkatan kerja formal dan informal. Sebab, umumnya pekerja informal di Jakarta masih memiliki penghasilan di bawah upah minimum regional. Dalam kata lain, mereka masih termasuk dalam golongan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Nah, masuknya angkatan kerja di daerah itu bukan berarti lapangan kerja formal. Dia lebih banyak mengisi lapangan kerja informal,” tutur Timboel kepada reporter detikX pada Kamis, 27 April lalu.
Tingginya jumlah pekerja informal yang berpenghasilan rendah itu juga sejatinya tergambar dari banyaknya peserta BPJS Kesehatan Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) di Jakarta. Iuran peserta BPJS Kesehatan PBPU dibayarkan oleh pemerintah daerah lantaran dianggap sebagai golongan masyarakat berpenghasilan rendah.
Asisten Deputi Komunikasi Publikasi dan Humas BPJS Kesehatan Agustian Fardianto mengatakan, per 1 April 2023, dari total 11.374.510 peserta BPJS Kesehatan di DKI Jakarta, 43,77 persen atau 4.978.539 di antaranya yang merupakan segmen PBPU. Selebihnya merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), Pekerja Penerima Upah (PPU), dan Bukan Pekerja (BP).
“Adapun untuk jumlah kuota peserta PBPU pemda yang didaftarkan oleh Pemprov DKI Jakarta ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan memperhatikan alokasi anggaran,” tulis Agustian melalui pesan singkat kepada reporter detikX pada Jumat, 28 April 2023.
Beratnya hidup perantau di Jakarta juga tergambar dari data Disnakertrans pada periode 2020-2023. Data tersebut menunjukkan bahwa ada 40-70 persen pendatang di Jakarta yang berpotensi hanya mengisi pekerjaan berpenghasilan rendah. Dalam kata lain, ada 40 ribu hingga 112.500 orang dari rentang 100-150 ribu perantau yang datang ke Jakarta yang berpotensi mendapat penghasilan di bawah UMR.
Padahal, bagi beberapa orang, penghasilan di atas UMR sekalipun terasa masih kurang untuk memenuhi biaya hidup di Jakarta. Yala, 22 tahun, misalnya. Mojang asal Bandung itu bekerja di sebuah perusahaan minuman dingin kekinian sebagai social media specialist dengan gaji Rp 5,6 juta per bulan. Dia juga turut mengambil kerja sampingan sebagai content creator dengan penghasilan rata-rata Rp 1,5 juta per bulan.
Penghasilan yang jika total Rp 7,1 juta ini, menurut Yala, masih belum cukup untuk memenuhi biaya hidupnya di Jakarta. Biaya kos, kata Yala, jadi yang paling menguras kantong. Sebulan, Yala harus membayar kos sekitar Rp 1,7 juta.
Baca Juga : Banjir Orang Miskin Baru Jakarta

Ilustrasi Jakarta yang diminati para perantau.
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom
Di luar itu, Yala juga harus membayar biaya listrik, binatu, dan kebutuhan toilet, yang jika ditotal Rp 500-700 ribu per bulan. Belum lagi biaya kecantikan yang, menurut Yala, juga cukup besar, sekitar Rp 600-700 ribu per bulan.
“Karena aku work from office (bekerja dari kantor) setiap hari, kurang-lebih ongkos Rp 500-700 ribu deh sebulan. Cuma ongkos dari kosan ke kantor doang,” tutur Yala kepada reporter detikX.
Selain kebutuhan-kebutuhan itu, Yala mengaku biaya makan cukup menguras kantong. Sehari, kata Yala, dia bisa mengeluarkan Rp 50 ribu untuk dua kali makan. Lalu, saat di kantor, Yala juga hampir selalu membeli kopi, yang harganya Rp 17 ribuan.
Ditambah lagi kebutuhan entertain untuk nong
Itulah mengapa Yala bilang penghasilan Rp 7,1 juta masih terasa kurang baginya. Malah terkadang dia juga masih meminta tunjangan uang dari orang tuanya di Bandung sebesar Rp 500-700 ribu per bulan.
Meski begitu, Yala mengaku tetap ingin tinggal di Jakarta. Sebab, di Jakarta, kata Yala, dia bisa mendapat pengalaman jauh lebih banyak dibandingkan saat di Bandung. Yala merasa, meski hidup di Jakarta lebih mahal, ilmu dan pengalaman yang didapat jauh lebih berharga.
“Meskipun memang kalau dari segi salary (gaji) belum benar-benar sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi kalau dari segi pengalaman, wawasan, knowledge, itu sudah benar-benar terpenuhi sih ekspektasinya,” pungkas Yala.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Cut Maulida Rizky (magang)
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban