Ilustrasi: Edi Wahyono
Selasa, 18 April 2023Curi start, tahun ini Ilham, 27 tahun, bersama seorang kawan memutuskan melintas di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) pada Minggu, 16 April 2023, malam guna menghindari puncak arus mudik. Tahun lalu dia merasakan betapa tenaganya terkuras karena mesti terjebak macet berjam-jam di Cipali.
Tak mau mengulangnya, Ilham merencanakan dengan matang perjalanannya kali ini dari Jakarta ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah. “Sebelum berangkat, kita cek dulu di Google Maps seberapa padat arah ke sana (Solo). Kalau jalan tolnya lancar, sekitar delapan hingga sembilan jam bisa sampai Solo,” kata Ilham melalui sambungan telepon kepada reporter detikX, Minggu, 16 April 2023.
Lantaran belum memasuki waktu libur cuti bersama perusahaan, yang seharusnya jatuh pada 19 April, Ilham bakal menyiasatinya dengan bekerja dari rumah selama sisa hari kerjanya. Berkumpul bersama keluarga menjelang Lebaran adalah momen manis yang ia tunggu-tunggu setelah sekian lama dalam perantauan.
Sudah lebih dari tiga kali Ilham melewati Tol Cipali untuk mudik Lebaran ke Solo. Baginya, berlalu lalang dari Jakarta ke Jawa Tengah paling ringkas memang melalui Tol Trans Jawa tersebut alih-alih Jalur Partai Utara (Pantura).
Saking biasanya lewat Tol Cipali, bahkan di luar momen Lebaran, Ilham tak pernah lupa mempersiapkan mobilnya untuk melintasi tol tersebut. “Diservis dulu. Nggak lupa cek kelengkapan ban serep, dongkrak. Terus juga persiapan fisik. Istirahat yang cukup. Dan jangan lupa bawa snack biar nggak bosan di jalan,” tutur Ilham.
Satu hal lagi paling penting bagi Ilham yang banyak disepelekan orang-orang adalah menyiapkan kartu e-toll sekaligus mengisi saldonya. Menurutnya, ini akan memperlancar antrean kala melewati gerbang tol tanpa menciptakan kemacetan.
Selain ihwal kemacetan, Ilham juga telah menyiapkan strategi untuk melintas di Tol Cipali dengan selamat. Tak dimungkiri, kabar kerap terjadinya kecelakaan di tol tersebut turut membuat Ilham waswas. “Antisipasinya, ya, bergantian (menyetir) sama teman. Kalau dua-duanya sudah benar-benar capek, ya, rehat di rest area. Intinya, santai saja tidak buru-buru, makanya berangkat lebih awal.”
Baca Juga : Hati-hati Mudik Lewat Cipali

Jalur Tol Cipali yang mayoritas lurus
Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar
Ilham merupakan satu di antara jutaan orang yang melintas di Tol Cipali setiap tahunnya untuk mudik Lebaran. Terbentang sepanjang 116,5 kilometer, tol ini melewati daerah di Jawa Barat, yakni Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, dan Cirebon. Jalur ini merupakan bagian dari sistem Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Merak (Banten) dan Banyuwangi (Jawa Timur).
Dilansir dari laman resmi PT Lintas Marga Sedaya (LMS), pembangunan Tol Cipali berlangsung sejak 2006 dan diresmikan pada 13 Juni 2015. PT LMS atau ASTRA Infra Toll Road Cipali menjadi perusahaan yang memegang konsesi Tol Cipali. Total biaya yang digelontorkan untuk pembangunan Tol Cipali setidaknya mencapai Rp 13,7 triliun.
Faktanya, proyek Tol Cipali jauh lebih lama tercetus dari tahun peresmiannya. Tercatat dalam Dinas Bina Marga Kabupaten Subang sejak 1996, Tol Cipali mulanya digagas sejak era pemerintahan Presiden Soeharto. Kendati demikian, implementasinya terhenti lantaran krisis moneter 1998.
Sayangnya, kesenyapan proyek Tol Cipali terus berlanjut hingga era pemerintahan Presiden BJ Habibie (1998-1999), Abdurrahman Wahid (1999-2001), dan Megawati Soekarnoputri (2001-2004). Baru pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014), pembangunan Tol Cipali mulai kembali dilaksanakan. Namun, lagi-lagi, beragam kendala membuat proyek tersebut tersendat. Salah satunya soal pembebasan lahan warga setempat.
Pada 2008, sejumlah santri dan pengurus pondok pesantren Cirebon memprotes pembangunan Tol Cipali. Proyek tol tersebut memang melintasi wilayah 32 pondok pesantren di Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Cirebon. Mereka mengkhawatirkan dampak pembangunan Tol Cipali bakal merusak situs budaya dan sosial di lingkungan pesantren yang telah berumur 300-an tahun tersebut.Namun, memasuki pemerintahan Jokowi pada 2014, tampak terjadi akselerasi proyek Tol Cipali hingga tuntas dua bulan lebih cepat dari target yang diagendakan.
Petaka di Jalan yang Terlalu Nyaman
Beberapa bulan setelah diresmikan, Tol Cipali menggemparkan publik. Minibus Elf menabrak kendaraan misterius di jalur Tol Cipali arah Palimanan Kilometer 137 pada 3 Desember 2015. Sebelas nyawa melayang akibat kejadian itu. Dari keterangan kepolisian, penyebab kecelakaan diduga sopir yang mengantuk saat melintasi ruas jalan Cipali yang panjang dan monoton.
Tahun-tahun berikutnya, kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi di Tol Cipali. Hingga 2022, dalam suatu rapat kerja bidang perhubungan darat, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Hendro Sugiatno menyebutkan Tol Cipali termasuk salah satu tol yang memiliki angka fatalitas kecelakaan paling tinggi di dunia.
Hendro mengatakan rata-rata terdapat satu korban jiwa per kilometer Tol Cipali. “Kecelakaan di jalan tol itu terus meningkat. Jalan Tol Cipali adalah jalan tol yang nomor satu di dunia itu menjadi jalan tol yang fatalitas kecelakaannya paling tinggi,” kata Hendro sebagaimana dilansir dari detikOto, Senin, 5 Desember 2022.
Namun Corporate Communication & CSR Section Head Astra Toll Cipali Asri Fajarwati Ridwan membantah perihal Tol Cipali menjadi tol paling mematikan sedunia. “Itu data Dirjen Perhubungan bukan update. Data yang dari kami yang paling update itu mengalami penurunan,” kata Asri kepada reporter detikX pekan lalu.
Asri menyebutkan data fatalitas di Tol Cipali pada Januari sampai Oktober 2022 turun 15,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2021. Dengan tingkat fatalitas 2,91 persen pada 2021 menjadi 2,45 persen pada 2022. “Dari data tersebut dapat dipastikan Tol Cipali bukan merupakan jalan tol yang memiliki angka fatalitas nomor satu di dunia,” tegasnya.

Ilustrasi salah satu insiden kecelakaan di Tol Cipali
Foto: dok. Antara
Astra Tol Cipali telah berupaya mengantisipasi kendaraan yang melanggar batas kecepatan dengan berkolaborasi bersama Kementerian Perhubungan serta Polda Jawa Barat untuk penindakan batas kecepatan atau speed gun setiap bulan. Bukan hanya itu, dilakukan pemasangan pagar pembatas yang terbuat dari baja atau wire rope sepanjang 106 kilometer, yang rampung pada 2021. Ditambah pemasangan markah speed reducer dengan jenis Chevron dan Dragon Teeth di 12 lokasi sepanjang Tol Cipali sebagai rambu peringatan dan imbauan berhati-hati dalam berkendaraan.
Kepala Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Pitra Setiawan menyatakan catatan pengelola Tol Cipali sebenarnya sudah sangat baik. “Justru saking baiknya masyarakat menjadi terlena karena kontur jalanan Cipali adalah trek lurus dengan pemandangan yang relatif monoton. Kiri kanannya sawah,” kata Pitra kala ditemui reporter detikX di kantornya pekan lalu.
Jalur lurus yang dimaksud Pitra adalah geometrik jalan Tol Cipali yang memang didominasi oleh kontur lurus dan panjang. Kontur ini menyebabkan pengemudi mudah bosan dan berujung mengantuk. “Yang sering terjadi adalah microsleep. Microsleep itu keadaan ketika seseorang terlelap dalam 2-3 detik. Yang berbahaya adalah ketika dia kecepatan tinggi, 100 km/jam. Dia kan terpacu karena trek lurus dengan kecepatan tinggi, dia terlelap tiga detik, (bisa) melayang (nyawanya),” jelas Pitra.
Reporter: Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Irwan Nugroho