SPOTLIGHT

Menua dan Bahagia Memilih Tanpa Anak

Banyak pasangan memilih childfree atas alasan traumatis pengasuhan orang tua pada masa lalu, finansial, hingga khawatir meledaknya populasi berdampak kerusakan lingkungan. Mereka bergabung dengan komunitas childfree untuk saling menguatkan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 4 Januari 2023

Tinggal di rumah petak bersama pasangan, tanpa memiliki anak, dan berdampingan dengan para tetangga yang juga tidak mempunyai anak. Begitulah bayangan sebagian orang yang tergabung dalam Indonesia Childfree Community (ICC), sebuah komunitas di media sosial yang berisi orang-orang yang berkomitmen tidak memiliki anak.

“Kami beli kaveling tanah dan mendirikan delapan sampai sepuluh rumah petak,” kata anggota ICC, Veronica Wilson, kepada reporter detikX pekan lalu. “Yang penting kami bisa saling take care.”

Childfree adalah istilah yang merujuk pada pasangan yang memutuskan hidup tanpa memiliki anak. Di grup ICC, orang-orang yang memilih hidup tanpa anak berbagi informasi, pengalaman, dan ide.

Veronica, yang kini hampir menginjak usia 48 tahun mengatakan gagasan membuat rumah masa tua bagi anggota ICC itu masih terus dibicarakan. Saat ini mereka terus bertukar informasi tentang tanah kaveling yang ideal untuk merealisasikan ide tersebut. “Yang terpenting idenya sama dulu,” kata dia.

Dibentuk pada Februari 2016, grup ICC kini beranggotakan 379 orang. Grup ini bersifat tertutup. Orang yang mau bergabung mesti mengisi formulir daring terlebih dahulu dan menjelaskan alasan menjadi childfree. Admin grup kemudian akan menjadikan alasan tersebut sebagai pertimbangan untuk mengizinkan atau tidak.

Selain berdiskusi di dunia maya, ICC pernah mengadakan pertemuan fisik. Sebagian anggota ICC bahkan menjadi teman di dunia nyata yang sering bertemu.

Veronica bergabung dengan ICC pada tahun awal pembentukannya dan aktif hingga sekarang. Keputusannya menjalani childfree terbentuk oleh rangkaian pengalaman traumatis masa lalu yang masih membekas.

Mulai pengalaman buruk pengasuhan yang dilakukan ibunya hingga mengalami keguguran tiga kali. Almarhum ayah juga sempat mengatakan kepada Veronica, tidak pernah menginginkan punya anak. Hanya, pekerjaan sebagai abdi negara dulu menuntutnya memiliki dua orang anak.

Ilustrasi sepasang kekasih.
Foto : Detikcom Thinkstock

“Sejak aku kecil pun selalu jawab tidak ingin punya anak ketika ditanya orang dengan nada bercanda,” kata Veronica. “Nah, aku keguguran tiga kali, aku bersyukur juga. Mungkin ini cara Tuhan mengabulkan keinginanku.”

Belakangan diketahui, penyebab keguguran itu adalah penyakit diabetes yang menjangkitinya. Beruntung, suaminya menerima kondisi tersebut. Dia bahkan tidak perlu menjalani program apa pun untuk memastikan tidak akan punya anak ketika banyak pasangan childfree melakukan tindakan medis untuk itu.

“Saya sempat mau cek, tapi suami bilang, buat apa lagi dicek, orang sudah tiga kali hamil. Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan,” kata dia sambil tertawa.

Kondisi tersebut cukup membantunya membuat keluarga besar paham. Meski menyembunyikan keputusan childfree, keluarga besar tidak menanyakan kapan akan punya anak seperti yang dilakukan banyak keluarga lainnya. Kini usia pernikahan Veronica dan suaminya sudah menginjak 18 tahun.

Bagi Veronica, tidak memiliki anak adalah hal yang menyenangkan. Dia dan suaminya—masing-masing memiliki pekerjaan—jadi bisa lebih leluasa menghabiskan waktu dan uang hanya untuk kepentingan berdua. Pola hidup ini dikenal dengan istilah DINK, double income no kids.

“Kami merasa bahagia dengan jalan hidup ini,” katanya. “Tanpa memiliki anak, kami bisa menggunakan uang kami untuk hobi traveling kami.”

Seperti Veronica, anggota ICC lainnya, Yosua, 35 tahun, mengaku juga memiliki pengalaman traumatis berlapis pada masa lalu. Yosua kecil dibesarkan dengan pengasuhan yang overprotektif disertai kekerasan verbal yang begitu membekas hingga sekarang.

“Sampai sekarang, saya selalu tidak nyaman jika mendengar lawan bicara mengeluarkan nada tinggi,” kata dia.

Pada usia dewasa, Yosua berkali-kali gagal menjalani hubungan percintaan hingga putus asa. Keputusasaannya diperparah oleh kenyataan bahwa teman-temannya sudah menikah. Sedangkan dirinya hanya bisa menjadi pengisi musik di acara pernikahan teman-temannya.

“Saya merasa iri dengan mereka hingga akhirnya saya memutuskan keluar dari lingkungan sosial yang saya hidupi,” katanya.

Dari yang sebelumnya tinggal di Bandung, Yosua pindah ke Surabaya. Dia berusaha memutus keterhubungannya dengan orang-orang yang dia kenal, dan masuk ke dalam lingkungan sosial yang baru di tengah keputusasaannya.

Pada saat yang sama, Yosua pun mempertanyakan takdir dan keimanannya hingga menjadi seorang ateis, juga anti-natalis. Ateis adalah orang yang meyakini bahwa Tuhan tidak ada dan tidak perlu ada. Seorang ateis tidak serta-merta anti-natalis. Sedangkan anti-natalis merujuk pada pandangan negatif terhadap kelahiran manusia karena beragam alasan. Salah satu sikap anti-natalis adalah mendukung pilihan untuk aborsi.

“Sumber daya alam ini terbatas, tetapi manusia terus bertambah,” kata Yosua. “Bayangkan bagaimana masa depan bumi? Akan ada perebutan sumber daya alam dan bahkan mungkin dengan cara perang.”

Data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis pada November 2022 menunjukkan populasi manusia di bumi sudah mencapai 8 miliar orang. Pada 2050, diproyeksikan jumlahnya bertambah menjadi 9,7 miliar jiwa.

Lonjakan populasi manusia ini berkaitan dengan berbagai permasalahan. Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, hal tersebut dapat berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan dan tingginya angka kemiskinan.

Yosua dibesarkan dengan latar belakang keluarga dengan agama Kristen Protestan. Dia menjelaskan komitmennya untuk tidak memiliki anak bukanlah hal yang dapat diterima keluarga. Yosua menyinggung Kitab Kejadian 1:28.

Ilustrasi pasangan jatuh cinta.
Foto : Shutterstock

“Jadi secara tidak langsung ada doktrin bahwa menikah itu satu paket dengan punya anak,” kata Yosua.

Itu sebab Yosua menyembunyikan pandangannya. Ketika keluarga menyadari Yosua semakin tua dan menanyakan perihal keturunan, dia terpaksa menyiasatinya.

“Saya tidak ingin merusak masa tua orang tua saya dengan berkata jujur,” katanya. “Saya bilang ini adalah ‘panggilan Tuhan’, semacam petunjuk tiba-tiba, mungkin semacam ‘hidayah’ kalau di Islam.”

Menurut Yosua, tidak ada masalah untuk hidup sendiri tanpa menikah dan memiliki anak selamanya. Dia meyakini ada banyak cara untuk bahagia pada masa tua.

Sebagai satu dari beberapa anggota grup yang cukup senior, Veronica mengatakan mereka yang tergabung dalam grup ICC memang lebih banyak karena alasan trauma pengasuhan orang tua pada masa lalu. Namun ada pula karena alasan finansial, khawatir tidak bisa menjadi orang tua yang baik, dan isu lingkungan.

“Ada yang menganggap memiliki anak hanya akan menambah populasi manusia di bumi yang sudah sangat banyak dan menyebabkan kerusakan lingkungan,” katanya.

Apa pun alasannya, Veronica melanjutkan, pada intinya grup ICC adalah wadah untuk berbagi pandangan dan pengalaman. Sebab, keputusan memilih childfree adalah pilihan individu yang mesti dihargai, bukan dicibir hanya karena berbeda dengan pilihan orang banyak.

“Kita tidak pernah mengganggu mereka yang memutuskan punya anak, kok. Jadi kami jangan dihakimi,” katanya.


Reporter: May Rahmadi
Penulis: May Rahmadi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE