SPOTLIGHT

Benny Rhamdani:

Jokowi Tak Akan Izinkan Kami Tempur

Benny marah karena ada demonstrasi yang, menurutnya, menyerang pemerintah dan maraknya penyebaran ujaran kebencian. Menurutnya, ia bisa menggelar demonstrasi tandingan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 1 Desember 2022

Percakapan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi kontroversi. Bukan karena pandangannya terkait isu pekerja migran, Benny dikecam lantaran pernyataannya meminta izin ‘tempur’ kepada Jokowi untuk melawan kelompok yang dianggapnya 'merecoki' pemerintah.

Perbincangan secara tatap muka itu terjadi pada sela acara bertajuk ‘Gerakan Nusantara Bersatu’ di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/11/2022). 

Benny, selain Kepala BP2MI, adalah ketua kelompok relawan Jokowi bernama Barikade '98. Dia mengklaim Barikade ‘98 dibentuk dua tahun lalu. Benny juga sempat menjabat Direktur Kampanye Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin pada Pemilu 2019.

Sebelum meminta izin ‘tempur’ itu, Benny menyampaikan pandangannya mengenai kondisi pemerintahan saat ini serta memberi saran kepada Jokowi. Jokowi tampak hanya menyimak pandangan dan usulan Benny.

Percakapan yang terekam dalam sebuah video itu pun kemudian viral, menuai beragam komentar, dan menjadi kontroversi. Benny dianggap provokator pemecah belah masyarakat. Salah satu yang menanggapi Benny ialah Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi. Dia meminta agar Benny tak menjadi provokator yang ‘membakar-bakar’ Presiden Jokowi dalam meniti proses demokrasi konstitusional di Indonesia

May Rahmadi dari detikX berkesempatan berbincang dengan Benny. Dia menjelaskan maksud sebenarnya yang ingin disampaikan kepada Jokowi kala itu. Berikut petikan wawancaranya:

Presiden Joko Widodo menyapa relawan saat menghadiri acara Gerakan Nusantara Bersatu: Satu Komando Untuk Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/11/2022).
Foto :Kenny Gida/detikcom

Apa yang sebenarnya terjadi saat Anda bertemu Jokowi di GBK?

Acara itu acara santai. Acara biasa, pertemuan Pak Jokowi dengan para relawan. Seperti biasanya, Pak Jokowi meminta masukan dari teman-teman relawan dari berbagai daerah. Teman-teman relawan menyampaikan pandangan tentang masalah-masalah kebangsaan.

Apa yang beredar dan membuat orang berpandangan negatif itu karena mereka tidak berada di tempat saat itu dan berpandangan sesat karena modal sepotong video. Atau memang sengaja ada pihak yang memutarbalikkan substansi video itu untuk kepentingan-kepentingan politik.

Apa maksud Anda mengatakan marah dan gemas lalu meminta izin kepada Jokowi untuk 'tempur' di lapangan?

Ketika saya mengatakan gemas dan marah, itu adalah kemarahan rakyat Indonesia yang saya baca. Kemarahan kepada kelompok-kelompok yang selama ini mengganggu dan memberikan serangan kepada pemerintah dengan segala cara, dengan cara-cara yang bisa memecah belah persatuan nasional.

Apa itu? Penyebaran kebencian, hoax, fitnah, adu domba, dan bahkan menggunakan sentimen-sentimen suku dan agama, mengkafirkan mereka yang berbeda keyakinan, sikap intoleransi, kemudian simbol negara dihina—Pak Jokowi diperlakukan tidak senonoh dan Ibu Negara juga.

Dalam konteks itulah saya mengatakan rakyat ini marah dan gemas. Tidak ada anak bangsa yang tidak marah dalam situasi itu. Justru saya bertanya, jika tidak ada yang tidak gemas dan tidak marah, patut dipertanyakan kebangsaaannya, nasionalismenya.

Nah, saya mewakili kemarahan itu. Saya kemudian ilustrasikan, "Pak Presiden, kita ini pemenang, kita ini besar. Artinya, kalau kemarahan dan kegemasan itu diekspresikan untuk melawan, tempur di lapangan, kita ini lebih besar. Kita bisa melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan."


Apa misalnya?

Mereka demo-demo di lapangan menyerang pemerintah, caci maki, menghujat, menghina. Kita juga bisa melakukan demo-demo tandingan. Sebab, kita lebih besar, kita pemenang.


Apa respons Jokowi kala itu?

Kami tahu bahwa Presiden tidak akan pernah mengizinkan itu. Karena Presiden dalam beberapa kali pertemuan selalu bilang, "Sabar, saya saja sebagai presiden sabar. Kok kalian sebagai relawan tidak bisa sabar? Jangan pernah melakukan cara-cara yang mereka lakukan kepada kita."

Saya itu paham, pasti jawabannya itu. Maka penegakan hukum itu yang kami dorong. Poinnya di situ.

Bukan benar-benar ingin ‘tempur’ di lapangan?

Bukan, itu hanya ilustrasi kepada Presiden dan kami tahu Presiden tidak akan mengizinkan (tempur di lapangan), sehingga saya bicara intinya adalah penegakan hukum.

Bagaimana jika Presiden mengizinkan?

Tidak mungkin diizinkan. Jangan berandai-andai. Saya sudah tahu kok jawaban Presiden.

Sebenarnya pihak mana yang ingin Anda lawan?

Kami tidak antidemokrasi. Kritik saja Pak Jokowi setiap hari, tidak ada masalah. Tetapi mereka yang sering demo, bukan dengan maksud mengkritik, melainkan menyebarkan kebencian, berita bohong, sikap intoleran, ini adalah ancaman serius bagi kebangsaan. Ini yang kami khawatirkan.

Video pembicaraan Anda dengan Jokowi itu bocor?

Saya tidak tahu itu yang merekam siapa. Tapi, kalau dikatakan bocor, sekarang ini, kan, itu di-framing bocor, itu tidak benar. Itu bukan pertemuan tertutup, bukan rahasia.

***Komentar***

Reporter: May Rahmadi
Penulis: May Rahmadi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE