INVESTIGASI

Melacak Ulang Jumlah Korban Tragedi Kanjuruhan

Data korban meninggal dunia di Tragedi Kanjuruhan masih diragukan akurasinya. Sejumlah saksi mengaku melihat jumlah korban lebih banyak dibandingkan data yang diklaim pemerintah. Tim detikX berupaya memvalidasi data tersebut.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 7 Oktober 2022

Grup WhatsApp ‘Relawan Malang Indonesia’ tiba-tiba riuh sekitar pukul 22.35 WIB pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Seorang anggota grup mengabarkan telah terjadi kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, seusai laga Arema FC versus Persebaya Surabaya. Dia meminta agar ambulans segera dikirim ke lokasi. Sebab, sejumlah ambulans yang disiapkan panitia pelaksana pertandingan dan kepolisian terjepit di dalam stadion dan tidak bisa keluar.

“Penuh gas air mata. Akeh seng nggeletak (banyak yang terkapar),” kata salah satu anggota grup malam itu.

Akhwan Afandi, salah seorang relawan Malang Satria #Estehanget, yang tergabung dalam grup itu, bergegas menghubungi rekannya untuk menyiapkan ambulans menuju Stadion Kanjuruhan. Enam unit ambulans dari relawan ini pun meluncur ke stadion sekitar pukul 23.30 WIB. Saat ambulans tiba di sana, korban-korban sudah tidak ada. Mereka sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Seluruh korban malam itu difokuskan di tiga rumah sakit, yakni RSUD Kanjuruhan Kepanjen, RS Teja Husada, dan RS Wava Husada. Jarak ketiga rumah sakit ini kurang-lebih 1-3 kilometer dari stadion. Korban terbanyak, kata Afan, ada di RS Wava Husada. Dia dan tim ambulans relawan Malang pun menuju ke sana.

Makam Aremian Jember korban tragedi Kanjuruhan, Faiqotul HIkmah.
Foto : Yakub Mulyono/detikJatim


Tapi kami nggak tahu kalau misalnya yang masih di parkiran gitu terus dibawa balik. Yang kami catat hanya yang ada di IGD (Instalasi Gawat Darurat).”

“Kami lihat banyak jenazah di koridor kanan-kiri. Di UGD itu numpuk. Kondisi dalam kegentingan yang luar biasa,” terang Afan saat ditemui reporter detikX di Posko Relawan Malang di Stasiun Malang Baru pada Rabu, 5 Oktober 2022.

Saat itu, semua korban meninggal dunia tergeletak di lantai rumah sakit dan belum dibungkus kantong jenazah. Kondisinya, kata Afan, amat mengerikan, dan banyak Aremania—sebutan untuk pendukung Arema FC—merangsek masuk mencari keluarga atau temannya yang menjadi korban. Wajah sebagian korban tampak biru nyaris kehitaman. Sebagian lain matanya terlihat merah, bahkan nyaris menghitam keseluruhan. Beberapa korban bahkan ada yang telantar di area parkir.

Dalam kondisi itu, Afan meminta sejumlah relawan menghitung secara manual berapa korban meninggal dunia di RS Wava Husada. Hasilnya didapatkan ada 101 korban meninggal yang terhitung oleh tim relawan. Di tempat lain, RS Teja Husada, relawan juga menerima informasi ada 34 korban meninggal dunia.

“Waktu itu masih sekitar jam 12-1 malam (pukul 00.00-01.00 WIB),” tegas Afan.

Sumber detikX di RSUD Kanjuruhan Kepanjen mengatakan, dalam rentang waktu yang sama, juga ada tiga korban meninggal dunia yang masuk ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Sisanya, 18 korban meninggal dunia, baru datang pukul 03.00-05.00 WIB. Korban ini merupakan pindahan dari beberapa rumah sakit lainnya.

“Saya bisa pastikan itu karena saya lihat datanya,” kata sumber ini kepada reporter detikX.

Merujuk pada keterangan dua saksi ini, hanya pada pukul 00.00-01.00 WIB malam itu, berarti jumlah korban meninggal dunia di tragedi Kanjuruhan ini sudah mencapai 138 jiwa. Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada Minggu, 2 Oktober 2022, pagi mengumumkan jumlah korban jiwa hanya 129. Keesokan harinya, jumlah itu dikoreksi lagi menjadi 125 jiwa karena ada data ganda.

Kabar ini sontak membuat kaget seluruh relawan yang menjadi saksi mata banyaknya korban meninggal dunia yang bergeletakan malam itu. Apalagi setelah kantong jenazah untuk para korban dihitung, yang hanya tersisa 60 kantong dari total 250 yang disediakan. Sebanyak 190 kantong jenazah lainnya diperkirakan telah terpakai semua untuk membungkus korban meninggal dunia.

Itulah mengapa sejumlah saksi dan relawan memperkirakan jumlah korban seharusnya lebih dari 125 jiwa atau bahkan 138 jiwa yang mereka hitung sendiri. “Makanya waktu itu rekan-rekan rilis di Wava (RS Wava Husada) itu ada 101, di Teja (RS Teja Husada) itu ada 34. Terus moro-moro (tiba-tiba) Kapolri bilang 125. Nggak keliru tah iki? Ini jadi perdebatan kita ini,” kata Afan.

Seorang ayah sedang menunjukkan foto semasa hidup anak lelakinya yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan.
Foto : Fima Purwanti/detikJatim

Tim detikX lantas mencoba melakukan cross-check data korban meninggal dunia ini ke tiga otoritas rumah sakit yang disebutkan. Seorang petugas pengurus jenazah di RS Teja Husada, Saifuddin, membenarkan malam itu memang ada 34 korban meninggal dunia yang dilarikan ke RS Teja Husada. Sebanyak 14 korban teridentifikasi dari kartu tanda penduduk dan keterangan keluarga korban. Sedangkan 20 korban lainnya tidak teridentifikasi karena tidak ada tanda pengenal diri.

Pada pukul 03.00-04.00 WIB, kata Saifuddin, 20 korban yang tidak teridentifikasi ini kemudian dipindahkan ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Pernyataan Saifuddin ini juga terkonfirmasi dari catatan data korban meninggal dunia manajemen RS Teja Husada yang tim detikX dapatkan.

“Selanjutnya, kalau dari RSUD ke RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar) itu, saya kurang tahu,” kata Saifuddin kepada reporter detikX pada Kamis, 6 Oktober 2022.

Kepala RSUD Kanjuruhan Kepanjen dr Bobi Prabowo juga membenarkan keterangan sumber detikX di rumah sakit tersebut. Bobi mengatakan memang ada tiga korban meninggal dunia yang dilarikan ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen pada pukul 00.00-01.30 WIB. Kedatangan jenazah tiga korban meninggal dunia ini bersamaan dengan 93 korban lainnya yang mengalami luka ringan maupun berat.

Pada pukul 04.00-06.00 WIB, kata Bobi, RSUD Kanjuruhan Kepanjen kembali menerima 18 korban meninggal dunia. Sebanyak 21 korban meninggal dunia ini teridentifikasi di RSUD Kanjuruhan setelah bekerja sama dengan tim Inafis kepolisian dengan cara mencocokkan sidik jari dan ciri-ciri korban.

Keterangan Bobi ini sesuai dengan pernyataan sumber detikX. Namun masih ada selisih dua korban meninggal dunia dari yang disampaikan petugas pengurus jenazah RS Teja Husada, Saifuddin. Terkait perbedaan itu, Bobi menjelaskan ada kemungkinan saat itu ruang jenazah di RSUD Kanjuruhan Kepanjen sudah penuh sehingga sisa jenazah lainnya ditolak.

“Saya telepon (ke RS Teja Husada), ‘Penuh, jangan dikirim lagi,’ karena nggak ada tempat,” terang Bobi kepada reporter detikX melalui telepon pada Kamis, 6 Oktober 2022. Setelah itu, apakah korban dibawa ke rumah sakit lain, Bobi tidak tahu pasti.

“Atau dari Kanjuruhan langsung dibawa ke rumah (korban), kan bisa saja,” imbuhnya.

Sampai saat ini, total korban luka yang dilarikan ke RSUD Kanjuruhan tercatat 101 orang. Delapan orang masih dirawat. Lima di antaranya dalam kondisi kritis.

Sementara itu, Kepala Humas RS Wava Husada Tri Rahayu Andayani membantah keterangan Afan. Yayuk, sapaan akrabnya, menyebut korban meninggal yang dibawa ke RS Wava Husada hanya 68. Sebanyak 53 jenazah bisa diidentifikasi. Sedangkan 15 yang belum bisa diidentifikasi sudah dipindahkan ke RS Saiful Anwar untuk diidentifikasi oleh pihak berwajib.

Yayuk memastikan semua data korban meninggal dunia yang dibawa ke RS Wava Husada sudah tercatat. Termasuk korban-korban luka yang sejak 1 Oktober 2022 sampai sekarang masih berdatangan maupun keluar dari rumah sakit.

“Tapi kami nggak tahu kalau misalnya yang masih di parkiran gitu terus dibawa balik. Yang kami catat hanya yang ada di IGD (Instalasi Gawat Darurat),” terang Yayuk saat ditemui reporter detikX di RS Wava Husada, Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis, 6 Oktober lalu.

Berdasarkan data korban dari Departemen Kesehatan Kabupaten Malang yang tim detikX dapatkan, sampai 6 Oktober 2022, korban luka yang dilarikan ke RS Wava Husada mencapai total 67 orang. Sebanyak 43 jiwa di antaranya telah dipulangkan setelah dinyatakan sehat. Sisanya, 16 pasien, menjalani rawat jalan dan delapan orang dirawat inap.

Sementara itu, jika ditotal secara keseluruhan, jumlah korban meninggal, luka berat, luka ringan/sedang, maupun yang masih dirawat jalan sampai pada 7 Oktober 2022, ada 678 orang. Sebanyak 524 di antaranya mengalami luka ringan, 23 luka berat, 131 meninggal dunia, dan 47 lainnya masih dirawat jalan. Data ini dikumpulkan dari total 24 rumah sakit di Jawa Timur serta sejumlah instansi kesehatan lain.

Meski begitu, sejumlah relawan dan saksi tragedi Kanjuruhan Kepanjen masih meragukan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang ini. Alasannya, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang hanya mencatat jumlah korban berdasarkan laporan dari instansi kesehatan saja.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg Wijanto Wijoyo membenarkan bahwa sejauh ini pemerintah hanya mencatat nama korban yang terdata di rumah sakit dan instansi kesehatan. Tidak tertutup kemungkinan, kata dia, ada korban yang belum tercatat karena belum pernah terdaftar di rumah sakit.

Makanya, untuk memastikan data tersebut, pihak Dinkes kini telah meminta seluruh aparatur desa maupun kabupaten di Malang dan sekitarnya untuk turut mendata ulang nama-nama korban lain di wilayahnya masing-masing. Data dari aparatur desa ini nantinya akan diverifikasi ulang oleh pihak rumah sakit sehingga bisa disampaikan kepada Dinkes. Proses ini, kata Wijanto, perlu dilakukan lantaran data ini berkaitan dengan aspek hukum yang harus dipertanggungjawabkan oleh pihak Dinkes.

“Karena berkaitan dengan aspek pemberi santunan juga ‘kan. Kalau keliru, akhirnya yang disalahkan kita juga toh,” tutur Wijanto kepada reporter detikX pada Jumat, 7 Oktober 2022.

Doa Aremania untuk korban tragedi Kanjuruhan.
Foto : Deny Prastyo Utomo/detikJatim

“Dan kalau relawan mau memberi data tambahan, ya tolong ada surat keterangan kematian, ada keterangan surat kematian dari camat atau pihak berwenang. Kalau tidak jelas, saya nggak mau,” tambah Wijanto.

Saat ini, sejumlah relawan tragedi Kanjuruhan pun tengah membentuk tim koordinator wilayah untuk melacak ulang jumlah korban. Ada setidaknya 40 tim yang kini telah disebar di Kota Malang, maupun kota-kota dan kabupaten sekitarnya.

Ade D’kross, salah satu Aremania senior yang menjadi koordinator tim ini, mengatakan sejauh ini tim yang dibentuk relawan masih berupaya melacak ulang para korban meninggal dunia. Tim, kata Ade, sudah mendapatkan beberapa data baru. Namun data ini masih perlu diverifikasi ulang dan dicocokkan dengan data Dinkes.

Sebab, kata Ade, pembentukan tim ‘pencari fakta’ korban meninggal ini bukan dimaksudkan untuk mencari data pembanding yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Tim ini dibentuk untuk mengejar tanggung jawab semua pihak yang terlibat dalam tragedi yang menyebabkan ratusan Aremania kehilangan nyawa.

“Pembantaian ini tetap harus diusut tuntas dan dihukum seadil-adilnya siapa pun yang terlibat,” pungkas Ade kepada reporter detikX pada Rabu, 5 Oktober 2022.

Sampai Jumat, 7 Oktober 2022 dari data sejumlah nama korban meninggal dunia yang dihimpun tim relawan Malang, detikX menemukan ada satu nama yang belum masuk dalam data Dinkes. Dia adalah seorang bocah asal Kesamben bernama Regan Bintang Firlyandi.

"Ini sedang kami pastikan alamatnya dan verfikasi. Tim akan turun untuk ke rumah korban," kata Akhwan Afandi saat dikonformasi ulang tim detikX pada Jumat, 7 Oktober 2022. Data akan terus berkembang, mengingat sampai kini tim relawan Malang juga masih terus melakukan penelusuran lapangan.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, May Rahmadi, Ahmad Thovan Sugandi, Rani Rahayu
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE