INVESTIGASI

Malam Jahanam di Pintu 13

Saat anggota kepolisian memberondong suporter dengan tembakan gas air mata, pintu 13 Stadion Kanjuruhan dalam kondisi tertutup. Padahal sebelumnya sempat terbuka. Suporter mendobrak pintu dan menjebol roster beton untuk jalan keluar alternatif.

Foto : Seorang warga tengah mendoakan korban yang meninggal usai tembakan gas air mata dalam laga Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, Selasa (4/10/2020). (AP Photo/Achmad Ibrahim)

Kamis, 6 Oktober 2022

Beberapa menit sebelum berakhirnya laga klub Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu, 1 Oktober 2022, sebagian pendukung Singo Edan di tribun 13 meninggalkan stadion dengan kekecewaan. Mereka tak menunggu skor 2-3 bulat menjadi kemenangan bagi Persebaya.

Kala itu kondisi stadion masih kondusif dan pintu 13 masih terbuka, meski hanya bisa dilalui satu orang. Sebagian suporter keluar dari stadion lebih dulu sebelum pertandingan berakhir untuk menghindari penumpukan di pintu keluar. Para pendukung juga tahu, pintu keluar stadion sudah dibuka beberapa saat sebelum pertandingan selesai.

Petugas polisi dan tentara tengah melakukan suatu tindakan terhadap suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). 
Foto : Yudha Prabowo/AP


Makin banyak asap. Terus aku nggak kuat. Sesak (napas). Mataku perih. Terus nggak sadar (pingsan)."

Krisna, 18 tahun, yang turut menonton pertandingan itu dari tribun 13, bersaksi, puluhan Aremania mulai keluar lewat pintu 13 ketika pertandingan memasuki menit ke-92. Ada kondisi yang tak biasa ketika pertandingan memasuki masa tambahan waktu (injury time). Krisna menuturkan puluhan suporter keluar setelah mendengar teriakan bahwa akan ada kericuhan, bukan karena ingin menghindari penumpukan di pintu keluar.

Krisna tak tahu apa dasar informasi tersebut. Padahal pertandingan masih berjalan dan skor masih bisa berubah. Pertandingan itu pun tidak dihadiri Bonek, suporter Persebaya, karena memang dilarang. Namun Krisna mempercayai saja informasi tersebut sebagai antisipasi kalau saja informasi itu benar. Bersama seorang temannya, dia mengikuti puluhan pendukung lainnya yang memilih keluar dari stadion.

"Waktu itu pintu 13 terbuka, tapi hanya separuh," katanya.

Krisna kemudian berpindah ke depan pintu utama. Dia lanjut menonton menit-menit akhir pertandingan melalui layar besar di tribun luar. Layar itu disediakan untuk para Aremania yang tidak mendapatkan tiket menonton langsung di dalam stadion.

Dua saksi lain mengatakan empat Aremania terlihat berada di ruko penjual kopi di dekat pintu keluar nomor 13. Di bagian depan ruko, beberapa polisi tampak sedang meminum kopi. Semua tampak baik-baik saja.

Krisna menyaksikan momen peluit akhir pertandingan dari layar di luar stadion. Di sana, dia kemudian mendapat petunjuk lanjutan bahwa kondisi di dalam stadion akan kacau. Dia melihat asap menyembul ke langit dari bagian tengah stadion. Krisna dan temannya pun memutuskan mengambil motor dan beranjak pulang sekitar pukul 22.00 WIB.

"Waktu itu jalan raya masih sepi banget. Belum ada suporter yang pulang," katanya. Di Malang, jalan raya kosong merupakan kondisi umum ketika tim Arema bertanding di Stadion Kanjuruhan. Sebab, banyak pengguna jalan turut mendukung Arema secara langsung.

Krisna baru tahu tragedi terjadi di dalam stadion sesampainya di rumah. Beberapa titik stadion menjadi saksi bisu meninggalnya banyak suporter, termasuk di pintu 13. Di sana, orang-orang berdesakan ingin keluar untuk menghindari serangan gas air mata dari polisi, tetapi tidak bisa karena pintu 13 sudah tertutup rapat dari luar.

Polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).
Foto : Ari Bowo Sucipto/Antarafoto

"Aku baru tahu ketika buka medsos. Sedih, tapi aku bersyukur sudah pulang lebih dulu," kata Krisna.

Sementara itu, dua saksi kejadian di dekat ruko sebelah pintu 13 mendengar teriak orang-orang panik dari arah pintu 13, beberapa Aremania mengangkat meja di ruko tersebut, dan polisi yang ngopi di ruko itu dilempar bangku plastik oleh seorang suporter.

"Bojoku matek! Bojoku matek! (Istriku meninggal! Istriku meninggal!)," begitu teriak pendukung yang melempar bangku ke arah polisi, kata salah satu saksi.

Sedangkan meja ruko digunakan sebagai penopang orang-orang yang keluar lewat blok ventilasi udara atau roster beton di samping kiri pintu 13. Karena pintu dikunci, para suporter menjebol paksa susunan roster beton, sehingga terbuka lubang seukuran satu badan orang dewasa yang bisa dijadikan pintu keluar alternatif.

Berdasarkan penuturan empat Aremania yang menonton pertandingan dari tribun 4, 5, 12, dan 13, kekacauan di dalam stadion bermula ketika ada dua Aremania melompati pagar tribun. Mereka coba menyampaikan dorongan semangat kepada para pemain Arema FC setelah pertandingan berakhir. Itu hal yang biasa terjadi karena ada kedekatan antara suporter dan pemain. Saat itu para pemain Persebaya sudah memasuki ruang ganti tanpa menjadi korban kekerasan.

"Memang ada beberapa lemparan botol plastik ke tengah lapangan, tetapi tidak ada pemain yang kena," kata Dadang Indarto, penonton di tribun 12.

Para suporter lainnya turut turun ke lapangan ramai-ramai. Karena lapangan stadion semakin dipenuhi massa, anggota kepolisian dan TNI berupaya memukul mundur dengan teriakan, pentungan, pukulan, dan tendangan.

Ramai-ramai sebagian Aremania kemudian kembali ke tribun. Namun polisi menembakkan gas air mata ke tengah lapangan, ke arah kumpulan massa, bahkan ke arah tribun.

Nesya, 15 tahun, suporter yang menonton di tribun 11 menuturkan, pada pukul 22:09 polisi mulai memberondong dengan tembakan gas air mata ke tribun 10, 11, 12, dan 13. Beberapa suporter mencari pintu keluar terdekat. Nesya dan rekan-rekannya memilih pintu 10. Saat itu, gas air mata terasa semakin menyengat. Nesya sempat melihat anak kecil kesulitan bernapas dalam gendongan orang tuanya.

"Makin banyak asap. Terus aku nggak kuat. Sesak (napas). Mataku perih. Terus nggak sadar (pingsan)," kata Nesya kepada reporter detikX. Dia pingsan di lorong menuju pintu 10.

Dia lalu digotong temannya melewati pintu 10, yang pintunya masih terbuka. Berbeda dengan gate 13, yang ternyata sempat dibuka tetapi ditutup lagi. Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, di pintu 13, ratusan suporter keluar bersamaan dalam kondisi berimpitan. Sampai saat ini, tragedi tersebut mengakibatkan 131 orang meninggal dunia, sebagian di antaranya disebut-sebut berasal dari pintu 13.

Wawan Setiawan, 27 tahun, adalah salah satu Aremania yang berhasil keluar melalui blok ventilasi udara yang dijebol, di samping pintu 13. Wawan mengatakan bisa keluar karena Aremania di bagian dalam mengangkatnya agar bisa meraih lubang jebolan itu. Kemudian, di bagian luar, ada Aremania yang menopangnya untuk turun, sehingga kakinya memijak meja milik ruko sebelah pintu 13.

"Kondisinya kacau," kata Wawan dengan suara parau, Rabu, 5 Oktober 2022. Sebelum bercerita, Wawan mengaku sedang ada masalah kesulitan berbicara. Itu karena efek gas air mata yang dirasakannya saat tragedi terjadi, empat hari sebelumnya. Dia juga berhari-hari merasakan sesak di dada. Wawan sempat memeriksakan penyakitnya ini ke dokter.

Wawan melanjutkan, sebelum berhasil keluar dari stadion, dia melihat banyak orang tergeletak di bagian dalam pintu 13. Sebagian di antaranya perempuan. Mereka adalah suporter yang tidak bisa lagi bertahan dari serangan gas air mata di tengah kerumunan.

Wawan sebenarnya menonton pertandingan dari tribun 13 bersama beberapa temannya. Namun yang ada di kepalanya ketika merasakan serangan gas air mata dari polisi hanyalah bagaimana cara menyelamatkan diri. "Wis gak mikir temen (sudah tidak memikirkan teman)," katanya.

Setelah berhasil keluar dari stadion, Wawan langsung lari ke parkiran motor. Belakangan dia tahu, ada salah satu temannya yang menjadi korban meninggal di pintu 13.

Penutupan pintu 13 ketika kekacauan terjadi di dalam stadion diduga dilakukan oleh pihak Panitia Penyelenggara (Panpel). Komisi Disiplin PSSI menilai Ketua Panitia Penyelenggara Arema FC Abdul Haris bertanggung jawab karena gagal memastikan pintu keluar stadion terbuka menjelang akhir pertandingan. PSSI menghukum Haris dengan melarangnya beraktivitas di lingkungan sepak bola selama seumur hidup.

Suporter Arema FC tengah menggotong rekannya dan mencari tempat yang aman di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). 
Foto : Ari Bowo Sucipto/Antarafoto

"Ketua Panpel tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dan cermat dan tidak siap. Gagal mengantisipasi kerumunan orang datang, padahal punya steward. Ada hal-hal yang tidak disiapkan. Pintu-pintu yang seharusnya terbuka tapi tertutup. Kekurangan-kekurangan ini menjadi perhatian kami," kata Ketua Komdis PSSI Erwin Tobing, Selasa, 10 Oktober 2022.

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional Albertus Wahyurudhanto mengatakan, berdasarkan informasi dari Polres Malang, tidak ada perintah penutupan pintu keluar dari pihak polisi. Wahyu memandang kewenangan memegang kunci ada di pihak Panpel. Namun dia belum mengetahui secara pasti orang yang menutup beberapa pintu keluar stadion.

"Secara logika, yang pegang kunci adalah Panpel. Nggak mungkin polisi megang kunci, pasti Panpel," kata Wahyu, Selasa, 4 Oktober 2022. "Tetapi kepastiannya nanti membutuhkan pendalaman lagi siapa yang sebetulnya membawa kunci itu."

Ketua Panpel Abdul Haris belum memberikan pembelaan hingga hari ini. Haris tidak merespons permintaan wawancara detikX yang sempat diterimanya melalui pesan WhatsApp pada Rabu, 5 Oktober 2022.


Reporter: May Rahmadi, Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: May Rahmadi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE