INVESTIGASI

Fatamorgana Pekerja Cyber Sex

Seksualitas telah menjadi komoditas dan kini terus berkembang. Saat ini para pekerja seks mendapatkan banyak keuntungan dengan pertunjukan virtual. Pemerintah berupaya melarangnya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 28 September 2021

Perkembangan teknologi membuat seks bisa terjadi di mana-mana, bahkan di negara yang tidak mengizinkan seks bebas, konten pornografi, dan pornoaksi. Cyber sex, begitu sebutannya, adalah aktivitas seksual yang terjadi di dunia virtual. Ini bukanlah hal baru, tetapi penangkapan selebgram berinisial RR beberapa waktu lalu membuka kembali fenomena ini.

Polresta Denpasar menangkap RR pada Jumat, 17 September 2021, karena RR alias Kuda Poni alias Bintang Live membuat konten ketelanjangan di aplikasi bernama Mango Live. Aplikasi ini adalah platform siaran langsung atau live streaming yang berfokus pada konten-konten hiburan.

Berdasarkan penelusuran detikX, para host—sebutan untuk pemandu live streaming—diorganisasi oleh sejumlah agen. Salah satu pemilik agen, Zay—bukan nama sebenarnya—mengatakan para host mereka bisa mendapatkan penghasilan mulai ratusan ribu sampai ratusan juta rupiah setiap bulan. “Yang penting rajin live,” kata Zay kepada detikX pekan lalu. “Semangat saja, nanti juga banyak yang mampir ke room kamu.”

RR alias Kuda Poni ditangkap pada Jumat (17/9) lalu di salah satu apartemen di Kota Denpasar, Bali saat sedang live sambil bugil.
Foto : Sui Suadnyan/detikcom


Dibuat semacam token (untuk penonton), lalu mereka bisa masturbasi, bisa minta ini-itu.”

Room yang dimaksud Zay adalah ruang virtual di Mango Live. Setiap host memiliki ruang virtual untuk menunjukkan diri, berbicara, beraksi, dan pada kasus RR, aksinya dilakukan tanpa mengenakan busana. Nantinya para penonton bisa berkomunikasi melalui chat box sambil memberikan uang sebagai saweran.

Namun, Zay mengatakan, semua bergantung pada talenta yang dimiliki host. Seorang host bisa saja mendapatkan uang dengan cara melawak atau bernyanyi. “Bisa juga merayu,” kata Zay. “Itu tergantung host-nya. Yang penting bagaimana menarik dan biar bisa memancing viewers (penonton).”

Salah satu host bernama Nita—bukan nama sebenarnya—mengatakan kepada detikX bahwa dirinya dan para host lain berani mempertontonkan tubuh privat di ruang publik demi mendapat uang banyak. Dengan cara itu, Nita mengklaim bisa menghasilkan Rp 20 juta per bulan. “Pokoknya semua host ‘barbar’ itu pasti pendapatannya gede,” kata dia.

Menurut Seksolog Klinis Zoya Amirin, fenomena mempertontonkan tubuh demi mendapatkan cuan adalah akibat dari perkembangan teknologi online. Dulu orang-orang menjual tubuh dengan cara striptease di night club, sekarang kegiatan serupa itu bisa dilakukan secara virtual. Teknologi pun telah memungkinkan orang membayar para host dengan metode pengiriman koin. Koin tersebut dibeli dengan uang asli.

“Ini sama saja seperti cyber sex yang berbayar. Tanpa benar-benar disentuh, dengan cara seperti ini mereka relatif lebih aman,” kata Zoya. “Dibuat semacam token (untuk penonton), lalu mereka bisa masturbasi, bisa minta ini-itu.”

Aplikasi Mango Live pun menawarkan fitur ruangan privat. Ruangan ini hanya bisa dimasuki orang-orang yang memiliki kode tertentu. Kode tersebut tentu saja tidak gratis. Teknologi telah didesain sedemikian rupa untuk mendukung aktivitas seks secara virtual.

Menurut Zoya, kendati demikian, desain teknologi seperti itu membuat orang bisa merasa seperti bermain game. “Kalau mau lihat dia seperti ini (apa pun yang diinginkan penonton), mesti tambah token. Ini kan sama saja membuat dopamine rush (meningkatkan hormon kepuasan), sama saja seperti sedang bermain game,” katanya.

Zoya Amirin
Foto: Dok Detikcom

Zoya menjelaskan sebenarnya seksualitas adalah industri paling tua di bumi. Karena itu, industri ini akan terus berkembang. Setiap individu pun memiliki hak atas otoritas tubuhnya sendiri. Kendati demikian, seorang dewasa bukan cuma memiliki hak, tetapi juga kewajiban untuk bertanggung jawab atas tubuhnya, termasuk tanggung jawab secara hukum.

Yang secara jelas tidak diperbolehkan adalah perdagangan manusia. “Prostitusi apa pun jenisnya, pekerja seks adalah pekerja. Dia punya hak atas tubuhnya, termasuk menjual tubuhnya,” kata Zoya.

Pakar digital forensik Ruby Alamsyah menjelaskan bagaimana fenomena cyber sex ini bisa terjadi. Dia mengatakan  seluruh platform aplikasi resmi pada mulanya memang mengklaim untuk kepentingan publik, bukan untuk kejahatan maupun kegiatan asusila. Namun hal tersebut kemudian disalahgunakan pengguna maupun penyedia platform yang menjadi pengawas.

“Mereka tidak optimal dalam menegakkan aturan aplikasinya,” kata Ruby. “Kita bandingkan dengan aplikasi yang peruntukannya memang untuk konten dewasa, seperti OnlyFans. Dalam policy-nya memang memperbolehkan itu. Makanya di Indonesia aplikasi itu dilarang.”

Negara pun, Ruby melanjutkan, tidak bisa sepenuhnya meniadakan konten-konten pornografi. Sebab, infrastruktur internet di Indonesia itu beragam atau multi-gateway. Dengan demikian, semua provider internet bisa punya koneksi bermacam-macam dan tidak bisa dimonitor pemerintah.

Hal ini berbeda dengan China. Di negara itu, Ruby menjelaskan, orang-orang harus menggunakan fitur yang sudah diatur pemerintah untuk bisa terhubung dengan internet. Karena itu, pemerintah China bisa melakukan pemblokiran apa pun dan kapan pun yang mereka mau. China menggunakan single gateway yang diatur pemerintah.

“Prinsip negara kita kan nasional demokrasi sampai hari ini. Bukan otoriter atau komunis seperti di China. Jadi tidak bisa 100 persen melarang warga apalagi di ranah internet,” kata dia.

Ruby Alamsyah
Foto: Dok detikcom

Karena itu, Ruby menyebut, sebenarnya pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika sama sekali tidak memblokir konten-konten pornografi. Pemerintah hanya memblokir konten-konten itu dari koneksi internet yang mereka kontrol. Caranya, pemerintah membuat surat instruksi kepada seluruh provider internet di Indonesia untuk memblokir DNS atau IP address situs tertentu.

“Jadi, kalau orang pakai proxy atau VPN dan memakai koneksi internet tidak dari Indonesia, dia bisa pakai aplikasi-aplikasi tersebut,” katanya.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Usman Kansong mengakui Mango Live memang tidak menyebut akan menyiarkan konten dewasa ketika mendaftarkan diri ke pemerintah. “Mereka, ketika mengajukan ke kami, bagus. Seiring dengan berjalannya waktu, ada yang menyalahgunakan, baik platformnya maupun penggunanya. Karena itu, kan kita melakukan patroli siber.”

Pemerintah melakukan patroli virtual dengan menggunakan artificial intelligence dan secara manual. Pemerintah, Usman mengklaim, juga melakukan literasi digital untuk mencegah konten-konten negatif. Bukan hanya pornografi, tetapi juga situs judi, ujaran kebencian, radikalisme, dan terorisme. Sejak 2018, Kemenkominfo telah menindak 1.086.000 aplikasi.

“Yang terbanyak situs pornoaksi. Berjumlah 1 juta lebih,” katanya. “Tidak ada tempat untuk konten-konten seperti itu di dunia maya Indonesia. Tidak ada tempat untuk situs pornoaksi, perjudian, radikalisme dan terorisme, ujaran kebencian, dan sebagainya.”


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Rani Rahayu
Penulis: May Rahmadi
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE