INVESTIGASI

Pencari Cuan Live Streaming Bugil

Para penampil bugil di beberapa aplikasi live streaming mengantongi uang hingga ratusan juta rupiah. Aksi mereka terorganisasi di bawah naungan agensi yang menguasai bisnis syahwat ini.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 27 September 2021

Irama musik disko terlantun pelan di sebuah kamar gelap rumah indekos di kawasan Bali pada Jumat, 24 September 2021. Di ruangan penuh kerlap-kerlip lampu disko tersebut, seorang perempuan muda tengah berlenggak-lenggok mengikuti dentuman suara bas dari musik yang melenakan itu. Sebut saja namanya Lisa. Dini hari itu, Lisa berjoget ria dengan hanya mengenakan atasan bra dan celana dalam berwarna hitam. Aksi itu dipertontonkan Lisa lewat layar telepon pintar dan disiarkan langsung melalui aplikasi Sugar Live. Aplikasi ini merupakan platform siaran langsung (live streaming) di telepon seluler Android, yang hanya bisa diunduh melalui jaringan ilegal atau virtual private network (VPN).

Penampilan Lisa ditonton oleh lebih dari seratus orang pengguna Sugar Live. Para penonton atau viewer sesekali mengirim komentar nakal kepada Lisa. Mereka meminta Lisa membuka seluruh pakaian yang dia kenakan alias bugil. Mereka yang semakin tenggelam dalam hasratnya tidak segan-segan menggelontorkan uang demi bisa melihat Lisa telanjang bulat. Gemerincing koin dari saweran para penonton semakin sering berbunyi seiring kian panasnya jogetan Lisa. “Mau lihat semua? Bayar!” pinta Lisa sembari terkekeh membaca komentar-komentar itu. “Buat yang mau lihat semuanya, private aja. Aku buka VCS (video call sex) Rp 300 ribu.” Sekitar pukul 05.30 WIB, Lisa baru menyudahi siaran langsungnya. Jutaan koin virtual dikumpulkannya pagi itu.

Aplikasi Mango Live
Foto: Screenshot 


Kalau konten bisa nyanyi nggak apa-apa. Bisa ngelawak, bisa juga merayu. Itu tergantung host-nya. Yang penting bagaimana menarik dan biar bisa memancing viewers.”

Kepada detikX, Lisa menceritakan mengapa dia bisa terjerembap ke dalam dunia pertunjukan seks online ini. Lisa bilang semua itu dilakukannya lantaran rentetan pengalaman masa lalu yang kelam dan desakan kebutuhan hidup. Sejak kecil, Lisa tidak pernah merasakan belaian lembut seorang ibu. Kedua orang tuanya bercerai saat Lisa masih berusia 3 bulan. Dia dibesarkan hanya oleh ayah dan neneknya. Ketika menginjak usia 19 tahun, nenek Lisa sakit keras dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Sampai pada titik itu, Lisa mengaku terpaksa menjual keperawanannya demi bisa pengobatan sang nenek. Lisa harus merelakan keperawanannya kepada seorang pejabat dengan harga Rp 22,5 juta.

Pada usia 22 tahun, Lisa sempat bekerja di sebuah panti spa. Di situ dia mengenal seorang perwira polisi yang berjanji akan menanggung biaya hidupnya sehari-hari. Lisa pun disewakan apartemen dan diberi jatah uang Rp 10 juta per bulan. Tetapi, ketika Lisa hamil, lelaki itu tidak mau bertanggung jawab. Dia meninggalkan Lisa bersama seorang anak dalam kandungannya. Tanpa pekerjaan tetap dan penghasilan sama sekali, Lisa harus berjuang membiayai hidup dan jabang bayi yang tengah dikandungnya.

Lisa pun memutuskan merantau ke Bali untuk mencari pekerjaan. Di Pulau Dewata, anak Lisa terlahir. Tetapi, saat itu, Lisa belum memiliki pekerjaan. Beruntung, beberapa bulan setelah anak itu dilahirkan, Lisa diterima bekerja di sebuah restoran siap saji. Tetapi, lantaran pandemi COVID-19, restoran tempat Lisa bekerja ditutup dan ia pun kehilangan sumber penghasilan.

Berbagai cara telah dilakukan Lisa demi bisa tetap hidup dan membesarkan anaknya. Sampai kemudian diperkenalkanlah dia dengan aplikasi bernama Sugar Live oleh seorang teman. Dari aplikasi live streaming ini, Lisa mencoba peruntungan. Lisa memanfaatkan kemolekan tubuhnya untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dari aplikasi itu. Sebab, dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk hidup diri dan anaknya.

Aplikasi ini memberi rezeki bagi Lisa dan anaknya. Di aplikasi ini, selain berharap dari saweran penonton, Lisa juga menawarkan jasa VCS. Dari pekerjaannya itu, Lisa mengaku bisa mengantongi uang Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta per hari. “Yang penting cukup saja buat beli susu anak aku,” kata Lisa sambil terisak saat menceritakan pengalaman hidupnya. Tangisan Lisa itu kontras dengan keceriaan wajahnya ketika dia tampil saat siaran langsung beberapa jam sebelumnya.

*  *  *

RR alias Kuda Poni ditangkap pada Jumat (17/9) lalu di salah satu apartemen di Kota Denpasar, Bali saat sedang live sambil bugil.
Foto : Sui Suadnyana/detikcom

Belakangan, pertunjukan seks online seperti yang dilakukan Lisa menjadi pembicaraan khalayak ramai setelah tertangkapnya selebgram berinisial RR pada Jumat, 17 September 2021. RR ditangkap penyidik Polresta Denpasar di tempat indekosnya lantaran kerap tampil bugil di sebuah aplikasi live streaming Mango. Kapolresta Denpasar Kombes Jansen Avitus Panjaitan mengungkapkan RR dapat mengantongi uang Rp 25-50 juta dari aksi panasnya tersebut. “Pengakuan tersangka bahwa dia sudah melakukan kegiatan ini selama kurang-lebih sembilan bulan,” tutur Jansen, Senin, 20 September 2020.

Dari penelusuran detikX di sejumlah platform live streaming di jagat maya, ditemukan ada setidaknya tiga aplikasi yang kerap dimanfaatkan untuk kegiatan prostitusi online ini. Aplikasi-aplikasi itu adalah Mango Live, Sugar Live, dan MLive. Ketiganya memiliki kesamaan, yakni hanya dapat diunduh melalui jaringan ilegal atau VPN. Perempuan yang menggelar pertunjukan erotis di aplikasi-aplikasi tersebut umumnya disebut sebagai host. Ada pula sebetulnya host yang berjenis kelamin laki-laki, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Kepada detikX, Nita, bukan nama sebenarnya, seorang host di aplikasi Mango Live, membeberkan ketiga aplikasi itu memang memperbolehkan host-nya tampil panas. Syaratnya, para host harus menggunakan masker atau setidak-tidaknya topeng yang menutupi mata saat aksi terlarang tersebut dilakukan. Jika tidak, mereka akan langsung diblokir oleh pengembang aplikasi. “RR kan nggak pakai masker, makanya ketangkap,” kata Nita pekan lalu.

Dari Nita itu pula diketahui bahwa ternyata aksi para host ini tidak dilakukan secara mandiri. Ada sebuah agensi yang mengendalikan pekerjaan para host tersebut dan mendorong mereka melakukan aksi-aksi di luar batas. Beberapa agensi, kata Nita, memang mematok target tinggi supaya gaji para host dapat dicairkan. Umumnya mereka ditarget untuk mendapatkan ratusan juta koin setiap bulan.

Koin-koin itu didapatkan dari saweran para penonton. Saweran dikirim secara virtual dengan berbagai animasi. Mulai animasi koin, gincu, motor, mobil, hingga pesawat. Semakin mahal harga barang-barang tersebut di dunia nyata, semakin banyak pula koin yang dibutuhkan untuk memberikan saweran itu. Koin-koin ini nantinya dapat dikonversi menjadi rupiah. Persentasenya berkisar 3,5-5 persen dari total koin yang didapatkan.

Dari pengumpulan koin itulah para host bakal mendapatkan komisi mulai 40-70 persen dari total penghasilan. Semakin besar koin yang didapat, semakin besar pula persentase pembagian hasilnya. Dalam sebuah berkas pembagian komisi dari salah satu agensi yang detikX dapatkan, dijelaskan bahwa setiap 3 juta koin dapat dikonversi menjadi Rp 105 ribu. Hasil itu kemudian dipotong oleh agensi sebesar Rp 45 ribu dan pajak Rp 24.300. Sisanya sekitar Rp 35.700 barulah menjadi komisi host.

Akibat skema pembagian hasil seperti inilah akhirnya banyak host yang rela mempertontonkan tubuhnya demi bisa mendapatkan cuan yang maksimal. Rerata host, tambah Nita, yang berani tampil panas mendapatkan penghasilan Rp 20 juta per bulan. “Pokoknya semua host barbar itu pasti pendapatannya gede,” terang Nita.

Aplikasi Mango Live yang Dipakai Live Stream Bugil. Foto : Dok detikcom

Ayu, bukan nama sebenarnya, seorang pemilik agensi untuk aplikasi live streaming, membenarkan soal besarnya penghasilan para host tersebut. Ayu bilang host dari agensi yang dinaunginya memiliki penghasilan dari Rp 50 juta hingga ratusan juta rupiah per bulan. Tetapi, untuk mendapatkan penghasilan sebesar itu, para host tidak perlu melulu tampil panas. “Kalau konten bisa nyanyi nggak apa-apa. Bisa ngelawak, bisa juga merayu. Itu tergantung host-nya. Yang penting bagaimana menarik dan biar bisa memancing viewers,” terang Ayu kepada detikX pekan lalu.

Sebetulnya, para host juga bisa melakukan siaran langsung secara mandiri tanpa melalui agensi. Namun itu akan sangat sulit karena bisnis sudah dikuasai oleh para agensi. Sebab, adanya agensi dalam aplikasi ini berguna untuk membantu para host mendapatkan viewer. Agensi memiliki jaringan yang luas untuk menyebarluaskan konten para host mereka untuk mendapat banyak penonton. Sedangkan jika host ini melakukan siaran secara mandiri, bantuan penyebarluasan konten itu tidak bisa didapatkan oleh para host.

Selain itu, para host juga akan kesulitan menghubungi pihak aplikasi jika sewaktu-waktu akun mereka diblokir oleh pihak pengembang aplikasi. Agensilah yang mempunyai jaringan dengan aplikasi. Setiap host baru, akunnya akan dilaporkan kepada aplikasi untuk disetujui. “Nggak bisa kamu kalau nggak pakai agensi. Soalnya kan kontaknya susah dicari, kontak yang punya aplikasi itu. Jadi untuk naikin viewer juga bakal susah. Sudah kayak gitu cara mainnya dari 2017,” katanya.

Ayu mengakui sebelumnya menjadi agensi host untuk aplikasi Bigo Live. Namun, karena peminatnya turun, dia berpindah ke aplikasi lainnya. Saat ini, sebut Ayu, dia mengelola 800 host. Untuk mendapatkan host sebanyak itu, ia menebar iklan ke berbagai media sosial. Ia membuat ketentuan, host harus melakukan live streaming minimal 15 kali dalam satu bulan. Jika tidak memenuhi, gaji para host akan dirapel pada bulan berikutnya.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Rani Rahayu
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE