INVESTIGASI

Kantong Gendut Pebisnis PCR

Selama pandemi, banyak pelaku bisnis banting setir membangun laboratorium tes PCR. Syaratnya gampang. Keuntungannya menggiurkan.

Foto : Istock

Selasa, 24 Agustus 2021

Saat hawar melanda dunia sejak akhir 2019, banyak orang mulai kehilangan penghasilan. Ekonomi luluh lantak. Perusahaan-perusahaan besar maupun rintisan berguguran. Pengangguran merajalela. Angka kemiskinan bertambah dan tak terbendung. Orang-orang mati lantaran virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, itu. COVID-19 betul-betul telah merusak seluruh sendi kehidupan manusia.

Tetapi, di balik itu semua, tidak sedikit orang yang justru mendapat keuntungan dari bencana yang telah banyak menelan korban jiwa ini. Ketika kebutuhan akan tes COVID-19 meningkat demi keselamatan jiwa manusia, di situlah peluang besar muncul. Banyak pemodal banting setir membangun bisnis laboratorium dan klinik kesehatan.

Mereka menawarkan jasa tes COVID-19, termasuk tes polymerase chain reaction (PCR), yang diklaim paling akurat mendeteksi virus SARS-Cov2. Dari hasil tes itu, gemerincing keuntungan terdengar begitu renyah. Indonesia Corruption Watch menaksir keuntungan dari bisnis tes PCR per Oktober 2020 hingga Agustus 2021 mencapai Rp 10,46 triliun.

“Jika kita mengkalkulasi jumlah spesimen yang diperiksa oleh lab dikalikan dengan tarif pemeriksaan paling tinggi, yakni Rp 900 ribu, hasilnya kita melihat setidaknya ada perputaran uang dalam konteks pemeriksaan PCR itu sekitar Rp 23,2 triliun,” ungkap peneliti ICW Wana Alamsyah dalam sebuah konferensi pers daring, Jumat, 20 Agustus 2021.

Keuntungan besar dari bisnis laboratorium itu diakui pula oleh Wisnu, bukan nama sebenarnya, salah seorang pemilik klinik tes PCR di Bekasi, Jawa Barat. Kepada detikX, Wisnu menyebut, pada Desember 2020, kliniknya pernah membanderol harga tes PCR senilai Rp 1-1,25 juta. Mahalnya harga itu bergantung pada berapa lama hasil tes keluar. Semakin cepat, maka semakin mahal. Padahal, waktu itu, harga satu reagen yang digunakan untuk tes PCR hanya Rp 300 ribu.

Ilustras swab PCR
Foto : Agung Pambudhy

Dengan perhitungan komponen lain, seperti alat pelindung diri (APD), gaji pegawai, dan alat tes, keuntungan yang didapat Wisnu untuk satu kali tes bisa dua kali lipat dari modalnya. “Untung yang didapatkan per spesimen memang lebih dari 100 persen,” ungkap Wisnu kepada detikX pekan lalu.

Untuk meraup cuan berlipat-lipat itu, syarat yang dibutuhkan tidaklah sulit. Oleh pihak berwenang, Wisnu hanya diminta memenuhi dua persyaratan. Pertama, menjamin pengolahan limbah medis B3 sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/4642/2021 tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pemeriksaan COVID-19. Kemudian, memiliki sumber daya tenaga kesehatan yang memadai.

Dengan dua persyaratan itu, dalam waktu satu bulan saja, klinik Wisnu langsung mendapatkan izin operasional dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Pada Agustus 2020, klinik milik Wisnu pun berdiri dengan menggandeng sebuah laboratorium di Jakarta Pusat sebagai tempat uji sampelnya.

Sistem kerja sama klinik Wisnu dengan laboratorium sederhana. Setiap hari, Wisnu hanya perlu membayar jasa kurir untuk mengantarkan sampel tes PCR ke laboratorium. Nantinya, setiap sampel akan diuji di laboratorium itu dan hasilnya dikirimkan kembali ke klinik Wisnu. Dengan skema itu, Wisnu hanya perlu membayar tagihan bulanan kepada laboratorium mitranya, tergantung seberapa banyak sampel yang diujikan. “Selama PPKM level 4, per hari kurang-lebih seratus yang tes ke kami,” kata dia.

Selain klinik dan laboratorium, distributor alat kesehatan turut meraup keuntungan di balik moncernya bisnis tes COVID-19. Tompi, bukan nama sebenarnya, mengaku bekerja di sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan, termasuk mesin PCR dan reagen. Selama masa pagebluk ini, kata dia, perusahaannya mampu menyuplai kurang-lebih 50 ribu spesimen reagen setiap bulan.

Spesimen-spesimen itu dikirim ke sepuluh laboratorium tes COVID-19 di pelbagai kota. Pada awal pandemi, harga reagen yang dijual perusahaannya masih sekitar Rp 600 ribu. Namun kemudian turun secara bertahap. “Awal 2021 turun menjadi sekitar Rp 212.500, sekarang Rp 168 ribu per spesimen,” beber Tompi kepada detikX.

Di luar itu, perusahaan Tompi juga turut mengimpor mesin PCR bermerek Tianlong dari China. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 400 juta hingga Rp 1 miliar. Dalam proses impor mesin dan reagen itu, distributor mendapat begitu banyak kemudahan dari pemerintah. Pasalnya, kini pemerintah telah menetapkan diskresi penghapusan pajak impor bagi alat-alat kesehatan untuk penanganan pandemi COVID-19.

Tetapi, saking mudahnya, kesempatan ini dimanfaatkan para spekulan untuk turut andil dalam bisnis alkes. “Banyak bisnis akhirnya banting setir karena melihat peluang di bisnis kesehatan. Jadi sempat ada persaingan tidak sehat. Banyak juga barang gelap beredar tanpa izin edar dari Kemenkes,” beber Tompi.

Menyikapi maraknya spekulan dan besarnya keuntungan dari tes PCR, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kodrat Wibowo mengaku bakal melakukan investigasi mendalam terkait adanya potensi kartel di bisnis PCR. Kodrat telah memerintahkan timnya mengkaji ulang berapa sebetulnya harga keekonomian yang layak untuk tes COVID-19 tersebut. “Kami akan memanggil para pelaku usaha. Kalau perlu, kita panggil paksa melalui penyidik PNS (pegawai negeri sipil) atau Polri,” pungkas Kodrat saat dihubungi detikX pekan lalu.


Koreksi

Tulisan ini telah dikoreksi pada 29 Agustus 2021. Pernyataan Esa Tjatur Setiawan yang dikutip sebagai Direktur Marketing Hamera Lab dicabut. Sebelumnya, redaksi mendapatkan kontak dua orang narasumber Hamera Lab untuk diwawancara. Belakangan, Hamera Lab menyatakan bahwa Esa Tjatur Setiawan sudah tidak lagi mewakili perusahaan untuk berbicara kepada media. Atas kekeliruan tersebut redaksi meminta maaf.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, May Rahmadi, Rani Rahayu
Penulis: Rani Rahayu, Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE