Sikh Bukan Islam dan Hindu
Sikh
Bukan Islam dan Hindu
Sikh atau Sikhisme menjadi salah satu Agama yang ada dan belum diakui di Indonesia. Sikhisme ini juga berbeda dari agama Hindu. Meskipun pakaian yang dikenakan di kepalanya sepintas seperti orang Islam. Terlebih dengan janggut dan brewok panjang yang menjadi ciri khasnya.
Berbeda dengan Hindu yang mengenal berbagai dewa dan dewi, Sikhisme adalah agama yang percaya akan Tuhan yang pantheistik. Yups, segala sesuatu adalah bagian dari Tuhan dan yang mencakup segalanya. Sikhisme juga tidak mengenal kasta.
Pada foto Story of Life ini, Fotografer Pradita Utama berusaha menceritakan tentang penganut agama Sikh yang ada di Jakarta. Meskipun demikian, mereka tetap bisa hidup berdampingan dengan masyarakat dan agama yang ada serta diakui di Indonesia. Begini potretnya.
Agama Sikh ini dibawa oleh guru Nanak Dev Ji di Punjab India pada tahun 1469. Sikh lahir di India 500 tahun lalu. Menurut Global Religion Database, terdapat lebih dari 25 juta orang di dunia yang memeluk Sikh. Mereka tersebar di berbagai negara, mulai dari Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Utara.
Dalam ajarannya Sikh mengajarkan agama monoteis yang mengakui satu Tuhan yang mereka sebut dengan nama Waheguru. Sikhisme menganjurkan kesetaraan, keadilan sosial, pelayanan kepada kemanusiaan dan toleransi terhadap agama lain.
Sikhisme bersifat monoteistik dan menekankan kesetaraan semua pada pria dan wanita. Sikh percaya pada tiga prinsip dasar yaitu bermeditasi pada nama Tuhan (berdoa), mencari nafkah dengan cara jujur serta berbagi hasil jerih payah seseorang dengan orang lain.
Pada abad ke-19 ajaran agama Sikh mulai menyebar ke penjuru dunia dan masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan di Aceh dan Sumatera Utara. Melalui jalur perdagangan itulah akhirnya sampai dan menyebar juga ke batavia, Jakarta.
Umat Sikh memiliki kitab suci yang dinamakan Guru Grant Saheb Ji. Kitab Suci ini di letakan di tempat khusus di Gurdwara. Dan saat umat Sikh beribadah, kitab suci ini dibaca dengan dipimpin oleh pendeta.
Salah satu ciri yang terlihat dari umat Sikh yakni gelang dari besi putih yang bernama Kara. Gelang itulah yang menjadi salah satu simbol bagi mereka penganut agama Sikh. Waja salah satu alat musik yang biasa dimainkan oleh umat Sikh. Memainkan alat musik ini seperti perpaduan piano dan pianika.
Salah satu ajaran agama Sikh yakni mengajarkan mereka harus bisa berbaur dan memiliki rasa sosial yang tinggi di kehidupan masyarakat. Mereka pun tampak berpakaian dengan sopan saat melakukan ibadah. Terutama penutup kepala. Mirip sekali dengan Islam bukan?
Umat Sikh juga tidak boleh makan daging dan yang berbau amis. Oleh karena itu mereka makan makanan yang kategorinya vegetarian. Nasi kebuli, sayuran dan roti tepung menjadi santapan favorit mereka. Umat Sikh memiliki budaya makan bersama usai beribadah yang dinamakan Langgar.
Foto Guru Nanak Dev Ji yang merupakan pendiri Sikhisme dan guru Sikh pertama terpampang di tempat ibadah mereka (1469-1539).
Dalam ajaran agama Sikh, semua orang yang ingin masuk ke dalam rumah ibadah Gurdwara wajib memakai penutup kepala, baik itu pria maupun wanita. Seperti yang terlihat dalam visual berikut ini.
Umat Sikh juga selalu memberikan makan gratis kepada semua orang tanpa memandang status, agama dan kasta disetiap harinya. Budaya memberikan makan gratis itu telah berjalan sejaka ratusan tahun silam. Biasa, Gurdwara yang ada di Pasar Baru bisa menyajikan makan gratis sebanyak 200 porsi pada hari biasa dan 500 porsi pada hari libur.
5 simbol yang wajib digunakan oleh umat Sikh yakni Kanga (sisir kayu), Kesh (tidak mencukur rambut), Kara (gelang baja), Kirpan (pisau atau pedang besi) dan Kaccha (memakai celanan dalam khusus selutut)
Kebanyakan umat Sikh yang tinggal di Jakarta berprofesi sebagai pengusaha. Salah satunya adalah banyak pertokoan umat Sikh di Pasar Baru. Walaupun agama Sikh secara resmi belum diakui di Indonesia, jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama manusia patut dijadikan contoh dan suri tauladan untuk umat agama lainnya.



