Foto: Natalia Christanto, pemilik usaha cattery di Jakarta (Pradita Utama/detikcom)
Minggu, 03 Desember 2023Di dalam rumah milik Natalia Christanto, terdapat satu sudut yang begitu menarik pandangan mata. Saat detikX berkunjung pekan lalu, perhatian kami pun langsung tertuju ke sana. Beraneka macam piala, piagam, sampai trofi berjejer rapi di atas meja dan rak dinding. Saking banyaknya, wanita berusia 46 tahun ini sampai kewalahan menghitung jumlahnya.
“Tiap tahun datang lagi yang baru, saya sampai bingung mau simpan di mana lagi. Akhirnya sebagian terpaksa saya simpan di gudang,” ucap Natalia sambil menunjukkan koleksi pita rosette warna-warni miliknya.
Seluruh penghargaan ini bukan punya Natalia, melainkan para kucing yang ia besarkan di rumahnya. Sejak tahun 2019, hunian yang terletak di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, itu, sudah menjadi wadah pembiakan kucing. Para anabul milik Natalia bukan kucing rumahan biasa. Mereka kerap mengikuti beragam kompetisi mulai dari tingkat nasional hingga internasional.
“Kalau dulu pialanya punya anak-anak. Sekarang mereka udah pada gede-gede, jadinya piala di sini semua milik kucing-kucing,” ucap ibu dua anak ini sambil tersenyum.
Natalia mempersilakan kami melihat sebuah ruangan di bagian belakang rumah yang ia alihfungsikan sebagai kandang kucing. Ruangan ini diberi pintu kaca dan dilengkapi pendingin ruangan. Natalia memelihara tiga jenis kucing ras yaitu American Curl, Sphynx dan kucing Persia. Selain itu, ada pula beberapa kucing hasil rescue.
-y7bqv8.png)
Natalia Christanto (paling kanan) bersama kucing Ares saat mengikuti FIFE World Show 2023 di Prancis, Oktober lalu.
Foto: Dok Indonesian Cat Asscociation (ICA)
“Kucing di rumah saya total ada 46. Indukannya ada 16, kitten ada 11. Kalau rescue ada 5. Jumlah kucing di sini kita jaga supaya konstan di angka 40-an,” tutur Natalia.
Sebanyak 36 ekor di antaranya merupakan kucing pedigree yang memiliki sertifikat silsilah. Demi menjaga kualitas breeding, Natalia sengaja membatasi indukan kucing untuk melahirkan sebanyak satu kali dalam setahun.
Kalau ada kucing mau lahiran saya cuti. Makanya hari libur saya habis buat cuti lahiran semua."
Moonlight, seekor kucing betina ras American Curl, menjadi salah satu hewan peliharaannya yang paling banyak menyabet piala. Kucing berusia 1 tahun 11 bulan ini memiliki ciri khas telinga yang melengkung dan mata berbentuk kacang walnut. Bulunya lebat dan halus, sementara sifatnya sangat ramah dan lembut.
Moonlight tidak menghindar saat ada manusia yang mendekatinya. Tak heran jika kucing penuh pesona ini sering meraih juara Best of The Best maupun Best Indonesian Cat. Perlombaan diselenggarakan oleh Indonesian Cat Association (ICA).
Seharusnya pemilik gelar National Winner ini kembali berlaga di kompetisi kucing dunia FIFE (Federation Internationale Feline) World Show 2023 di Strasbourg, Prancis, akhir Oktober lalu. Sialnya, Moonlight mendadak sakit. “Bulan Agustus kemarin aku bawa dia ke Bandung buat ikut kompetisi. Tapi dia mendadak collapse, badannya kejang dan jadi lumpuh,” katanya. Belakangan diketahui terdapat virus yang menyerang syaraf kucing bercorak hitam putih itu.
Di waktu yang sudah mepet, Natalia menggantikan Moonlight dengan Ares. Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ares merupakan anak dari Moonlight yang paling mewarisi gen sang ibu. Meski usianya masih delapan bulan, Ares sudah sering mengikuti cat show. Sama seperti ibunya, kucing ras American Curl ini juga sering menjuarai kompetisi.
“Buru-buru kita kirim sample darah sebagai persayaratan untuk ikut kompetisi di sana. Pesawat kita berangkat pukul 17.00, hasilnya keluar semalam pukul 24.00. Wow, udah dag dig dug. Masa iya duit hangus?" ujar Natalia.
Untuk mengirim kucing ke luar negeri, Natalia harus merogoh kocek dalam-dalam. “Kebetulan baru tadi pagi hitungan sama suami, begitu dirupiahin semua, 'Wah, lumayan juga. Habis Rp 140 juta untuk keperluan satu kucing aja',” katanya. Natalia ditemani suami dan dua anaknya saat berangkat ke Prancis.
Baca Juga : Mencetak Kucing Juara
Setelah melewati 18 jam perjalanan melelahkan di pesawat, Ares masih harus berlaga melawan sekitar 1400-an kucing ras dari seluruh dunia. Namun Ares mampu menunjukkan performa luar biasa. Hasilnya, Ares sukses meraih Second Best Nomination. Ares merupakan kucing terbaik di kategori Junior American Curl.
“Walaupun menang nggak ada hadiahnya, hanya pride aja, kita sebagai breeder akan tercatat secara internasional. Kalau ada yang mau cari kucing American Curl dengan blood line yang bagus, secara otomatis cattery kita akan masuk di list referensi,” tutur wanita yang juga menjabat sebagai Ketua ICA Cabang Jakarta ini.
Sebagai breeder, Natalia jeli melihat potensi terpendam kucing sejak masih bayi. Kemampuannya terasah sejak pertama kali membuka cattery. Saat itu Natalia mendapatkan rekomendasi dari Cacang Effendi, salah satu breeder kucing terkemuka di Indonesia, untuk membiakan kucing Persia Peaknose yang berhidung pesek.
“Kucing pesek itu perawatannya sulit. Udara berubah dia pilek, matanya gampang berair dan iritasi. Perawatan bulunya juga susah. Kalau bisa pelihara tanpa sering ke dokter artinya sudah lulus. Jadi, kalau mau ganti ras lain sudah gampang,” ujar Natalia yang sudah menyukai anabul sejak masih kecil. Benar saja, Natalia menjumpai tantangan luar biasa saat memelihara kucing Persia ini. Karena peminat kucing peaknose sudah berkurang, kini Natalia leboh fokus membiakan American Curl dan Sphynx,
Natalia merawat para anabul di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai Bank Rakyat Indonesia. Sebelum berangkat kerja dan sesudah pulang, ia masih turun tangan memandikan dan memberi makan mereka. Di kala cuaca sedang tidak menentu, Natalia mendukung kesehatan mereka dengan memberikan vitamin dalam bentuk oral selama seminggu. Kini Natalia juga bisa mempraktekan grooming dan memberikan pertolongan pertama pada kucingnya.
“Kalau Sphynx mandiin 7 ekor, 2 jam aja kelar. Tapi kalau mandiin si Persia ini, apalagi kalau mau show, 1 kucing itu 3 jam baru kelar,” ungkapnya.

Sebagian dari banyak piala yang berhasil didapat kucing-kucing milik Natalia Christanto dari berbagai kompetisi
Foto: Pradita Utama/detikcom
Natalia juga sudah mahir membantu para kucingnya dalam persalinan. “Kalau ada kucing mau lahiran saya cuti. Makanya hari libur saya habis buat cuti lahiran semua,” canda Natalia.
Imbas dari para kucing yang kerap juara ini, Natalia mendapatkan dukungan dari brand makanan dan dokter hewan. Sponsor itu membantu memangkas biaya yang harus ia keluarkan untuk para kucing. Dalam sebulan, Natalia menghabiskan biaya sebesar Rp 20 juta untuk merawat kucing-kucingnya. Uang itu ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan akomodasi selama mengikuti kompetisi.
Berkat kucing juara ini, harga adopsi juga ikut melambung. Kucing yang memiliki pet quality ia lepas di kisaran Rp 10-15 juta. Saat pandemi COVID-19 kemarin, dalam waktu tiga bulan, Natalia berhasil menjual 12 ekor kucing. Namun, untuk kucing dengan kualitas show seperti Ares, para pecinta kucing tak segan menawar dengan nilai fantastis.
“Sampai dia kasih liat m-Banking dia. ‘Lo tulis, nih, mbak berapa harga yang lo mau. Nggak usah khawatir dengan saldo gue’,” cerita Natalia. Namun ia menolak tawaran itu. Ares sudah dicanangkan untuk mengikuti jejak ibunya dalam kejuaraan cat show. “Program aku sekarang bukan pure bisnis. Aku mau keliling Indonesia, ikutan international cat show. Investasi di situ dulu untuk bangun kualitas,” ungkapnya.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho