INTERMESO

Mencetak Kucing Juara

“Sebelum Bruce berangkat ke Prancis bahkan sudah ada yang nawar di angka Rp 800 juta.”

Foto: Bruce, kucing jantan milik breeder kucing Gunawan Firdaus (Dok Pribadi)

Sabtu, 02 Desember 2023

Sejak masih mungil, Bruce, seekor kucing jantan ras Sphynx sudah berhasil mencuri perhatian Gunawan Firdaus. Di balik penampilan tubuhnya yang berkerut dan tidak memiliki rambut, Bruce menyimpan begitu banyak keistimewaan. Ketimbang dua saudaranya, Bruce dikenal sangat ramah dan begitu lincah.

“Saya lihat dia (Bruce) punya karakter berbeda dan dari kecil sudah terlihat potensinya. Bruce ini makannya lahap dan banyak, tapi playful juga. Akhirnya muscle-nya terbentuk dan badannya jadi proporsional,” tutur Gunawan menceritakan tumbuh kembang kucing plontos miliknya.

Kedua mata indah Bruce yang berbentuk buah lemon memancarkan ekspresi penyayang. Bukan hanya Gunawan, orang asing sekalipun bisa jatuh cinta kepada keramahan Bruce. Jurus ini pula yang Bruce gunakan saat mengikuti ajang FIFE (Federation Internationale Feline) World Show 2023 di Strasbourg, Prancis, akhir Oktober lalu.

Di ajang kejuaraan kucing internasional ini, Bruce bersaing dengan berbagai ras kucing dari seluruh dunia. “FIFE World Show ini ajang tahunan dunia yang diadakan di Eropa. Kayak piala dunianya kalau di bidang sepak bola. Di sana Bruce bersaing dengan sekitar 1000-an peserta,” ucap Gunawan selaku perwakilan peserta dari Indonesian Cat Association (ICA). Selain Gunawan, dua pemilik kucing lainnya yaitu Natalia Christanto dan Markzefanya Cheerson juga ikut ajang tersebut. Namun, Gunawan sendiri tidak bisa berangkat ke Prancis karena berhalangan. Bruce dititipkan kepada peserta lainnya. 

Gunawan Firdaus saat berada di sebuah gelaran International Cat Show di Indonesia 
Foto: Dok Gunawan Firdaus

Hasil dari kompetisi yang berlangsung selama dua hari itu tak disangka-sangka. Kucing berusia dua tahun milik Gunawan terpilih menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang masuk nominasi Final Best in Show. Selain karakter, aspek penilaian juga dilihat berdasarkan anatomi kucing Sphynx yang memiliki ciri khas ramping, berotot, dan atletis.

“Kita bangga dan terharu juga karena ini momen pertama kalinya bisa memaksimalkan potensi anak-anak kita dan bendera Indonesia bisa berkibar di ajang cat show dunia,” ucap Gunawan yang sehari-hari berpofesi sebagai dokter gigi. “Ini sekaligus menjadi bukti nyata kalau breeder kucing di Indonesia kualitasnya sudah bisa disandingkan dengan Eropa sana.”

Kalau semua dikalkulasi menurut saya nggak akan ketemu ketulusan dalam merawat mereka."

Bruce sendiri bukan kucing sembarangan. Sejak usianya masih 13 bulan, hewan menggemaskan ini sudah konsisten mengikut berbagai perlombaan internasional yang diadakan di Indonesia. Kompetisi di berbagai kota seperti Solo, Pekanbaru, Balikpapan hingga Aceh sudah Bruce taklukan. Konsistensi Bruce dalam menjuarai berbagai kontes kucing membuatnya berhasil menggondol gelar Supreme Champion. Ini merupakan gelar tertinggi dalam kontes bergengsi yang diselenggarakan ICA.

"Kita sudah siapkan dari lama sekali, nggak mungkin serta merta ikut lomba. Tentu kita sebagai breeder harus memahami dulu standart breed kucing ini seperti apa supaya kita bisa menjalankan program dengan tepat. Kalau tidak direncanakan dari awal nanti akan salah jalan” kata pria berusia 34 tahun ini.

Kecintaan Gunawan kepada hewan berkaki empat bermula saat dirinya memelihara kucing kampung. Ketertarikan Gunawan berkembang hingga ia memilih untuk merawat kucing ras. Pilihan pertamanya jatuh kepada ras kucing Bengal. Kucing ini memiliki penampilan mirip macan tutul. Namun Gunawan sempat mendapatkan pengalaman tidak mengenakan saat mengadopsi kucing ras pertamanya itu.

Bruce, kucing yang masuk final best in show di ajang FIFE World Show 2023
Foto: Dok Indonesian Cat Association

“Saya dapat harga mahal dan nggak masuk akal. Saya pikir ada harga, ada kualitas, ternyata tidak. Akhirnya saya berpikir, nih, gimana caranya supaya saya nggak dapat pengalaman serupa lagi,” ucapnya.

Rasa penasaran membawa Gunawan untuk mempelajari dunia kucing lebih dalam. Ia lantas bergabung dengan organisasi ICA yang sudah berafiliasi dengan FIFE. Di sana Gunawan mengikuti diklat atau kelas singkat bagi para pecinta kucing yang ingin menjadi peternak kucing. Pada tahun 2018, Gunawan mengembangkan Cattery atau tempat pembiakan kucing yang ia beri nama Dentica. Gunawan memfokuskan Dentica sebagai wadah pengembangbiakan kucing ras Bengal dan Spyhnx. “Sekarang kucing ras Spyhnx total ada 11, Bengal ada 10,” katanya.

Demi mendapatkan bibit yang berkualitas, Gunawan mendatangkan induk Bruce dari Rusia. Proses mendatangkan indukan Bruce pun tidak mudah. Gunawan harus melewati proses tarik ulur yang cukup panjang dengan pemilik sebelumnya. “Pemilik ibunya Bruce awalnya nggak mau kasih karena stigmanya di Indonesia kesejahteraan kucing kurang diperhatikan,” kata Gunawan.

Tak menyerah, Gunawan menunjukan keseriusannya dalam merawat kucing-kucing Bengal yang sudah terlebih dahulu ia pelihara. “Sampai hampir 7 bulan baru dia percaya kalau kita di sini tidak menelantarkan mereka,” cerita Gunawan.

Selama menjadi peternak kucing, hanya segelintir kucing miliknya yang berpindah tangan ke breeder atau pemilik lain. Padahal semenjak Gunawan aktif mengikut sertakan ‘anak-anaknya’ dalam kontestasi internasional, sudah banyak orang yang membidik kucing-kucing miliknya. “Sebelum Bruce berangkat ke Prancis bahkan sudah ada yang nawar di angka Rp 800 juta,” Gunawan menolak halus tawaran itu.

Kucing Bruce (tengah) saat bersama kucing peserta lainnya di perhelatan FiFE World Show 2023
Foto: Dok Indonesian Cat Association

Semenjak menenggelamkan diri di dunia perkucingan ini, Gunawan sudah berkomitmen untuk merawat sekaligus meningkatkan kualitas kucing yang ia kembangbiakkan. Kemenangan di kompetisi internasional ia gunakan sebagai tolak ukur dan pembuktian bahwa cattery miliknya sudah berjalan di alur breeding yang benar dan sesuai standar internasional.

“Kalau melihat nominal, wah, kesempatan, nih, saya breeding aja cepat-cepat, tapi saya orientasinya nggak ke sana. Saya cuma senang dan hobi. Kalau saya bisa sampai titik ini ya, alhamdulillah,” ungkapnya.

Berbagai penghargaan dalam bentuk rosette, piagam, piala maupun trofi terpajang di Cattery miliknya yang terletak di Pondok Gede, Bekasi. Sepanjang mengikuti kontes kucing, Gunawan tidak pernah menerima hadiah dalam bentuk materi atau uang. Justru ia harus mengorek ongkos sendiri untuk menjadi peserta lomba. Gunawan juga tidak perhitungan soal biaya yang harus ia keluarkan demi perawatan kucing-kucing miliknya.

“Kalau semua dikalkulasi menurut saya nggak akan ketemu ketulusan dalam merawat mereka,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kontes dan Penjurian ICA pusat. “Komitmen saya untuk menyayangi dan merawat mereka. Saya anggap mereka kayak keluarga sendiri, akhirnya hilang, tuh, pikiran-pikiran yang membebankan itu dan sampai sekarang jadi enjoy.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE