Foto: Penumpang arus mudik berdiri di dekat pintu kereta ekonomi sekitar tahun 2000an (Dikhy Sasra/detikcoom)
Sabtu, 03 Juni 2023Ada sebuah peraturan tidak tertulis yang wajib dipatuhi Ilham Septian setiap kali ia menaiki kereta ekonomi. Tak peduli seberapa lapar dan haus dirinya atau seberapa inginnya ia buang air, Ilham tak boleh sedikit pun menggeser pantat maupun beranjak dari tempat duduk. Karena jika hal itu terjadi, maka bisa dipastikan sekembalinya ia selepas pergi, tempat duduk itu bakal berganti empu.
“Makanya dulu kalau naik kereta sendiri, saya, mah, nggak pernah ke gerbong restorasi,” ucap Ilham saat dihubungi detikX. Gerbong restorasi adalah gerbong kereta yang telah disulap menjadi restoran.
Ilham kembali mengingat pengalamannya saat pertama kali merantau ke Jakarta di awal tahun 2000-an. Bagi Ilham, yang gajinya masih pas-pasan, kereta ekonomi adalah alat transportasi andalan. Saat itu, harga tiket rute Pasar Senen-Malang dijual tak sampai Rp 100 ribu, dengan waktu tempuh selama kurang lebih 17 jam.
Kondisi kereta ekonomi yang ditumpangi Ilham waktu itu sangat kacau dan semrawut. Di masa itu, tidak semua penumpang kereta kebagian duduk meski sudah memegang tiket. Bagaikan zombie, penumpang termasuk Ilham menyerbu kereta yang baru saja berhenti di stasiun. Di dalam kereta yang sudah penuh sesak itu, mereka berebutan untuk mendapatkan tempat duduk.
“Saya beberapa kali terpaksa duduk di lantai cuma beralaskan koran. Soalnya perjalanan saya jauh banget. Kalau nggak duduk sama sekali kaki bisa gempor,” ucap Ilham. Ia masih ingat betul saat terpaksa duduk di lantai bersebelahan dengan ayam jago milik penumpang lain.
Setiap kali ia menumpangi kereta api itu, ia teramat jengkel ketika masinis kereta memberhentikan keretanya di setiap stasiun. Karena setiap berhenti, rombongan penumpang akan kembali memaksa masuk berikut dengan ‘penumpang gelap’ lainnya.

Potret kereta api ekonomi zaman dulu
Foto: Dikhy Sasra/detikcom
Baca Juga : Menjamur Calo Tiket Sepur
'Penumpang gelap' yang dimaksud Ilham adalah para pedagang dan pengamen yang memaksa masuk ke gerbong kereta meski kondisi di dalamnya sudah sangat penuh. “Dagang pecel, lah, jualan minuman, permen, belum lagi yang ngamen. Ada juga yang baca puisi. Padahal lorong gerbong udah penuh sama orang. Kebayang dong gimana rasanya?” ucap Ilham meringis.
Kalaupun nasib Ilham mujur dan kebagian tempat duduk, kursi kereta jarak jauh saat itu dan sebagian di masa sekarang hampir tak ada beda. Tempat duduk super tegak dengan formasi berhadap-hadapan. Busanya yang tipis dijamin akan membuat bokong siapa saja kesemutan dan mati rasa. Tempat duduk yang seharusnya hanya boleh diduduki tiga orang bahkan kadang diisi lima orang.
Penumpang di seberang saya kadang maksa selonjoran. Kakinya ngelewatin di antara dua kaki saya. Jadi rasanya aneh banget."
“Walaupun kondisinya, ya, begitu tapi saya masih bersyukur. Yang penting bisa selamat sampai tujuan,” ucap laki-laki asal Malang, Jawa Timur, ini mengenang masa-masa pertama kali merantau.
Sejak mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menjabat sebagai Dirut PT KAI pada 25 Februari 2009 hingga 27 Oktober 2014, PT KAI memang mengalami reformasi besar-besaran. Kereta ekonomi luar kota atau jarak jauh pun ikut berbenah.
Saat ini ketersediaan kursi sesuai dengan tiket yang terjual. Tak ada lagi 'penumpang gelap' maupun toilet pesing. Bahkan di kereta ekonomi juga sudah tersedia pendingin ruangan dan charger. Namun, sebagian kereta ekonomi memang masih memakai kursi tegak menjulang dan banyak dikeluhkan penumpang. Sementara sebagian kereta ekonomi lainnya sudah menggunakan kursi yang lebih nyaman.
***
Seumur-umur Wira Hardi belum pernah naik kereta api ke luar kota. Tahun 2019 silam, ia dan seorang temannya menjajal rute perjalanan Bandung-Kediri menumpangi kereta ekonomi. Satu bulan sebelum keberangkatan, ia sudah memesan tiketnya melalui aplikasi. Wira tak punya gambaran apa pun tentang kereta ini. Di hari yang sudah ditentukan, Wira masih menenteng ransel dengan riang gembira.
“Saya nggak mikir macam-macam. Dalam hati ‘wah pasti bakal seru, nih’ jalan-jalan sama teman naik kereta,” ungkap laki-laki berusia 24 tahun ini.

Ilustrasi kursi tegak kereta api jarak jauh
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Baca Juga : Kisah Pemudik di 'Gerbong Neraka'
Wira sudah tahu jika formasi tempat duduknya berhadap-hadapan, maka ia dan temannya akan duduk bertatap muka dengan orang tidak dikenal. Wira tak masalah dengan itu, tapi bangku yang didesain tegak membuatnya kurang merasa nyaman. Apalagi total lama perjalanan perdana yang ia tempuh selama hampir 13 jam.
Saat kereta melintasi Jawa Tengah, Wira masih bisa menahannya. Namun, saat memasuki wilayah Jawa Timur, badannya mulai pegal-pegal. Di malam hari ia tidak bisa memejamkan mata dan selalu saja terbangun. Postur tubuhnya yang tinggi membuat Wira lebih tersiksa karena kakinya tidak bisa selonjoran.
“Penumpang di seberang saya kadang maksa selonjoran. Kakinya ngelewatin di antara dua kaki saya. Jadi rasanya aneh banget,” imbuh Wira.
Pegal yang dirasakan badan Wira tak kunjung mereda meski telah melewati satu hari pasca menumpang kereta ekonomi. Makanya Wira sangat senang saat mendengar kabar bahwa kereta ekonomi akan dimodifikasi baik itu untuk gerbong dan kursinya. Sampai saat ini, belum diketahui kapan dan di mana wajah baru kereta ekonomi itu akan diluncurkan.
“Saran saya kalau kereta naik kereta ekonomi yang belum diperbaiki, apalagi perjalanannya di atas 10 jam, mending naik kereta eksekutif saja. Soalnya pegal banget. Saya udah ngerasain sendiri,” kata Wira kapok.
Reporter: Dimas Miftakhul Fakri
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho