INTERMESO

Kisah Pemudik di 'Gerbong Neraka'

Mudik dengan menumpang kereta api sebelum tahun 2009 seperti masuk 'gerbong neraka’. Penumpang berdesakan dan kepanasan.

Foto: Penumpang tersenyum walau berjubel di gerbong kereta api (Dhiky Sasra/detikcom)

Jumat, 21 April 2023

Empat belas tahun silam, setiap musim mudik Lebaran, stasiun kereta api penuh sesak. Calon penumpang berdesakan di peron dan di dalam gerbong kereta api. Penumpang berebut ketika masuk gerbong. Malah ada yang nekat masuk melalui jendela demi mendapatkan tempat duduk.

Volume gerbong tak sesuai kapasitasnya. Panas dan peluh mendera para penumpang yang duduk ataupun keleleran di lantai. Tak hanya itu, penumpang nekat duduk di sambungan rangkaian gerbong. Bahkan toilet pun terisi penumpang. Kondisi miris ini berulang setiap tahun pada musim mudik Lebaran.

"Saya nggak dapat bangku. Gerbong penuh sesak. Nongkrong di depan toilet. Macam-macem aroma terapi. Sampai Stasiun Balapan Solo badan bau apek," ungkap Doni, warga Kebun Jeruk, Jakarta Barat, berusia 50 tahun, saat berbincang tentang pengalaman mudik dengan kereta api era 1990-2009 kepada detikX, Selasa, 18 April 2023.

Setiap tahun, Doni bersama keluarganya memang sering pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri di Solo, Jawa Tengah. Mereka selalu berlangganan kereta api kelas ekonomi yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Dulu tiket ke Solo kelas ekonomi masih Rp 14-15 ribuan, tapi ngantrenya lama dan panjang. Bisa 40 menit sampai 1 jam lebih. Dulu, kan, belum ada online kayak sekarang," ucap Doni lagi.

Penumpang duduk berdesakan di penghubung antar-gerbong kereta api. Dhiky Sasra
Foto: Dhiky Sasra/detikcom

Menurut Doni, setiap tahun keluarganya bersiasat agar tak antre membeli tiket kereta api. Tapi, apesnya, mereka selalu keduluan calon penumpang lain yang sejak subuh atau pagi sudah mengantre membeli karcis. Tapi, walau lebih dulu mendapat karcis, bukan berarti bisa mendapatkan tempat duduk yang nyaman.

Udah pagi-pagi banter antre karcis, masuk peron berjubel, eh, masuk gerbong berebutan. Ada yang berani masuk lewat jendela,” ujar Doni.

Hal serupa dialami warga Manggarai, Jakarta Selatan, bernama Sigit Kurniawan. Pria berusia 54 tahun ini mengisahkan pengalaman nelangsanya saat mudik ke Kebumen, Jawa Tengah, antara 2003-2009. Sengsara mudik ke kampung dengan kereta api tak hanya berangkatnya saja, tapi pulang Kembali ke Jakarta pun mengalami hal serupa.

“Saya dapat istri orang Kebumen. Saya lahir dan besar di Jakarta. Jadi saya merasakan punya kampung karena istri saya orang sana. Mau nggak mau, ya, harus pulang kampung. Terlebih musim lebaran kayak gini,” kata Sigit kepada detikX, Rabu, 19 April 2023.

Karena itulah, Sigit dan istrinya mengubah strategi pulang kampung ke Kebumen pada hari H+1 atau H+2 lebaran Idul Fitri. Saat Lebaran hari pertama atau kedua biasanya penumpang tak seramai pada hari H-7 hingga H-1. "Tidak perlu juga harus berdesak-desakan, tempat duduk pasti dapat juga," imbuh Sigit.

Toilet dan kamar mandi gerbong kereta api dipenuhi penumpang
Foto: Dikhy Sasra/detikcom

Setelah berlebaran di Kebumen, Sigit biasanya kembali ke Jakarta seorang diri. Istri dan anak tetap tinggal bersama mertuanya lebih lama. Pasalnya, cuti kerja saat Lebaran hanya dua hari. Makanya hari H+3, ia harus segera kembali ke Jakarta. Naik kereta api.

Ia antre untuk membeli tiket di Stasiun Kebumen dengan tujuan Stasiun Jatinegara. Ia membeli tiket Kereta Api Sawunggalih seharga Rp 150 ribu. Membeli tiket pun untung-untungan bisa mendapatkan tempat duduk. Tapi apa mau dikata, rezeki belum berpihak kepadanya. Ia mendapatkan tiket, tapi tak mendapatkan tempat duduk.

“Jadi tetap dapat tiket, tapi tidak dapat tempat duduk. Nggak apa-apalah saya pikir. Toh, nanti bisa duduk di lorong atau sambungan gerbong kereta api,” jelasnya.

Benar saja, Sigit mendapat tempat di sambungan gerbong, di depan toilet. “Itu aja sudah banyak penumpang meski belum padat. Duh, jangankan di lorong, di sambungan pun sudah penuh penumpang. Jadi jangan harap bisa duduk,” keluh Sigit mengenang pengalaman pahitnya itu.

Akhirnya Sigit berdiri selama perjalanan pulang di atas kereta api menuju Jakarta. Dia sempat terdorong penumpang lain yang berjubel hingga pintu. Kesialan bertambah ketika sampai di Stasiun Gombong, penumpang bertambah banyak. Dirinya terdorong ke dalam, tapi masih berada di sambungan rangkaian gerbong.

Sigit hanya bisa berdiri hingga sampai Stasiun Cirebon. Jumlah penumpang ternyata tak berkurang. Semula ia hendak pindah ke gerbong lokomotif, walau harus menambah biaya lagi. Tapi hal itu ia urungkan, karena alasan waktu tempuh Cirebon-Jakarta yang hanya tiga jam. Ia masih sanggup untuk berdiri selama perjalanan.

“Saat turun, kaki saya bengkak. Mungkin aliran darah terganggu,” pungkas Sigit tertawa.

Gerbong barang disulap jadi gerbong penumpang.
Foto: Dhiky Sasra/detikcom

Sigit dan Doni kini merasa lega, kondisi perkeretaapian di Indonesia semakin membaik. Baik sistem pembelian tiket secara online tanpa antri, kondisi gerbong kereta yang ber-AC, tempat duduk yang nyaman, dan tak lagi ada penumpang yang boleh berdiri. “Lebih manusiawi, lah, ha-ha-ha," ucap Doni.

Kondisi perkeretaapian berubah drastis setelah PT Kereta Api Indonesia (KAI) bebenah sejak direktur utama-nya dijabat oleh Ignatius Jonan pada 2009. Sebelumnya, perusahaan kereta api plat merah itu mengalami kerugian sekitar Rp 80 miliar.

Perombakan total yang dilakukan Jonan sempat mendapat hambatan dari pihak internal PT KAI. Namun, lambat-laun, ia sukses membenahi kondisi stasiun menjadi lebih rapi dan bersih. Begitu juga membenahi atau meremajakan rangkaian garbong kereta api, mengubah sistem pembelian tiket, dan memberantas percaloan.

Pembenahan yang dilakukannya membuahkan hasil yang signifikan. Dikutip dari buku KAI Recipe: Perjalanan Transformasi Kereta Api Indonesia tulisan Toto Pranoto, Nurdin Sobari, Rusli Prijadi, dan Thamrin PH Simanjuntak (2015), setelah era Jonan, PT KAI sukses mengubah laba-rugi dari minus menjadi plus. Keuntungan pada 2014 mendekati Rp 1 triliun.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE