INTERMESO

Kisah Eksekusi Mati Mata Hari

Margaretha adalah penari erotis Belanda. Penari yang dijuluki Mata Hari itu dihukum mati karena dituduh menjadi mata-mata Jerman.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Sabtu, 14 Januari 2023

Hari masih pagi sekali ketika sebuah truk militer Prancis berwarna abu-abu keluar dari pintu gerbang penjara Saint Lazare, Paris, Senin, 15 Oktober 1917. Selain berisi belasan tentara, di dalam truk itu juga terdapat seorang pengacara, biarawati, pendeta, dan seorang tahanan perempuan berumur sekitar 41 tahun. Perempuan cantik itu mengenakan gaun hitam dengan model hobble skirt.

Truk melaju kencang ke arah timur Kota Paris yang dijuluki La Villes des Lumieres. Truk menuju sebuah tempat sepi berjarak 10 Km dari penjara. Dalam hitungan 20 menit, truk tiba di sebuah lahan kosong yang dipenuhi rumput, tak jauh dari reruntuhan benteng dan kastil peninggalan Kerajaan Prancis, Chateau de Vincenne.

Belasan tentara dengan sigap turun dari truk. Disusul kemudian dua biarawati, seorang pastur, dan pengacara. Terakhir yang turun adalah perempuan yang bergaun hitam. Wajahnya terlihat datar dan pucat ketika digiring menuju sebuah tiang pancang yang terdapat 12 tentara dengan senapan di tangan mereka.

Perempuan bergaun hitam itu adalah Margaretha Geertruida Zelle. Ia berkebangsaan Belanda. Margaretha akan dieksekusi mati di hadapan regu tembak. Ia divonis bersalah karena terbukti menjadi mata-mata Jerman dalam Perang Dunia I. Perempuan itu hanya bisa pasrah ketika nyawanya tak lama lagi akan terlepas dari raganya.

Pastur Arbaux, Jaksa Penuntut Pierre Bouchardon, dan pengacara Eduardo Clunet sempat berbincang-bincang. Lalu mereka menyerahkan Margaretha kepada komandan regu tembak militer Prancis berpangkat sersan mayor. Lalu Margaretha diikat di tiang pancang setinggi dua meter. “Tolong, tutup matanya!” perintah sang sersan mayor.

“Haruskan aku memakai itu?” tanya Margaretha sambil memandangi kain penutup mata itu. Clunet, pengacaranya, memandang ke arah komandan pasukan regu tembak dengan penuh tanya. “Kalau nyonya tidak mau, itu tidak wajib,” jawab sang komandan.

Margaretha tak mau matanya ditutup. Ia menatap dengan tabah kepada 12 algojo yang akan menembaknya. Segerombolan burung di atas pepohonan tiba-tiba berterbangan mendengar suara senapan menyalak bersamaan. Seketika tubuh Margaretha terkulai, masih terikat di tiang. Lututnya nyaris menyentuh tanah saat nyawanya melayang.

Margaretha Zelle 'Mata Hari' di Paris tahun 1905
Foto: Keystone/Getty Images 

Begitulah detik-detik eksekusi mati terhadap Margaretha. Ia adalah seorang penari yang dijuluki Mata Hari atau Red Dancer, seperti tergambar dalam novel karya Paulo Coelho berjudul The Spy pada 2016. Coelho menulis novelnya itu setelah mendapatkan setumpuk dokumen rahasia dinas intelijen Prancis, Inggris, Belanda, dan Jerman.

“Saya pulang dengan segunung dokumen,” kata Coelho. Namun, pertanyaannya, bagaimana Mata Hari bisa terjebak dalam begitu banyak perangkap yang dibuat oleh teman dan musuh-musuhnya, seperti dikutip Deutsche Welle, 12 Desember 2016.

Tak hanya Coelho, kisah drama tentang Mata Hari juga ditulis Major Thomas Coulson dalam bukunya berjudul Mata Hari: Courtesan and Spy (1930). Mata Hari lahir di Leeuwarden, Belanda, pada 7 Agustus 1876. Ia merupakan putri pasangan seorang pembuat topi di Belanda bernama Adam Zelle dan Antje van der Meulen.

Pada usia 18 tahun, Mata Hari menikah dengan Kapten Rudolf John MacLoed, seorang perwira Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Ia pernah ikut suaminya berdinas di Hindia Belanda, tepatnya di Jawa Timur. Tapi, sejak bercerai dengan sang perwira, Mata Hari kembali ke Prancis dan menjadi penari erotis di Museum Guimet, Paris, sejak 1905. Saat itu usianya 25 tahun.

Museum milik Emile Guimet memang sering menampilkan kebudayaan dan kesenian Asia, Timur Tengah, India, dan Hindia Belanda. Mata Hari lihai menari tarian India dan Jawa. Tariannya sangat erotis, dengan pakaian yang transparan. Karena itulah ia dijuluki Lady MacLeod, Red Dancer, dan panggilan yang paling populer adalah Mata Hari.

Bayarannya sebagai penari sangatlah mahal. Boleh dibilang Mata Hari adalah selebriti papan atas dan simbol seksualitas saat itu. Ratusan orang kaya di Paris rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati kemolekan tubuh Mata Hari. Banyak juga para pria kaya, pejabat pemerintah, dan militer ‘perang dingin’ dalam menaklukan Mata Hari.

Kondisi itulah yang membuat hidup Mata Hari begitu glamor. Tinggal di hotel mewah, pakaian serba mahal, dan makanan lezat. Belum lagi segudang perhiasan yang ia punya. Tapi kemewahan yang didapat tak lama dan mulai meredup seiring bertambahnya usia.

Penampilan Mata Hari di Museum Gumiet Paris, 13 Maret 1905
Foto: L'historie Parl'Image

Disaat mulai pecah Perang Dunia I pada 1914, Mata Hari dimanfaatkan agen intelijen. Apalagi, ia begitu banyak relasi dengan pria kaya dan perwira militer. Seperti dikutip dari National Geographic, Mata Hari, ketika tengah berada di rumahnya di Den Haag, dikunjungi Konsul Kehormatan Jerman di Amsterdam, Karl Kroeme, awal 1916. Kroemer menawarinya uang 20.000 franc atau setara US$ 61.000  untuk memata-matai kekuatan Prancis dan sekutu.

Mata Hari menerima uang itu. Kroemer disebutkan banyak melatih Mata Hari menjadi mata-mata. Ia bahkan sempat disebutkan menjalani pendidikan spionase beberapa pekan di sebuah tempat di Antwerp, Belgia. Semua informasi yang dilaporkan Mata Hari harus dibubuhi tanda tangannya dengan sandi H21, dan dikirim ke Hotel de I'Europe di Amsterdam.

Tak beberapa lama, Mata Hari kembali ke Paris dan tinggal di Hotel Grand. Tanpa disadari, gerak-geriknya selalu diawasi sejumlah agen rahasia dari Biro Deuxieme, sebuah unit kontra intelijen dari Kementerian Perang Prancis yang dikepalai oleh Georges Ladoux.

Ladoux meminta semua aktivitas Mata Hari dipantau. Entah di taman, restoran, toko makanan, toko perhiasan, butik sampai klab malam. Para agen itu juga menyadap telepon dan surat milik Mata Hari. Tapi hasilnya selalu nihil. Tak satupun indikasi yang mengarah bahwa Mata Hari mengumpulkan dan memberikan informasi kepada Jerman.

Dalam Perang Dunia I, pasukan Prancis menang begitu terdesak, seperti wilayah Verdun dan Somme yang kian luluh lantak. Mental prajurit terpukul. Untuk membangkitkan semangat juang sangat dibutuhkan gerakan kejutan. Salah satu upaya dengan operasi spionase. Kesempatan ini digunakan Ladoux mendekati mantan penari erotis tersebut.

Ladoux memanfaatkan Mata Hari sebagai spion Prancis. Apalagi ia tahu bahwa Mata Hari sangat butuh uang untuk biaya merawat kekasihnya yang tengah terluka berat dan dirawat di rumah sakit Den Haag. Kekasihnya itu adalah Kapten Vladimir de Massloff, seorang pilot pesawat tempur Rusia yang ditugaskan membela Prancis. 

Mata Hari mengamini tawaran Ladoux dengan janji akan menerima bayaran mahal dan bisa mengunjungi kekasihnya di Den Haag. Ia lalu ditugaskan melakukan perjalanan ke Madrid, Spanyol, menggunakan Kapal SS Hollandia. Tapi, begitu transit di Pelabuhan Folkestone, Inggris, Mata Hari diinterogasi agen intelijen Inggris, M16.

Mata Hari dicurigai sebagai agen Jerman dengan nama Clara Benedix. Karena terdesak, Mata Hari mengaku sebagai agen dari Prancis. Pihak Inggris tak lama mengontak Ladoux. Tentu saja, Ladoux tak mengakui Margaretha sebagai agennya dan meminta sejawatnya di Inggris untuk melepasnya dan melanjutkan ke Spanyol. 

Foto Margaretha Zelle 'Mata Hari' saat ditangkap polisi di Prancis pada 1917
Foto: Museum of Friesland Leeuwarden/BBC 

Ladoux memang sengaja tak mengakui dan mempekerjakan Mata Hari untuk membuktikan bahwa perempuan itu telah menjadi agen Jerman. Di Madrid, Mata Hari bertemu secara rahasia dengan diplomat Jerman, Mayor Arnold von Kalle pada Desember 1916. Kalle yang diketahui sebagai kekasih gelap Mata Hari membocorkan rahasia pendaratan tentara Jerman dan Turki di perairan Maroko. 

Informasi ini disampaikan kepada Ladoux melalui Kolonel Joseph Denvignes dari Kedutaan Prancis. Denvignes juga pria yang menaruh hati kepada Mata Hari. Ladoux memerintahkan semua pesan radio antara Madrid dan Berlin dipantau. Ladoux sangat yakin hubungan relasi Mata Hari dengan Jerman sangat kuat.

Setelah dari Madrid, Mata Hari kembali ke Paris. Ia bermaksud untuk menemui Ladoux meminta janji bayaran yang akan diterima atas pekerjaannya itu. Tapi Ladoux selalu menghindar dan malah melaporkan Mata Hari sebagai agen Jerman atau agen ganda kepada pihak Kejaksaan Prancis.

Di awal 1917, Mata Hari mulai panik. Ia tak bisa menemui Ladoux untuk menagih janji. Di sisi lain, ia juga khawatir dengan keadaan Vladimir, kekasihnya yang sangat sulit dihubungi juga. Saat kondisinya sedang kalut, Mata Hari ditangkap dinas intelijen. Kamarnya digeledah. Ia dijebloskan ke penjara Saint Lazare. 

Kasusnya dilimpahkan kepada jaksa penuntut Pierre Bouchardon yang dikenal keras dan tak kenal belas kasihan. Pierre sangat dikenal membenci sosok Mata Hari. Selama ditahan di penjara Saint Lazare, Paris, Margaretha sulit ditemui pengacaranya, Eduardo Clunet. Bahkan sejumlah surat yang dikirimkan kepada kekasihnya Vladimir de Massloff ditahan dan tak pernah sampai. 

Setelah melalui serangkain persidangan panjang sejak 24 Juli 1917, Mata Hari pun divonis bersalah. Ia dituduh sebagai manusia tak bermoral yang telah menyebabkan kematian 50.000 prajurit sekutu di atas kapal perang. Kapal itu ditorpedo kapal selam milik Jerman. Akhirnya hidup Mata Hari selesai di hadapan 12 regu tembak dari Resimen ke-4 Zouaves Bataliyob Dragoons ke-23.

“Demi Tuhan! Perempuan itu tahu bagaimana caranya mati,” komentar sang komandan regu tembak itu melihat tenangnya Mata Hari ketika akan dieksekusi.


Penulis: M. Rizal Maslan 
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE