INTERMESO

Pedang Bermata Dua untuk Agen Asuransi

"Ketika agen berfokus pada bisnis, yang mereka pikir adalah bagaimana caranya mengakusisi nasabah baru dengan cepat."

Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/ijeab

Minggu, 23 Oktober 2022

Harga diri Steven Paulinus bagai terinjak-injak di hadapan para junior di sekolahnya. Steven tak habis pikir, bagaimana bisa mereka menghasilkan uang sebanyak dua digit setiap bulan. Padahal usia mereka bahkan belum genap 20 tahun. Sementara Steven sendiri yang pada saat itu baru lulus kuliah saja masih luntang lantung tidak jelas. Jangan ditanya berapa isi dompetnya.

Hah, gila gue speechless banget. Gue aja waktu itu belum kebayang bisa ngedapetin income sebanyak itu. Yang penting saat itu buat gue bisa masuk dunia kerja dan ada kegiatan,” tuturnya.

Lulusan Universitas Tarumanagara ini makin kaget lagi saat mengetahui profesi yang dijalani para junior di sekolahnya. “Adik sekolah gue jadi agen asuransi. Dalam hati gue siapa yang bakal percaya sama anak muda? Di bayangan gue, tuh, yang harusnya jadi agen asuransi itu om-om atau tante-tante,” kata laki-laki berusia 29 tahun ini.

Di tahun 2016, Steven memutuskan terjun ke bisnis asuransi melalui agensi bernama Inspiring yang terdaftar dengan nama PT Inspirasi Makmur Sejahtera. “Anak bocah aja bisa, apa yang dia lakuin dan belum gue lakuin? Akhirnya gue coba nyeburin diri sampai sekarang.”

Bulan pertama bergabung menjadi agen asuransi, Steven hanya mengantongi pendapatan sebesar Rp 300 ribu. Uang itu ia dapatkan setelah berhasil memprospek satu nasabah yang adalah teman kuliahnya sendiri. Dari premi yang dibayarkan nasabah, Steven mendapatkan presentase komisi sebesar 30%.

Hampir tujuh tahun Steven berkiprah sebagai agen asuransi. Kini ia memegang jabatan Associate Agency Director. Steven bisa merekrut agen baru dan mendapatkan komisi tambahan dari setiap nasabah yang berhasil didapatkan oleh agen di bawahnya.

Pendapatan Steven sebagai agen asuransi memang belum melampaui perempuan berpenghasilan Rp 1 miliar yang beberapa lalu sempat viral. Tapi setidaknya Steven bisa membuat orang tuanya menikmati masa pensiun dengan tenang. Seperti sekarang ini, kedua orang tuanya tengah menghabiskan waktu liburan di kampung halamannya di Pulau Bangka.

Steven Paulinus (kiri)
Foto: Dok Pribadi 

“Sekarang per bulan baru di angka Rp 28 jutaan. Dan itu naik turun. Rasionya sekarang ketemu tiga orang, yang closing 1 orang,” ucap Steven membocorkan pendapatannya sebagai agen asuransi.

Dari hasil komisi menjual produk asuransi, Steven juga membelikan keluarganya sebuah mobil MPV berwarna abu-abu. “Sengaja beli mobil yang bisa muat orang banyak. Soalnya dulu gue, kan, nebengers. Sekarang pengin-nya bisa kasih tumpangan buat orang lain.”

Sekian lama berkecimpung di dunia asuransi, Steven kerap mendengar ada agensi di asuransi yang sengaja meminta para agennya untuk melakukan flexing alias pamer. Mereka dengan sengaja menampilkan dan mencitrakan diri sebagai anak-anak muda sukses yang kerjaannya meeting di restoran mewah. Feeds di Instagram mereka berisi foto jalan-jalan ke luar negeri atau foto bersama dengan latar belakang mobil mewah.

“Yang disayangkan leader mereka bilang jangan takut buat pelihara macan alias mobil mewah kayak sekelas BMW misalnya. Akhirnya ada bebebapa orang speak up, mereka berdarah-darah buat nyicil mobil,” ungkapnya.

Mereka menjual kisah anak-anak muda yang menjadi kaya dalam waktu tergolong singkat. Dengan cara itu harapannya, mereka bisa merekrut orang baru untuk bergabung ke dalam ‘bisnis’ mereka yaitu menjadi agen asuransi. “Ironinya banyak anak muda yang sevisi dengan itu. Karena banyakan generasi ke sini pengin sesuatu yang instan, yang cepet. Uang itu nggak munafik kita butuh supaya kita punya pilihan. Tapi uang bukan juga jadi yang utama.”

Konten flexing akan menjadi pedang bermata dua, terutama karena literasi perihal asuransi yang masih rendah di Indonesia. Sebagai seorang kreator konten sekaligus agen asuransi, Calvin Chandra juga merasa flexing bukan pilihan tepat. Konten flexing pada akhirnya akan menarik orang yang salah. Orang yang tujuannya hanya ingin mencari ‘mangsa’ sebanyak-banyaknya.

“Seringkali akan menarik orang yang bermotivasi hanya purely di bisnis, tidak ada hati untuk service. I’m not saying semua begitu tapi bisa aja dan itu yang mau kita hindari,” kata pemilik akun Instagram @calvinchandra yang diikuti 40 ribu pengikut ini.

Namun setelah ‘mangsa’ itu berhasil didapat, teken kontrak dan membayar premi asuransi, para agen asuransi gadungan ujungnya akan masa bodo amat dengan nasabahnya. Nasabah kecewa lalu menyalahkan asuransi karena dianggap tidak becus dan hanya mengobral janji palsu.

“Masalahnya hampir selalu ada di agen. Ketika agen berfokus pada bisnis, yang mereka pikir adalah bagaimana caranya mengakusisi nasabah baru dengan cepat. Makanya mereka nge-by pass hal-hal yang esensial. Fakta lapangannya, berapa agen asuransi yg benar-benar menguasai produk?,” imbuh Calvin yang dua tahun berturut-turut mendapatkan salah satu penghargaan bergengsi di bidang asuransi yaitu MDRT atau Million Dollar Round Table.

Calvin Chandra
Foto: Dok Pribadi

Padahal menjadi agen asuransi bukanlah pekerjaan mudah. Dua tahun lalu, Calvin bergabung menjadi agen asuransi. Pekerjaan ini dirasa tepat untuk dirinya yang tidak suka terikat pada tempat dan waktu. Setelah tiga bulan mendalami bisnis asuransi, barulah Calvin mulai mencari calon nasabah.

“Aku hampir tiap bulan bayar duit ikut seminar sama dokter. Jadi agen itu harus paham klaim dan kondisi medis ada ribuan serta kompleks. Misalnya bagaimana tata cara klaim kalau ada kondisi jantung. Kalau ada cancer apa yang harus diketahui. Makanya komisi agen gede karena tugas mereka seperti itu. It is what expected from us,” katanya.

Dapat melindungi aset dan masa depan kliennya adalah kepuasaan tersendiri bagi Calvin. “Income gue nggak miliaran, nggak ratusan juta jadi agen, tapi gue bahagia.”

Tanggung jawab seorang agen asuransi tak hanya mengurusi berkas klaim. Menjadi agen asuransi artinya senantiasa hadir di saat klien membutuhkan. Agen asuransi tak boleh mengeluh meski tengah malam direpotkan dengan urusan klien.

“Tanpa ada screening yang benar terhadap calon agen asuransi, suatu saat kalau nasabah sakit, tengah malam telepon. Apa orang itu mau menghubungi rumah sakit untuk mencari kamar?” ujar Calvin.

Bagi Steven, hubungan antara dirinya dan klien bukan sekedar relasi bisnis semata. Itulah mengapa ia sampai menjadi ‘tamu kehormatan’ di acara keluarga orang lain dalam rangka memperingati ulang tahun ke-92 seorang nenek. Salah satu anggota keluarga si nenek itu adalah nasabah Steven.

“Lebih dari sekedar agen asuransi, malah jadi part of life-nya mereka, jadi partner mereka. Bukan cuma di momen dia lagi sakit aja. Kalau bisa di momen happy mereka juga gue hadir. Kayak misalkan momen nikahan atau ultah. Even gue pernah diminta nasabah buat nemenin belanja doang,” kata Steven.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE