INTERMESO

Cerita Sukses Tukang Nasi Goreng Keliling Amerika

“Hasil yang aku dapatkan dari setengah bulan bekerja sama dengan dua bulan jalan-jalan."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 25 September 2022

Di Amerika Serikat, Andrianto benar-benar sedang menikmati hidupnya. Pria asal Sragen, Jawa Tengah, yang sudah merantau sejak sepuluh tahun lalu ini nampaknya tak lagi pusing soal uang. Di sana, ia bisa mengelilingi Amerika selama berbulan-bulan dengan mobil campervan miliknya.

Jika uang di tabungannya sudah mulai menipis, barulah Andri mulai kembali bekerja sebagai ‘tukang nasi goreng’. Itu pun Andri hanya bekerja untuk waktu singkat saja. Selanjutnya ia akan kembali meneruskan perjalanan dan pindah ke kota lain di Amerika.

“Hasil yang aku dapatkan dari setengah bulan bekerja sama dengan dua bulan jalan-jalan. Tapi tetap aku atur supaya pengeluaran tidak lebih besar dari pemasukan. Jadi Tiap bulan 2 aku usahakan kerja. Aku sudah tiga kali trip keliling Amerika,” cerita Andri kepada detikX melalui sambungan telepon. Berkunjung ke setiap state di Amerika adalah impiannya.

Sebagai tukang nasi goreng, bayaran Andri di Amerika terbilang cukup besar. Tapi tukang nasi goreng yang dimaksud Andri tidak berjualan menggunakan gerobak dan berkeliling dari satu komplek ke komplek rumah. Andri bekerja sebagai hibachi chef di restoran Jepang. Salah satu menu yang ia sajikan kepada tamu adalah nasi goreng.

“Kenapa aku sebut tukang nasi goreng? Karena aku memang masak nasi goreng untuk tamu. Tapi ini versi lebih kerennya saja,” kata Andri.

Jika pernah menjajal makanan di restoran Teppanyaki, kurang lebih teknik dan cara masak yang digunakan Andri hampir sama. Andri akan memasak di sebuah meja grill di hadapan para tamu sambil melakukan atraksi dan menyelipkan permainan api.

Menu yang dibuat Andri bukan hanya nasi goreng. Ia juga harus mengolah aneka sayuran dan potongan daging ayam atau daging sapi yang sudah siap dimasak dan dibumbui.

“Orang yang nggak ada basic skill masak bakalan susah kerja di sini. Soalnya kita bukan cuma masak doang tapi plus dilihatin orang dan kamu nggak bisa nyicipin masakanmu enak atau tidak,” kata Andri dengan logat Jawa yang kental. Saking gugupnya, bisa saja hibachi chef salah memasukan bumbu dan akhirnya akan dikomplain tamu. “Kalau berkali-kali kena komplain bisa dipecat dan akhirnya mentalnya down, nggak bisa jadi hibachi chef. Kalau aku selama ini by feeling saja. Dari aroma dan warna makanannya.”

Andrianto saat berada di dalam mobil campervan-nya
Foto: Dok Pribadi

Hibachi chef dituntut untuk bisa melayani banyak orang dalam waktu bersamaan. Apalagi jika restoran sedang ramai. Andri tidak hanya diminta untuk meramaikan suasana dan membuat pengunjung senang. Terkadang ia juga harus meladeni permintaan tamu yang aneh-aneh.

“Waktu masak sayur kan ada wortel, brokoli, zucchini, mushroom sama bawang yang sudah dicampur. Nanti tamu ada yang minta nggak pakai brokoli. Ada lagi minta no mushroom. Ada lagi yang gluten free, harus pakai saus yang berbeda. Aku kerepotan karena harus masak meal-nya sendiri-sendiri,” ucap Andri yang pernah melayani 20 orang sekaligus.

Andri pernah dimarahi rombongan pengunjung keturunan India karena tidak sanggup meladeni permintaan mereka. “Lebih gilanya lagi, di meja ada satu orang alergi meat. Pokoknya dia sama sekali nggak bisa lihat daging merah. Dan satu lagi alergi udang. Nah, aku mau masakin buat yang lain tapi gimana? Masa mau aku tutupin matanya pas aku lagi masak?” cerita Andri. Akhirnya tamu itu keluar dari restoran sambil marah-marah.

Dulu, sebelum berangkat ke Amerika, Andri juga tidak memiliki keahlian memasak. Ia baru diajari memasak saat pindah ke Amerika. Awalnya, Andri bekerja di sebuah restoran burger, lalu pindah ke sebuah restoran fusion Chinese dan Thailand. Lalu kini ia bekerja sebagai hibachi chef di Idaho, sebuah negara bagian utara di Amerika. Sebagai hibachi chef, total sudah enam belas kali Andri keluar masuk restoran.

“Aku kerja di Amerika itu sebetulnya takdir saja, sih. Aku nggak pernah pengin merantau. Kebetulan ada lowongan kerja di Amerika. Aku ngelamar, terus waktu interview bulenya bilang ‘I like your smile’ dan aku keterima,” cerita Andri.

Perjalanan Andri ke Amerika tidak mulus-mulus amat. Begitu sampai bandara di Amerika, kopernya hilang. Yang tersisa hanya baju dan celana di badan. Andri juga hampir menyerah karena tidak tahan dengan musim dingin. Waktu itu ia sampai mimisan setiap hari.

“Aku udah mau menyerah, pulang ke Indonesia. Aku udah nggak kuat, cuacanya terlalu ekstrem. Tapi aku pikir, aku sudah terlalu jauh melangkah. Aku nggak mungkin balik ke belakang,” imbuh Andri yang juga ingin membuka usaha sendiri di Amerika.

Chef Andrianto
Foto: Dok Pribadi

Untungnya Andri tidak jadi pulang karena ternyata sekarang ia sangat menikmati hidupnya di Amerika sebagai hibachi chef. Setelah melewati badai pandemi Covid-19, profesi hibachi chef di Amerika malah semakin dicari. Restoran Jepang di sana malah kesulitan mencari hibachi chef karena kebanyakan di antara mereka kembali ke negara asal saat pandemi sedang parah-parahnya.

Hibachi chef di Amerika 90 persen yang pegang orang Indonesia. Dan setiap tahun restoran hibachi yang baru buka itu bermunculan terus. Tapi karena pandemi, banyak hibachi chef balik ke Indonesia for good,” ucapnya. Pemilik restoran sampai terpaksa memberikan pelatihan kepada warga lokal untuk menjadi hibachi chef. Tapi mereka tetap saja tidak bisa menggantikan hibachi chef dari Indonesia yang sudah terbukti ramah, ulet dan pekerja keras.

Begitu mudahnya mencari pekerjaan sampai membuat Andri bisa keluar masuk restoran sesuka hati. Apalagi Andri sudah mempunyai pengalaman di bidang ini. Supaya Andri tak pindah bekerja di restoran lain, para bos restoran bersedia mengakomodir keinginan Andri untuk bekerja tidak tetap dalam kurun waktu beberapa bulan saja.

Anytime aku mau bekerja mereka nggak masalah. Apalagi aku sudah dekat sama juragan (pemilik restoran). Asal mereka tahu cara aku kerja, ibaratnya okey, lah,” kata Andri. Setiap hari ada saja lowongan pekerjaan hibachi chef yang ia terima.

Sebagai hibachi chef, Andri juga menerima sejumlah fasilitas seperti tempat tinggal dan makan gratis. Selain gaji, Andri juga menerima tips dari tamu. “Satu meja ada 10 orang. Masing-masing ngasih US$ 20. Lumayan banget, kan. Di Amerika untuk service sudah dibiasakan untuk ngasih tips. Itu sudah jadi suatu kewajiban. Apalagi kalau service-nya baik, bisa dapat double,” ujarnya. “Untuk gaji standar itu US$ 5.000 (Rp 75 juta) sudah bersih after tax.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE