INTERMESO

Anak Muda 'Jompo' Antijalan Kaki

Dari pada jalan kaki, para anak muda 'jompo' ini lebih rela naik ojol atau motor, meski harus mengeluarkan uang.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 7 Agustus 2022

Akhir bulan lalu, ramai-ramai di media sosial membahas ‘pencapaian’ Indonesia dengan predikat negara yang paling malas berjalan kaki. Pembahasan ini pun sempat trending di kalangan pengguna Twitter. Mereka kompak saling menertawakan dan mengolok kemalasan diri sendiri.

Keributan ini sebetulnya berasal dari sebuah penelitian lama di tahun 2017 silam oleh Stanford University. Penelitian yang berjudul "Large-scale Physical Activity Data Reveal Worldwide Activity Inequality" itu menyoroti orang Indonesia yang rata-rata hanya berjalan kaki sebanyak 3.515 langkah. Padahal angka rata-rata global mencapai 5.000 langkah per hari.

Berbagai studi medis sudah menjelaskan beragam manfaat yang dapat diraih jika kita rajin berjalan kaki. Begitu pula dampak menakutkan jika malas jalan kaki. Minimnya aktivitas fisik bak membuka gerbang untuk beragam penyakit mematikan. Ketimbang aktivitas fisik lainnya, jalan kaki merupakan jenis olahraga yang paling murah dan mudah, bisa dilakukan oleh siapapun tanpa memandang gender dan usia.

Lantas apa predikat itu otomatis membuat orang Indonesia sadar diri dan menjadi rajin jalan kaki? detikX berbicara dengan Nadya Safira, seorang content writer di sebuah perusahaan start up di Jakarta Selatan. Ia adalah perempuan berusia 27 tahun yang mengklaim dirinya sebagai orang yang paling malas jalan kaki. Bisa jadi langkah harian yang ditempuh Nadya jauh di bawah rata-rata langkah kaki orang Indonesia.

“Apalagi kerjaan gue yang kebanyakan cuma nulis, mendukung banget buat ngendon di kos, nggak perlu ke mana-mana. Ditambah sejak COVID-19, gue makin malas pergi ke luar,” katanya yang indekos di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Sehari-hari, Nadya hanya berkutat di dalam kamar kos berukuran 3x4 meter. “Lo bayangin aja, deh, kamar kos gue sekecil itu dan kebanyakan gue, tuh, cuma diem di kamar. Paling ke luar buat ke kamar mandi soalnya kosan gue kamar mandinya di luar. Gimana mau 3.000 langkah per hari coba?" tawa Nadya.

Sejumlah karyawan berjalan kaki di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat 
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Di dalam kamar, Nadya begitu dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang membuat dirinya semakin mager. Penyejuk udara yang dingin, lemari berisi aneka cemilan bak warung, ditambah lagi kulkas dan dispenser mini. Tak heran jika Nadya enggan keluar menerjang panasnya udara di luar.

Pandemi COVID-19 'mendukung' kemageran Nadya. Semua aktivitas digantikan melalui online meeting. Ibadah Minggu pun Nadya tidak perlu ke luar kamar. Meski kini umat di gerejanya sudah ibadah offline, tapi Nadya masih memilih ibadah online.

Kalaupun aktivitasnya mengharuskan Nadya untuk ke luar, ojek online menjadi penyelamat di tengah cuaca Jakarta yang begitu menyengat. Sebagai anak rantau di Jakarta hidupnya terasa mudah berkat bantuan ojek online.

Ojol, tuh, udah kayak true hero banget buat gue. Kalau nggak ada ojol gue nggak tahu bakal kayak gimana,” ucapnya.

Hari Minggu dulu saat masih kuliah, Nadya masih rela naik bus TransJakarta ke mall dan jalan kaki berjam-jam untuk berburu barang diskon di mall atau pasar loak. Sekarang aktivitas itu tergantikan dengan olahraga jempol di e-commerce atau online shop kesayangannya. Sampai-sampai Nadya menjuluki dirinya sebagai anak muda jompo.

Istilah anak muda atau remaja jompo ini memiliki arti anak-anak muda yang mengalami lemah fisik, mudah sekali pegal-pegal, masuk angin, nyeri pinggang dan sebagainya. Padahal secara fisik mereka masih muda dan baru sebentar saja melakukan aktivitas fisik. Starter pack alias barang-barang yang wajib dibawa para seperti koyo, minyak angin atau minyak kayu putih.

“Kemarin gue diajakin ke pameran di PRJ sama temen. Gue udah males banget tapi nggak enak nolaknya. Pulang dari sana kaki gue sakit banget rasanya, sampai gue olesin obat gosok,” katanya. Mungkin karena terlalu lama tidak pernah jalan kaki untuk jarak yang lumayan jauh membuat otot-otot kaki Nadya kaku.

Sepeda motor dan ojek online menjadi andalan warga Jakarta untuk bepergian, meskipun jarak dekat,
Foto: Andhika Prasetya/detikcom 

Sebagai anak kos sejati yang dari zaman kuliah sampai bekerja pun masih tetap indekos, Aldo Donny Wicaksono paling malas kalau disuruh jalan kaki. Mau itu kuliah atau kerja, Aldo sengaja mencari indekos yang letaknya paling strategis dan dekat. Di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Aldo menyewa kamar indekos yang jaraknya cuma 500 meter saja dari kantor. Sudah begitu ke mana-mana pun Aldo masih memakai motor Honda Beat keluaran terbaru miliknya.

“Soalnya udah kredit motor, nyicil tiga tahun, sayang banget, kan, kalau nggak dipakai. Jadi ke mana-mana saya selalu bawa motor, sih,” begitu alasan Aldo. Kalau Aldo ingin membeli cemilan atau kebutuhan sehari-hari di minimarket yang letaknya sangat dekat dari indekosnya, Aldo selalu membawa motor. Menurutnya dari pada jalan kaki, lebih baik naik motor, meski harus bayar uang parkir. Untunglah Aldo masih berjalan kaki untuk membeli nasi goreng di gerobak yang mangkal persis di seberang indekosnya.

Meski tiap hari masuk kantor, sudah bisa ditebak, untuk aktivitas naik turun lantai Aldo lakukan dengan menunggu lift. “Saya soalnya gampang banget keringetan. Paling nggak betah kalau pakai baju, tuh, basah dan lepek,” kata Aldo yang berat badannya sudah surplus 20 kilo gram dari pada perhitungan Body Mass Index atau BMI.

“Sadar, sih, kalau badan, tuh, rasanya nggak enak, jadi lebih gampang capek. Naik tangga sedikit aja ngos-ngosan. Padahal usia saya masih early 30. Tapi, ya gitu, boro-boro jalan kaki. Saya pernah daftar gym, iya, daftarnya doang. Datang sekali dua kali, habis itu badan sakit-sakitan, udah, deh, nggak lanjut lagi,” ucapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE