INTERMESO

Setelah Entong Gendut Ditembak di Kali Ciliwung

Entong Gendut bagi masyarakat Betawi adalah pahlawan. Berani melawan kesewenang-wenangan tuan tanah Belanda. Tapi hingga kini keberadaan makamnya masih misterius.

Ilustrasi: Dok Detikcom

Jumat, 15 April 2022

Nama Entong Gendut memang sangat melegenda bagi masyarakat Jakarta, khususnya warga di Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur. Tokoh yang satu ini disejajarkan dengan tokoh Betawi seperti Pitung, Jampang, Sabeni dan Murtadho Macan Kemayoran. Tapi sayang, hingga kini tak ada yang tahu di mana letak makam tokoh pejuang perlawanan terhadap tuan tanah Belanda tersebut.

Hampir sebagian besar literasi yang ditemukan hanya menyebutkan Entong Gendut meninggal dunia setelah ditembak pasukan polisi Belanda atau marsose yang dipimpin langsung Asisten Residen Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) D. Heyting pada Senin, 10 April 1916. Entong Gendut gugur setelah tubuhnya diberondong timah panas senapan Belanda ketika menyeberang Kali Ciluwung di daerah Balekambang.

Entong Gendut mati setelah kelemahannya dibocorkan pengkhianat yang menjadi mata-mata Belanda. Ia disebut-sebut memiliki ilmu kanuragan yang sakti, namun punya kelemahan yaitu tak boleh masuk atau terkena air. Entong Gendut sendiri memang dikenal sebagai pendekar dan pemimpin perguruan pencak silat beraliran jurus Silau Macan. Selain itu, memiliki golok sakti sebagai senjatanya.

Diceritain kalau, tuh, sarung golok dibuka, Belanda langsung pada berenang aja gitu di tanah. Soalnya kalau perasaan mereka itu lagi ada di laut,” tutur cucu Entong Gendut bernama Babe Taceh, yang sempat ditemui detikcom di rumahnya Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur, pada 18 Juni 2013, silam.

Babe Taceh, cucu Entong Gendut sekitar tahun 2013
Foto: Dok Detikcom  

Biasanya, setelah berenang di tanah, pasukan Belanda yang sadar langsung lari kocar-kacir. Babe Taceh menjelaskan, golok sakti milik kakeknya memiliki panjang 50 Cm. Golok itu masih tersimpan di rumah salah satu kerabat Babeh Taceh. Sayangnya, golok tersebut tak boleh dipublikasikan, termasuk ketika detikcom ingin melihatnya.

Berdasarkan keterangan Babe Taceh, kakeknya meninggal terkena peluru emas buatan Belanda. Menurutnya, Entong Gendut memang memiliki ilmu kebal terhadap peluru, tapi itu hanya berlaku di wilayah Condet. Ia sendiri tak tahu di mana keberadaan makam kakeknya.

Babeh Taceh mengatakan, usai tertembak pasukan Belanda, jenazah kakeknya dibawa ke pos milik Belanda dengan menggunakan mobil ambulans. Tapi begitu sampai dan akan diturunkan dari mobil ambulans, jenazah Entong Gendut menghilang. "Itu yang namanya ilmu mupus. Jadi bisa ngilang dan muncul di satu tempat,” ungkap cucu Entong Gendut yang saat ditemui berusia 70 tahun lebih.

Babe Taceh menduga, kakeknya sempat ditemukan di daerah Cikarang, Bekasi. Setelah mupus kedua kalinya, Entong Gendut muncul lagi di daerah Karawang, Jawa Barat. Tapi tak ada yang benar-benar tahu dan dapat memastikan di mana makam Entong Gendut.

Sementara di dalam buku Betawi Queen of The East tulisan wartawan senior dan pemerhati sejarah, Alwi Shahab, makam Entong Gendut juga disebut tak diketahui rimbanya. “Ada yang bilang beliau dimakamkan di Kemang, Jakarta Selatan. Ada juga yang bilang dimakamkan di Kampung Wadas, Bogor," kata Haji Sapri Josen, salah satu cucu Entong Gendut yang lain dalam buku Alwi Shahab tersebut.

Ilustrasi Entong Gendut 
Ilustrator: Edi Wahyono

Dalam Simposium Sejarah Condet di Balai Karawitan Condet, Kramatjati, Jakarta Timur, 26 Juni 2019 terungkap bahwa Entong Gendut tertembak ketika menyeberang sungai di Condet Batu Ampar menjelang subuh. Entong Gendut bersama dua pengikutnya yang terluka dibawa ke rumah sakit Stovia (sekarang RSPAD Gatot Subroto).

Karena luka-lukanya cukup parah di bagian dada, Entong Gendut dirujuk ke rumah sakit Stadverband, Glodok. Namun di dalam perjalanan nyawanya tak tertolong. Di koran Bataviaasch Nieuwsblad, 11 April 1916, dituliskan dalam pertempuran itu ada tiga pengawas polisi Belanda tewas dan 40 pengikut Entong Gendut ditangkap. Tapi tak disebutkan di mana jasad Entong Gendut dikuburkan. Ada yang menuliskan bahwa jasad Entong Gendut dibuang ke laut.

Yang menarik, di dalam buku Pitung (Pituan Pitulung): Jihad fi Sabilillah Para Pejuang Menyelamatkan Jayakarta (2017) karya Iwan Mahmoed Al Fatah, disebutkan Entong Gendut bagian dari perjuangan Gerakan Ki Dalang antara tahun 1914-1924. Awalnya gerakan Ki Dalang ini dibentuk untuk membersihkan kekuatan komunis yang dikembangkan Henk Sneevliet di kawasan Batavia (Jakarta, Tangerang, dan Bekasi) yang didukung pemerintah kolonial Belanda.

Perjuangan Ki Dalang sendiri dimotori oleh tiga tokoh, yaitu Ki Semaun dari Teluk Naga (Tangerang), Kiai Ahmad Syar’i Mertakusuma dari Kampung Larangan, Cengkareng (Jakarta Barat) dan Ki Abdul Karim Nitikusuma dari Kampung Duri. Gerakan perjuangan Ki Dalang ini dituliskan oleh Kiai Syar’i dalam kitab Al Fatawi. Selain melawan gerakan komunis, Ki Dalang juga melawan kezoliman para tuan tanah Belanda yang menguasai lahan di Jayakarta.

Radin Ahmad Syar'i Mertakusuma, pimpinan Gerakan Ki Dalang (1914-1924)
Foto: Repro Buku Pitung (Pituan Pitulung)

“Dalam perjuangan Ki Dalang ini, Entong Gendut mendapatkan tugas di bagian timur Jayakarta, termasuk Desa Condet. Sedangkan bagian selatan yang mendapat tugas adalah Entong Geger dari Jati Padang, Pasar Minggu,” tulis Iwan dalam bukunya.

Peta pergerakan Entong Gendut dimulai dari Kampung Condet sampai ke wilayah Tanjung Barat. Namun, perjuangannya terhenti hingga tahun 1920. Pada saat itu Entong Gendut ditangkap Belanda bersama tokoh gerakan Ki Dalang lainnya, yaitu Kiai Abdul Karim Nitikusuma, Kiai Ahmad Syar’i, dan Entong Geger. Mereka berempat ditangkap dan dibawa ke penjara di Jambi, Sumatera.

Tak beberapa lama, Kiai Ahmad Syar’i berhasil kabur kembali ke pulau Jawa. Sementara Kiai Abdul Karim sempat dipindahkan ke Tanjung Pinang, Riau dan wafat di Rumah Sakit Sungai Liat tahun 1940. Sedangkan Entong Gendut dan Entong Geger disebutkan meninggal dunia secara syahid di penjara dan dimakamkan di Jambi.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE