INTERMESO

Modus Intel KGB Matikan Langkah Para Pembelot

“Secara pribadi saya menghubungi koneksi saya di agen rahasia, dan mengatakan 90 persen Yuri diracuni dengan talium.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 01 April 2022

Siang itu, Kamis, 7 September 1978, Georgi Ivanov Markov, 49 tahun, tengah berjalan kaki menyusuri jembatan Waterloo, London. Ia menuju halte bus ketika pulang dari kantornya, BBC World Service, di Bush House, Strand. Sesampainya di halte, pandangan mata Markov tertuju ke seberang sungai Thames. Ia melihat jarum jam Big Ben menunjukkan pukul 13.30.

Tapi sekonyong-konyong Markov merasakan kesakitan yang sangat di paha kaki kanannya. Seperti suatu benda tajam menusuknya. Secepat kilat Markov membalikkan tubuhnya. Ia melihat seorang pria yang tengah membungkuk untuk meraih payung hitam dengan gagang cokelat yang terjatuh. Pria itu sempat menoleh dan terlihat gugup.

“Maaf, maaf,” ucap pria itu dengan aksennya yang sangat asing sambil meraih payung tersebut. Tak lama, mobil taksi berhenti beberapa meter dari halte. Pria itu langsung bergegas masuk ke dalam taksi. Kemudian, taksi itu menghilang dari pandangan Markov yang terluka.

Markov terkapar di Rumah Sakit St George’s, Balham Health Centre, di Jalan Blackshaw, London. Markov sempat memberi tahu dr Bernard Riley, dokter yang merawatnya selama tiga hari, soal insiden yang dialaminya. Sayang, saat itu semua dokter tak ada yang curiga bahwa insiden itu merupakan aksi pembunuhan. Akhrinya, kesehatan Markov kian memburuk.

“Dia mengeluh mual dan muntah,” kata Riley dalam sebuah wawancara dengan tim Windfall Films, yang memproduksi film dokumenter TV tentang kasus itu. “Suhunya tinggi, tapi semuanya nampak seperti demam biasa. Namun, dalam hitungan jam, kondisinya memburuk. Tepat tanggal 11 September 1978 pukul 10.40, Markov meninggal dunia,” tulis Boris Volodarsky dalam bukunya berjudul The KGB’s Poison Factory: From Lenin to Litvinenko (2010).

Georgi Ivanov Markov, jurnalis BBC asal Bulgari korban payung beracun KGB di London, 1978
Foto: Bettmann Archievs

Kematian Markov mengejutkan bagi komunitas orang Bulgaria di London. Mereka banyak yang tak percaya dia mati karena penyebab alami. Akhinya, ketika tahu bahwa Markov merupakan seorang pembelot dari Blok Soviet, polisi langsung menyelidikinya. Kabar kematiannya pun tersiar di semua halaman utama media massa di Inggris dan Eropa dengan judul ‘Death of a Dessident’, ‘Bulgaria Labyrinth’ dan ‘Poison Brolly Riddle’.

Polisi Inggris melakukan penyelidikan, namun tak menemukan tanda-tanda pembunuhan. Jasad Markov lalu diotopsi di Wandsworth dan menemukan tanda bekas tusukan. Daging bekas luka tusukan itu dibawa ke laboratorium khusus di Porton Down. Dibantu agen spesialis senjata kimia Central Intelligence Agency (CIA) Christopher Green bergabung dengan tim Scotland Yard menyelidikinya.

Saat membedah jaringan tubuh Markov yang tertusuk, ditemukan pelet berukuran sangat kecil. Pelet ini merupakan paduan dari bahan platinum (90 persen) dan iridium (10 persen). Pelet ini memiliki lubang sangat kecil dengan diameter 1,7 milimeter atau lebih kecil dari kepala peniti. Mereka menyimpulkan pelet itu dikeluarkan dari senjata canggih berupa payung bikinan Uni Soviet.

Markov membelot dan hengkang dari Bulgaria yang saat itu merupakan bagian dari Blok Timur (Uni Soviet) pada 1969. Ia bekerja di BBC program Eropa. Ia selalu mengkritisi kebijakan pemerintah Bulgaria. Oleh karena itu, aktivitas Markov membuat pemerintah Bulgaria marah, walau sebelumnya ia berkawan dekat dengan Presiden Bulgaria, Todor Zhikov.

Keterlibatan intelijen negara Bulgaria yang dibantu KGB dalam pembunuhan Markov sendiri baru terungkap 27 tahun kemudian. Seperti dilansir The Guardian edisi 6 Juni 2005, Markov dibunuh dengan payung beracun oleh Francesco Gullino, warga Denmark asal Italia. Saat melakukan pembunuhan, ia menyamar sebagai pedagang barang antik.

Halte bus Strand, London lokasi Georgi Markov ditembak payung beracun tahun 1978
Foto: Paul Fievez/Associated Newspapers

Saat diselidiki, nama Gullino tercatat di dalam arsip dinas intelijen nasional Bulgaria. Ia ditugaskan untuk ‘menetralisir’ Markov atas perintah dinas rahasia Bulgaria, Drzhavna Sigurnost. Pembunuhan itu disetujui oleh Todor Zhikov, penguasa Bulgaria pro-Soviet. “Ini penyelidikan yang sangat panjang dan rumit,” ujar pejabat senior di Scotland Yard, Inggris seperti ditulis The Guardian.

Sejak rezim Zhikov runtuh di Bulgaria tahun 1989, pihak keamanan menemukan payung khusus di dalam gedung Kementerian Dalam Negeri. Jenderal Stoyan Savov, wakil Mendagri Bulgaria yang dituduh memerintahkan pembunuhan Markov bunuh diri. Tahun 1992, mantan Kepala Intelijen Bulgaria, Jenderal Vladimir Todorov dihukum 16 bulan penjara, karena terbukti menghancurkan 10 volume materi terkait pembunuhan tersebut.

Payung beracun diduga merupakan produksi dari Laboratorium No. 12 dari Departemen Khusus yang dioperasikan secara rahasia oleh KGB. Pada 1950-an hingga 1960-an semua produk dari laboratorium khusus itu digunakan untuk melawan ‘musuh’ para pembelot Uni Soviet yang tinggal di pengasingan di Eropa. Termasuk produk payung beracun yang digunakan untuk membunuh Markov.

Sejak tahun 1950, sejumlah agen KGB berupaya membunuh para pembelotnya di luar negeri. Beberapa kasus di antaranya adalah meracun Wolfgang Salus, sekretaris Trotsky di Munich, Jerman (1953), membunuh Alexander Trushnovich karena anti-Soviet di Berlin Barat (1954), Nikolao Khokhlov, mantan perwira KGB yang mati keracunan radiologi (1956).

Lalu dua politisi Ukraina, Stepan Bandera dan Lev Rebet yang anti-Soviet mati diracun di Munich, Jerman tahun 1959. Mereka dibunuh agen mata-mata KGB bernama Bohdan Stashynsky. Diduga ia diperintahkan oleh Kepala KGB Alexander Shelepin dan pimpinan Uni Soviet, Nikita Khrushchev tahun 1961. Ada puluhan bahkan ratusan pembelot lainnya di Eropa, Amerika bahkan di Afrika yang mati dibunuh secara misterius yang dilakukan para spionase KGB.

Payung beracun 'Bulgarian Umbrella' milik agen KGB
Foto: Museum of John

Sejak Uni Soviet runtuh tahun 1991, praktik membunuh ‘musuh negara’ dengan racun diduga masih digunakan para agen intelijen negara Rusia, yaitu Federalnaya Sluzhba Bezopasnosti Rossiyskoy Federatsii (FSBRF), yang disingkat FSB. FSB Rusia menggantikan peran KGB sejak tahun 1995.

Cara-cara KGB yang digunakan FSB di antaranya ketika membunuh Ibnu Al Khatab, pejuang Chechnya yang memiliki nama samara Samir Saleh Abdullah Al Suwailem di Dagestan tahun 2002. Ia mati setelah menerima surat dari ibunya di Arab Saudi yang dibawa oleh Ibrahim Alauri. Ibrahim ternyata agen rahasia ganda yang bekerjasama dengan agen FSB.

Lalu jurnalis investigasi Rusia Yuri Petrovich Shchekochikhin dari Novaya Gazeta. Ia meninggal secara mendadak pada Juli 2003. Teman Yuri, Kirril Kaganov, mantan anggota FSB yang bepergian dengannya sebelum meninggal mengatakan, “Secara pribadi saya menghubungi koneksi saya di agen rahasia, dan mengatakan 90% Yuri diracuni dengan talium”.

Pada tahun 2004, Anna Politkovskaya, seorang jurnalis yang antikebijakan Rusia memerangi pemberontak di Chechnya juga mati diracun dalam perjalanan menuju Ossetia Utara. Lalu, Roman Igorevich Tsepov adalah pengusaha Saint Petersburg dan orang kepercayaan Vladimir Putin saat dirinya masih menjadi penasihat hingga Deputi Wali Kota Saint Petersburg di Rusia.

Padahal Tsepov dikenal dekat dengan petinggi keamanan presiden dan petinggi FSB. Pada 24 September 2004, Tsepov meninggal mendadak. Investigasi pasca kematian menemukan Tsepov meninggal karena material radioaktif yang belum diketahui.

Terakhir tokoh mantan agen mata-mata senior KGB, Alexander Litvinenko, alias Sasha meninggal dunia setelah minum teh dengan dua pria Rusia di sebuah hotel di London. Litvinenko membelot dan tinggal di London. Ia banyak mengungkap kebobrokan di tubuh intelijen Rusia. Litvinenko diduga diracun oleh Andrei Lugovoi dan Dmitry Kovtun. Diduga pemimpin nomor satu di Rusia, Putin menyetujui akan operasi tersebut.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE