INTERMESO

Laboratorium Racun Rahasia KGB

Lolos dari upaya pembunuhan dengan peluru beracun, Lenin mendirikan laboratorium racun. Racun itu digunakan agen intelijen Uni Soviet hingga Rusia sekarang.

Foto: Vladimir Ilyich Ulyanov atau Lenin (BBC)

Kamis, 31 Maret 2022

Dengan wajah dingin dan tatapan mata yang tajam, Fanya Yefimovna Kaplan keluar dari kerumunan kaum buruh. Perempuan berambut pendek itu berjalan cepat mendekati pemimpin revolusioner komunis Rusia, Vladimir Ilyich Ulyanov. Pria berjuluk Lenin itu tengah berpidato saat meresmikan pabrik baru di Kota Moskow, 30 Agustus 1918.

Setelah jaraknya sudah dekat, Fanya mengeluarkan sebuah benda kecil mirip pistol. Ia langsung menembakannya ke arah Lenin dengan peluru beracun. Tokoh gerakan revolusi Bolshevik dan kepala pemerintahan Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia (RSFS Rusia) itu pun terluka. Lenin lalu diselamatkan oleh para pengawalnya.

Fanya langsung dibekuk anggota Cheka, organisasi pertahanan negara pertama dan cikal bakal badan intelijen Rusia, Komtet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB). Fanya yang memiliki nama asli Feiga Haimovna Roytblat diinterogasi agen Cheka pimpinan Felix Dzerzhinsky. Tapi Fanya cukup tangguh. Ia tetap tutup mulut tentang siapa dalang yang menyuruhnya. Ia hanya mengatakan Lenin adalah pengkhianat revolusi.

Sebelumnya, dua tokoh Bolshevik lainnya telah dibunuh, yaitu anggota komite kota Petrogard, V. Volodarsky pada 20 Juni dan Ketua Cheka wilayah Petrogard, Moisey Uritsky, pada 30 Agustus. Kelompok kontra revolusioner diduga berada di balik pembunuhan itu. Termasuk Fanya. Wanita anggota Partai Revolusi Sosialis itu akhirnya dihukum mati pada 3 September 1918 dalam usia 28 tahun.

Dikutip dalam buku The KGB’s Poison Factory: From Lenin to Litvinenko tulisan Boris Volodarsky (2010), setelah kegagalan pembunuhan kepada Lenin, aparat keamanan Soviet menangkapi sekitar 15 ribu orang yang dianggap musuh negara. Enam ribu di antaranya ditembak mati. Ribuan orang lainnya dipenjarakan dan disandera. Mereka dituduh pendukung Jerman. Fanya pun dituding sebagai agen ganda dari Jerman.

Fanya Yefimovna Kaplan (1890-1918) penembak Vladimir Lenin tahun 1918
Foto: Boreali/Common Wikimedia 

Penyelidik Cheka memberikan laporan bahwa Lenin dicurigai ditembak dengan peluru beracun bernama curare (kurare). Lenin lalu mempelajari bahwa curare adalah senyawa resin yang diekstrak dari tumbuhan kayu di hutan tropis Amerika, khususnya dari kulit kayu chondrodendron tomenstosum atau spesies strychnos. Curare dalam bahasa suku Indian berarti ‘burung untuk membunuh’. Mereka akan melumuri racun curare di ujung panah untuk berburu atau perang.

Hal itulah yang membuat Lenin terpesona dengan jenis racun tersebut. Tiga tahun setelah kasus penembakan kepada dirinya, ia mendirikan laboratorium racun pertama pada 1921. Lenin menyiapkan ‘Ruang Khusus’ tepat di kantor sekretariatnya sendiri. Ruang laboratorium racun itu di bawah pimpinan Profesor Ignaty Kazakov. Di ruang itulah diproduksi racun untuk melawan pihak yang diaggap musuh Soviet atau Kremlin, seperti kelompok eufemisme, gembong mafia, atau bahkan musuh pemimpin nasional mereka.

Laboratorium racun ini bekerja superrahasia. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya, bahkan di kalangan pemerintah sendiri. Tapi setelah hampir 70 tahun, setelah runtuhnya Uni Soviet tahun 1991, banyak peneliti menemukan dokumen rahasia dan kesaksian yang menyoroti laboratorium yang dibuat Lenin tahun 1921 hingga 1938. Laboratorium ini mempekerjakan ilmuwan dari Departemen Biokimia dan Kimia Analitik, Moskow, bernama Boros Ilich Zbarsky.

Sejak Cheka berubah menjadi Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri atau Narodnyi Komissariat Vnutrennikh Del (NKVD) di bawah Genrikh Yagoda, laboratorium khusus racun ini mempekerjakan sejumlah ilmuwan di bawah pimpinan Alexey Nikolayevich Bach. Sepeninggal Lenin, pemimpin baru Soviet Josef Stalin menyapu bersih lawan-lawan politiknya, termasuk Yagoda sebagai pemimpin NKVD tewas dalam pembersihan itu.

Di era Stalin, fasilitas laboratorium racun ini diambilalih oleh Grigory Mairanovsky pada 1938. Ia dikenal sebagai ‘dokter kematian’, sebab ahli biokimia ini kesadisannya jauh melampaui agen Nazi Jerman. Saat itu dilakukan reorganisasi Departemen Keamanan Negara, termasuk laboratorium racun yang diubah menjadi Departemen ke-2 Khusus yang dipimpin Mikhail Alyokhin. Tapi apes, Mikhail ditangkap sebagai mata-mata Jerman dan digantikan oleh Yevgeny Lapshin. Februari 1939, laboratorium ini diubah menjadi Departemen Khusus ke-4 atau dikenal dengan Laboratorium No. 1 atau Kamera.

Senjata berisi polonium (racun radioaktif) para agen KGB
Foto: Spy Museum 

Laboratorium itu dibagi menjadi dua divisi. Divisi pertama merupakan laboratorium kimia di bawah Mairanovsky langsung, dan divisi kedua laboratorium bakteriologi di bawah Sergey Muromtsev. Sejak itu, hingga tahun 1946, departemen khusus yang mencakup dua laboratorium itu sangat tertutup di belakang gedung markas NKVD di Jalan Bolshaya Lubyanka No. 11, Meshchansk, Moskow, Rusia.

Sebelumnya, laboratorium atau pabrik racun ini berada di dua gedung yang berbeda. Satu di Kuchino dekat Moskow dan lainnya di Jalan Meschanskaya 4 dekat penjara Butyrka. Setelah pindah ke Lubyanka, pabrik racun ini berdekatan dengan penjara Lubyanka. Kepala Sipir, Vasily Blokhin dikenal sebagai algojonya NKVD selalu menyiapkan para tahanan untuk dijadikan eksperimen di laboratorium racun itu.

Pada tahap awal percobaan, turunan gas mustard digunakan. Gas mustard pertama kali digunakan sebagai senjata kimia dalam Perang Dunia I oleh tentara Jerman melawan tentara Inggris dekat Ypres, Belgia, pada 1917. Tapi eksperimen Mairanovsky mengecewakan, karena bahan kimianya segera terdeteksi selama otopsi. Ini bertentangan dengan tujuan utama untuk menemukan racun tanpa rasa, bau, dan tak dapat dideteksi di dalam tubuh korban setelah kematian.

Kemudian Mairanovsky bereksperimen dengan risin dan digitoksin. Ia meracik senyawa itu menjadi racun yang dijuluki K-2 (carbylamine choline chloride). Hasilnya diujicobakan kepada tahanan. Menurut hasil penyelidikan Vladimir Bobrenyov dari kantor kejaksaan Rusia yang meneliti dokumen laboratorium rahasia itu, K-2 bisa membunuh korban dalam lima belas menit.

Menurut Mayor Peter Sergeyevich Deriabin, mantan anggota Ministerstvo Gosudarstvennoy Bezopasnosti (MGB) di Wina dan perwira elite Kremlin yang membelot ke AS tahun 1954, staf laboratorium racun atau Kamera terdiri dari seorang direktur medis dan beberapa asisten. Mereka itulah yang merakukan eksperimen kepada manusia masih hidup (tahanan) atau orang yang akan dieksekusi. Mereka menentukan jenis racun yang akan disuntikan. Tak lupa menggunakan metode teknik hipnotis hingga interogasi. Hanya menteri keamanan negara dan empat perwira tinggi yang bisa diizinkan memasuki laboratorium tersebut.

Tes racun kepada tahanan itu selalu dilakukan di laboratorium. Alexander Grigorovich dan Shchegolev (keduanya ahli kimia asisten Mairanovsky) bertugas menimbang dosis racun. Mainranovsky sendiri yang mencampurkan racun ke dalam makanan. Bila racun tidak menyebabkan kematian, Mainranovsky lagsung menyuntikkan racun dengan jarum suntik. Ujicoba racun ini dianggap tak manusiwi, banyak nyawa meregang sangat mengerikan di dalam ruangan.

Georgi Ivanov Markov korban racun payung intel KGB tahun 1978
Foto: AP

Pertengahan tahun 1953, laboratorium dinyatakan tutup oleh rezim Soviet. Mairanovsky ditangkap tahun 1951, dan dimasukkan ke penjara selama 10 tahun. Tapi rupanya praktik penelitian senjata racun ini tetap dikembangkan secara diam-diam. Setelah penangkapan Mairanovsky, laboratorium itu muncul lagi dengan nama Laboratorium No. 12 dari 5 Departemen Khusus yang dilakukan oleh Vladimir Naumov. Racun itu digunakan untuk operasi rahasia eksekusi di luar Rusia (Soviet).

Pada bulan Maret 1953, beberapa hari setelah kematian Stalin, Menteri Keamanan Negara Semyon Ignatyev melapor kepada kepemimpinan kolektif Soviet baru Malenkov, Molotov, Bulganin dan Khrushchev. Ia melaporkan eksekusi pembunuhan Wolfgang Salus tokoh komunis Jerman yang dilakukan atas bantuan agen MGB pada 13 Februari 1953. Agen itu memberikan racun kepada pelaku eksekutor. Salus jatuh sakit lalu meninggal tanggal 4 Maret di sebuah rumah sakit di Munich, Jerman.

Pada 1950-an dan 1960-an ‘produk’ laboratorium khusus itu digunakan untuk melawan ‘musuh’ orang-orang yang tinggal di Eropa dalam pengasingan. Pada Februari 1954, Nikolai Khokhlov dikirim ke Frankfurt am Main untuk mengatur pembunuhan seorang aktivis anti Soviet terkemuka dengan menembaknya dengan peluru beracun dari pistol yang disembunyikan di sebuah sebungkus rokok.

Laboratorium khusus racun itu di era KGB jadi Lembaga Penelitan Ilmiah Teknologi khusus di bawah Direktorat Operasional Teknis. Salah satu hasilmya membuat payung beracun. Payung ini digunakan agen KGB saat membunuh Georgi Ivanon Markov di London tahun 1978. Markov dianggap pembelot dan selalu mengkritisi kebijakan pemerintah Soviet melalui siaran radionya. Dia tercatat bekerja di BBC Eropa. Dia ditusuk payung yang mengeluarkan peluru kecil berisi polonium (racun radioaktif).


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE