INTERMESO

Cinta Boleh, Pukul Jangan

Kebanyakan dari korban Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) merasa tindakan kekerasan yang dilakukan pasangannya merupakan bentuk kasih sayang sehingga dianggap wajar.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 19 Desember 2021

Sherly, bukan nama sebenarnya, mengamati kepalanya yang pitak dari balik cermin. Rasa sakit dan perih masih ia rasakan meski kejadian yang menyebabkan rambutnya hilang sudah terjadi beberapa hari lalu.

Malam itu seperti biasa, sehabis pulang kerja, Sherly dijemput oleh pacarnya Rony, juga bukan nama sebenarnya, menggunakan mobil. Tak lama kemudian mereka berdua terlibat adu mulut. Entah apa yang menyambet Rony hingga ia menjambak rambut kekasihnya dengan sekuat tenaga hingga rontok. Sherly pun menangis sejadi-jadinya.

“Di situ dia kelihatan panik dan langsung merengek kayak anak kecil dan minta maaf. Dia janji ke aku nggak bakal ngulangin lagi. Karena nggak tega, aku langsung maafin dia,” ujar perempuan berusia 30 tahun ini kepada detikX.

Asal muasal pertengkaran ini karena Rony tidak suka melihat kedekatan Sherly dengan seorang teman kerjanya. Sedangkan Sherly tengah terlibat di dalam sebuah proyek bersama yang mengharuskan Sherly menghabiskan waktu bekerja dengan pria itu.

Kekerasan yang dilakukan Rony bukan baru sekali. Pernah ia menampar pipi kiri Sherly. Saking kerasnya hingga tamparan itu membuat pipinya lebam sehingga harus diobati. Lagi-lagi penyebabnya karena Rony cemburu. Semenjak saat itu, gerak gerik Sherly secara sosial sangat dibatasi. Seluruh komunikasi dan aktivitas di luar rumah harus sudah mendapatkan izin dari sang pacar.

Belum lagi kekerasan verbal yang kerap Rony lontarkan melalui ucapan kasar. “Dia kalau lagi stress sama kerjaan atau emosi, aku suka diomel-omelin, kadang dikatain pakai kata-kata kasar di depan umum pas lagi jalan sama dia,” cerita Sherly.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan sebelum menikah
Foto : Getty Images/iStockphoto/JOHNGOMEZPIX

Tak tahan dengan perlakuan kekasihnya, Sherly melaporkan perihal itu kepada orangtua Rony. Sherly berharap agar orang tuanya bisa menegur perilaku sang anak. Namun, respon yang sherly dapatkan justru jauh dari harapan. “Bukannya anaknya ditegur, tapi malah aku yang disudutin mamanya. Dia bilang ‘kamu juga harusnya bisa jaga perasaan Rony dong,'” kata Sherly.

Kebanyakan dari korban Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) merasa tindakan kekerasan yang dilakukan pasangannya merupakan bentuk kasih sayang sehingga dianggap wajar. Apalagi pasangannya yang sudah melakukan kekerasan akan bersikap menyesal. Hal itu membuat Sherly kembali memaafkan pasangannya sambil berharap suatu hari ia akan berubah.

“Yang membuat aku tahan sama perilaku dia juga karena kalau lagi baik dia itu sweet banget. Kita bahkan udah ada rencana mau nikah.”

Buat saya, biar pers itu memaki-maki asalkan saja ia tidak menyebut kata-kata: 'Ini pemerintah bobrok, marilah kita berontak.'

Mengutip survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada 2016, tingkat kekerasan baik secara fisik dan seksual yang dialami perempuan belum menikah yaitu sebesar 42,7 persen. Kekerasan dalam hubungan pacaran adalah kasus yang sering terjadi setelah kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu dari 10.847 pelaku kekerasan, sebanyak 2.090 adalah pacar atau teman. Namun, kasus ini tidak tersorot dan tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Sementara dari catatan Tahunan Komnas perempuan tahun 2020, ranah yang paling berisiko bagi perempuan mengalami kekerasan adalah ranah personal. Semisal KDRT ataupun kekerasan dalam hubungan pribadi/pacaran, yakni 79 persen atau 6.480 kasus.

"Pada tahun sebelumnya, kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah personal sekitar 75 persen. Dengan demikian, terjadi peningkatan 4 persen pada tahun 2020," jelas komisioner Komnas Perempuan, Alimatul Qibtiyah, dalam Launching Catatan Tahunan Komnas Perempuan, siaran langsung YouTube Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada Maret tahun ini.

Ilustrasi masalah percintaan
Foto : Dok. iStock

Alimatul menjabarkan kekerasan tertinggi di ranah personal tahun 2020 yakni kekerasan terhadap istri sebanyak 3.221 (50%), kekerasan dalam pacaran sebanyak 1.309 kasus (20%), dan kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 954 kasus (15%).

Mengutip laman resmi KPPPA, ada lima bentuk kekerasan dalam hubungan pacaran yang kerap terjadi. Pertama, kekerasan fisik seperti memukul, menampar, menendang, mendorong, mencengkeram dengan kuat, dan lainnya. Kedua, kekerasan secara emosional atau psikologis. Kekerasan ini bisa berbentuk ancaman, panggilan dengan sebutan yang memalukan, marah berlebihan, dan menjelek-jelekkan pasangan.

Ketiga, kekerasan secara ekonomi, contohnya meminta pasangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan memeras pasangan. Keempat, kekerasan seksual seperti memeluk, mencium, meraba, hingga memaksa melakukan hubungan seksual di bawah ancaman dan tanpa persetujuan pasangan.

Kelima, kekerasan pembatasan aktivitas oleh pasangan seperti terlalu posesif, terlalu mengekang, sering menaruh curiga, terlalu mengatur kegiatan pasangan, dan mudah mengancam jika pasangan tidak melakukan kemauannya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE