INTERMESO

Hari-hari Partai Harmoko

Sepuluh tahun setelah Orde Baru tumbang, Harmoko mendirikan partai politik. Karena partainya tak lolos, Harmoko mendukung Hanura.

Ilustrasi : Luthfy Syahban

Senin, 5 Juli 2021

Gedung Djoang di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, menjadi saksi bisu kembalinya Harmoko ke panggung politik setelah sekian lama menghilang. Pada 19 April 2008, sepuluh tahun setelah Orde Baru di bawah Soeharto tumbang, Harmoko mendeklarasikan partai baru di halaman gedung bersejarah itu. Partai itu diberi nama Partai Kerakyatan Nasional atau PKN.

Sebagaimana diberitakan detikcom pada tahun itu, beberapa tokoh Orde Baru hadir di acara deklarasi PKN, meski tidak banyak. Di antaranya mantan Menteri Keuangan JB Sumarlin, mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, dan mantan Wakil KSAD Hari Tjahjana. Sejumlah tokoh Orde Baru lainnya juga diundang, tapi tidak datang.

Harmoko
Foto : ANTARA


Harmoko itu ‘hari-hari komunikasi’, ‘hari-hari omong konkret’.”

Kembali munculnya Harmoko, mantan fungsionaris Partai Golongan Karya, itu ke perpolitikan nasional sempat menjadi bahan ledekan. Harmoko dinilai sebagai aktor politik yang hanya bisa eksis di zaman Orde Baru yang tak demokratis. Orang tua yang hidup di zaman tersebut juga mempunyai anggapan jelek terhadap Harmoko.

Sedangkan di sisi lain, anak muda yang hidup pasca-Reformasi tak banyak yang mengenal Harmoko. Karena itu, mantan Menteri Penerangan tersebut dianggap telah salah zaman ketika mendirikan partai.

“Dulu Harmoko dikenal sebagai ‘hari-hari omong kosong’. Sekarang orang akan berkomentar ‘hari gini Harmoko’. Orang muda sekarang pasti tanya siapa, sih, Harmoko. Sedangkan kaum tua kaget, ‘hah, Harmoko?’,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari kepada detikcom pada 2008 itu.

Namun, dengan mendirikan partai politik, Harmoko tak mau dianggap sekadar omong kosong. “Harmoko itu ‘hari-hari komunikasi’, ‘hari-hari omong konkret,'” kata Harmoko saat berpidato di acara deklarasi PKN siang itu. Ratusan kader PKN yang hadir pun memberikan tepuk tangan.

Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu melarang simpatisan PKN mempertentangkan apakah kaum muda dan kaum tua yang akan memimpin. Ia telah hidup di tiga zaman: Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. “Kalau ada yang baik, kita ambil, dan yang tidak, kita buang,” ujarnya.

Namun Harmoko lebih mempercayakan partai kepada kader yang lebih muda. Ia tak mau duduk di kursi ketua umum dan memilih peran sebagai penasihat. Ia juga mengaku tidak berambisi menjadi presiden dengan mendirikan partai. Menjadi anggota legislatif pun dia tidak mau.

PKN diketuai oleh Soebiantoro Soemantoro, anggota MPR 2004-2009. Kepengurusan PKN lainnya juga diisi oleh kalangan muda, antara lain Jamal Mirdad, suami Lidya Kandouw, yang menjabat Deputi 1 Bidang Internal.

PKN diberi target yang cukup menantang oleh Harmoko. Setidaknya partai baru itu dapat memperebutkan suara mengambang dalam Pemilu 2009, yang diperkirakan 40 persen. Para kader diminta berjuang sekuat tenaga untuk meraih kemenangan dengan program-program partai.

Harmoko
Foto : Denny Aprianto/CNN Indonesia

Ada juga pesan lain Harmoko, yaitu tidak menganggap partai lainnya sebagai musuh. Sebab, partai-partai juga tengah berjuang dan mempunyai visi-misi tersendiri untuk bangsa Indonesia. “Kalau perlu, kita jadikan mitra,” kata Harmoko, yang memulai karir dalam hidupnya sebagai wartawan itu.

PKN dinyatakan tak lolos verifikasi administrasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Keputusan itu jatuh pada 31 Mei 2008, belum dua bulan sejak PKN berdiri. PKN dan 12 partai lainnya tidak berhak mengikuti Pemilu 2009. Ketua Pokja Verifikasi KPU Andi Nurpati bilang, tidak lolosnya 13 partai tersebut karena beberapa sebab. Di antaranya tidak ada badan hukum di Kemenkumham, tidak memenuhi dua pertiga pengurus di tingkat provinsi. Syarat terakhir inilah yang mengganjal partai Harmoko.

Kecewa atas putusan KPU tersebut, PKN memerintahkan seluruh kadernya tidak ikut Pemilu 2009. Ketua Organisasi Keanggotaan dan Kaderisasi PKN Ben Ibratamatanur saat itu mengklaim Harmoko juga sepakat dengan keputusan tersebut. Pernyataan itu membuahkan tanggapan bahwa Harmoko dan pengurus PKN bisa dipidana karena melarang anggotanya ikut pemilu.

Beberapa waktu tak ada kabar setelah PKN tenggelam, Harmoko tiba-tiba memberikan dukungan kepada Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), yang didirikan oleh Wiranto. Ia datang dalam kampanye Hanura di Solo, Jawa Tengah, pada 24 Maret 2009. Harmoko, yang mengenakan jaket khas Hanura, duduk bersebelahan dengan Wiranto.

Harmoko juga mengajak kader PKN secara kolektif mendukung Hanura. Kendati begitu, Harmoko tidak masuk dalam struktur kepengurusan Hanura. Setelah ikut meramaikan kampanye Hanura di Solo, Harmoko kembali menepi dari politik.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE