INTERMESO

Korban Rasisme

Dulu di Solo, Kini di Amerika

“Kejadian ini membuat saya menyadari, ke mana pun saya pergi, negara mana pun tujuannya, rasisme akan tetap ada.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 04 April 2021

Kerusuhan tahun 1998 di Indonesia telah menghancurkan kehidupan Merry, bukan nama sebenarnya, dan keluarganya. Merry, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang dulunya bermukim di Solo, Jawa Tengah, menjadi sasaran amukan warga. Usaha restoran dan katering miliknya dibakar hangus. Rumahnya dihancurkan dan mobilnya ikut dibakar warga. Uang di tabungan pun habis tak tersisa, dipakai untuk membayar hutang usahanya.

Melihat kondisi Merry, sang ibu yang tinggal di Amerika Serikat tak tega dan mengajak anaknya untuk memboyong seluruh anggota keluarganya ke sana. Tahun 2000, setelah segala urusan administrasi selesai, Merry baru bisa membawa suami dan dua anak laki-lakinya terbang ke negeri Paman Sam, tepatnya ke Kota Philadelphia, negara bagian Pennsylvania.

“Aku bawa suami dan anak-anak ke sini dengan janji mereka bisa punya kehidupan yang lebih baik. Mereka bisa bebas melakukan apa saja tanpa rasa takut. Nggak ada lagi yang mengatai Cina, nggak ada lagi yang berkata rasis,” ujar Merry saat dihubungi detikX beberapa waktu lalu. Saat itu, ibunya memberikan modal agar Merry dan keluarga bisa pindah ke Amerika.

Demonstrasi melawan rasisme di Amerika Serikat 
Foto: Dok Sinta Penyami Stroms. 

Merry menata kembali kehidupannya yang baru. Mulai dari mengontrak sana-sini sampai akhirnya punya rumah dan kendaraan sendiri. Kehidupan keluarga kecil Merry berjalan aman dan damai. Kebahagiaan keluarga itu bertambah setelah Merry dikaruniai dua orang anak laki-laki lagi. Merry pun mengasuh empat anak laki-lakinya. Kini yang paling besar berusia 27 tahun, sementara si bontot berusia 4 tahun.

Namun, ketentraman itu kini terusik dan berubah menjadi rasa khawatir dan takut. Terutama semenjak pandemi COVID-19 melanda negara itu. Bersamaan dengan menyebarnya virus di Amerika, telah terjadi fenomena peningkatan drastis sentimen terhadap keturunan Asia di Amerika.

Mereka dianggap lemah dan tidak berdaya. Nggak bisa Bahasa Inggris. Dan orang Asia seperti Indonesia tipikal yang takut atau malas ngelapor. Sehingga polisi dan pemerintah nggak tahu apa yang terjadi.'

Sentimen bermotifkan rasisme ini sebelumnya kerap dilakukan kelompok kulit putih kepada kulit hitam dan berwarna maupun kelompok hispanik dari Amerika Latin. Tapi belakangan keturunan Asia terutama China dan tak terkecuali Indonesia menjadi sasaran ujaran kebencian dan kekerasan rasialisme di Amerika.

Dua anak Merry yang memiliki darah Tionghoa tak luput menjadi korban di waktu berdekatan. Saat itu di bulan April 2020, anak keduanya yang berusia 25 tahun pulang kerja dengan baju basah dan wajah memerah. Ia baru saja disiram kopi dan minuman beralkohol saat tengah berjalan bersama temannya menuju rumah. Tak hanya itu, pelaku berkulit putih yang jumlahnya tiga orang juga melakukan aksinya disertai kata-kata rasis.

“'Go back to your country, ngapain kamu ke sini bawa virus'. Setelah itu mereka langsung lari,” ungkap Merry menirukan kisah anaknya. Tiga orang pelaku ini diperkirakan berusia 20-an tahun.

Beberapa hari kemudian anak ketiganya sedang dalam perjalanan setelah pulang sekolah. Anaknya yang berusia 15 tahun ini biasa pulang menggunakan subway. Saat hendak masuk ke dalam subway, ia berpapasan dengan segerombolan kulit putih. Tiba-tiba mereka meludahi anak Merry dan lagi-lagi mengeluarkan ujaran kebencian rasial yang hampir sama seperti dialami kakaknya. Kejadian ini tentu membuatnya kaget dan terpukul. Ketika sampai di rumah ia menangis sejadi-jadinya.

Mom, I’m the citizen of The United States. I’m the citizen! Where do I have to go back? Where?” tanya sang anak dengan penuh amarah. “Disuruh balik ke negara asalnya, padahal dia lahir di sini, dia citizen sini. Aduh aku sampai mau marah, kecewa, sedih. Tapi aku bisa apa? Aku juga nggak tahu orangnya seperti apa. Coba aku ada di sana udah jadi ramai urusannya.”

Sinta Penyami Stroms saat berorasi dalam demonstrasi melawan Asian Hate di Amerika 
Foto : Dok Pribadi

Stop AAPI Hate, suatu LSM yang dibentuk untuk menanggapi peningkatan diskriminasi anti-Asia sejak Maret 2020 lalu mencatat peningkatan laporan sentimen anti-Asia. Di tahun 2020 saat bermula pandemi, sebanyak 2.600 laporan sentimen rasial masuk. Namun, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 3.795 kasus. Enam puluh delapan persen kasus itu merupakan pelecehan secara verbal, tetapi ada pula serangan fisik dan serangan di dunia maya.

Laporan itu menunjukkan perempuan 2,3 kali lebih sering menjadi sasaran rasisme dibandingkan laki-laki. 
Sinta Penyami Stroms, aktivis Diaspora Indonesia, juga merasakan ancaman terhadap warga keturunan Asia Amerika meningkat tajam. Sentimen anti-Asia Amerika ini meningkat cepat tahun lalu akibat provokasi Donald Trump saat masih menjadi presiden yang menyebut COVID-19 sebagai “Virus China” atau “Kung Flu”.

“Trump berkali-kali secara terbuka menyebut pandemi COVID-19 sebagai China Virus. Hal ini membuat orang yang memang sudah rasis menjadi semakin terang-terangan dan melakukan kekerasan verbal dan fisik di jalanan,” ujarnya yang telah pindah ke Amerika sejak tahun 1999.

Salah satu kejadian mengejutkan bermotifkan rasialisme misalnya penembakan yang terjadi di Atlanta. Korbannya di antaranya 6 orang keturunan Asia. Kejadian ini memicu kemarahan di antara keturunan Asia Amerika. Mereka kompak turun ke jalan dan melakukan gerakan melawan Asian Hate. Sinta bersama komunitas diaspora Indonesia di Philadelphia merupakan salah satu di antaranya.

“Belum lama ini juga ada kejadian dua remaja Indonesia dipukul di subway. Kasus ini kita kawal, diusut sampai tuntas agar tidak terulang kejadian yang sama. Sekarang mereka memukul korban, tapi ke depan nanti bisa saja mereka membunuh,” tuturnya.

Menurut Sinta, orang keturunan Asia terutama orang tua, perempuan dan anak-anak sering kali menjadi sasaran empuk penyerangan karena ada stereotipe yang melekat. “Mereka dianggap lemah dan tidak berdaya. Nggak bisa Bahasa Inggris. Dan orang Asia seperti Indonesia tipikal yang takut atau malas ngelapor. Sehingga polisi dan pemerintah nggak tahu apa yang terjadi.”

Presiden Amerika Joe Bidden mengakui rasisme menjadi racun yang menghantui Amerika
Foto : BBC World

Warga keturunan Asia Amerika ini selalu dilihat sebagai orang asing bahkan sebelum pandemi. Dan diperburuk oleh pandemi COVID-19. Jika terlihat seperti orang China maka akan tidak luput dari serangan. “Mereka nggak peduli kamu dari negara mana. Selama kamu terlihat mirip dengan orang China dan Korea akan diserang. Mereka tidak paham Asian Continent jadi dimasukin semua ke dalam kategori besar saja,” ujar Sinta.

Di saat Sinta dan komunitas Asia Amerika sedang berjuang memerangi gerakan Asian Hate, Merry harus menelan kejadian pahit yang menimpa kedua anaknya itu sendiri. Ia tidak bisa melaporkan kejadian ini ke pihak berwenang karena tidak ada bukti pendukung. “Sedih aja ngeliatnya, apalagi teringat janjiku dengan anak-anak waktu ke sini. Harapannya kan mereka bisa melakukan apapun tanpa harus dilanda ketakutan. Eh, nggak tahunya sampai sini begitu lagi,” keluh Merry.

Meski begitu, Merry mengakui situasi yang ia hadapi sekarang masih lebih baik ketimbang kerusuhan di Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari respon Presiden baru Amerika Serikat, Joe Biden. Di awal masa pemerintahannya, ia bergerak cepat untuk memperbaiki kondisi ini. Biden diketahui menandatangani tindakan eksekutif yang melarang penggunaan panggilan “Kung Flu” dan “China Virus” dalam pemerintah federal.

“Harus berhadapan dengan kejadian seperti ini nggak enak banget rasanya. Tapi kejadian ini membuat saya menyadari, kemana pun saya pergi, negara mana pun tujuannya, rasisme akan tetap ada. Sekarang tergantung bagaimana kita menghadapinya. Apakah kita akan selalu menjadi pihak yang lemah atau memilih untuk menjadi lebih kuat,” ungkapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE