INTERMESO

Korban Rasisme

Bogem Mentah Pria Rasis di Stasiun London

Kekerasan berbasis rasialisme kembali menargetkan warga keturunan Asia. Tidak hanya di Amerika, tapi juga di Inggris.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 03 April 2021

Baru dua bulan semenjak Harry Isra bertolak dari kampung halamannya di Makassar menuju Kota London, Inggris. Jarak sejauh 12 ribuan kilometer itu ia tempuh usai mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan studi master di Goldsmith University of London.

Tak lupa pria yang akrab disapa Ai ini membawa bungkusan rokok Indonesia di kopernya. Sebab, ia tahu harga rokok di negara Britania Raya itu bikin pusing kepala. Lagi pula belum tentu rokok di London cocok dengan seleranya. Meski tak cukup untuk satu tahun, setidaknya lintingan rokok yang Ai bawa bisa menemaninya selama beradaptasi dengan lingkungan baru.

Tapi siapa sangka perkara rokok malah membuat Ai mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan bermotif rasisme. Ceritanya malam itu, Ai dan seorang temannya yang juga warga negara Indonesia baru saja mengunjungi toko buku. Mereka berdua hendak pulang ke bagian tenggara kota London menggunakan kereta dari Stasiun Kereta Api King’s Cross. Stasiun megah dan besar di negara yang dikepalai Ratu Elizabeth II ini begitu penting karena menghubungkan banyak provinsi. Stasiun ini juga sering dijadikan lokasi syuting berbagai film ternama, salah satunya Harry Potter.

“Waktu itu pukul 7 malam lagi ramai dan padat sekali. Jadi saya memutuskan untuk nggak naik kereta dulu. Kita tunggu agak sepi. Sambil menunggu kita keluar dari stasiun ke sebuah open space dan kita ngerokok di sana,” cerita pria berusia 28 tahun ini kepada detikX.

Kampanye Stop Asian Hate
Foto: Getty Images

Ai dan temannya tidak sendiri. Di sana ada warga lokal lain yang tengah menikmati dinginnya angin malam di bulan November. Salju belum turun, tapi mereka sudah memakai mantel tebal. Selain mereka, banyak pula para tuna wisma atau homeless di sana. Tak lama seorang pria berkulit putih yang nampaknya bagian dari gerombolan tuna wisma menghampiri Ai. Ia meminta Ai membagi rokok dan sejumlah uang. “Kita nggak ngasih karena nggak pegang uang tunai. Selain itu juga ‘enak aja lu minta-minta, ini rokok Indonesia kita udah susah-susah bawa,’” kata Ai.

Semenjak kejadian itu saya jadi lebih waspada dan hati-hati. Kalau lagi duduk dimana atau mau ngerokok saya cari tempat dekat CCTV. Diajarin teman juga pakai headset, jadi kalo ada orang manggil pura-pura nggak dengar aja."

Gerombolan tuna wisma ini belum menyerah. Mengirim ‘utusan’ secara bergantian. Hingga tibalah pria keempat menyampaikan permintaan yang sama. Kesal tangan hampa, gerombolan itu meminta pria keempat kembali menghampiri Ai. Tanpa basa basi pria ini segera menghunjamkan bogem mentah ke pipi kanan Ai. Tak kuat menahan pukulan yang datang tiba-tiba itu, tubuh Ai pun langsung jatuh ke lantai.

Tak lama berselang, seorang pria berkulit hitam menghampiri Ai. Rupanya ia sebelumnya juga dipalak oleh gerombolan tuna wisma itu namun mereka tak sampai memukulnya. “Gara-gara pria berkulit hitam itu saya baru sadar kalau pelakunya menargetkan orang dengan latar belakang colour people. Karena herannya di sana banyak orang lain selain kami. Tapi kenapa cuma orang kulit hitam dan Asia saja yang jadi targetnya?” kata Ai bertanya-tanya dalam hatinya.

Dengan pipi masih memerah Ai melaporkan kejadian ini ke kantor polisi terdekat. Dua orang polisi berkulit putih sedang berjaga. Setelah melaporkan kejadian justru kecewa lah yang harus didapat. Sang polisi nampaknya acuh tak acuh dan tak mau ambil pusing. Mereka berkali-kali menanyakan bukti. Meski tidak terekam kamera pengaman, seorang teman yang melihat langsung kejadian harusnya sudah menjadi bukti cukup. Lagi pula gerombolan tuna wisma itu masih nongkrong di sekitar area stasiun sehingga mudah untuk ditelusuri.

“Sudah lah males juga karena nggak diladenin. Semenjak kejadian itu saya jadi lebih waspada dan hati-hati. Kalau lagi duduk di mana atau mau ngerokok saya cari tempat dekat CCTV. Diajarin teman juga pakai headset, jadi kalo ada orang manggil pura-pura nggak dengar aja,” ungkapnya Ai yang telah menyelesaikan studinya pada Oktober 2020.

Menurut teman Ai yang merupakan warga lokal, kejadian semacam ini memang kerap terjadi dan ia menasehati untuk lebih waspada. Kejadian bermotif rasisme di Inggris memang bukan baru sekali dua kali terjadi. Walaupun Ai merasakan kasus rasialisme di Inggris kondisinya tak separah kawannya yang menempuh pendidikan di Amerika.

Saat pandemi COVID-19 pertama kali menghantam Inggris, diumumkan dua orang yang telah terinfeksi dan menjadi kasus pertama. Ai melihat keturunan Asia di Inggris justru jauh lebih waspada dan lebih dahulu memakai masker. Warga lokal di sana sempat melihat mereka dengan tatapan aneh dan mungkin pula dijadikan bahan lelucon. “Dilihatin orang karena pakai masker, kayaknya terlihat suspiciousm,” ujar Ai yang kuliah di jurusan Cultural Studies ini. Saat pandemi di Inggris banyak imigran dari berbagai negara di Asia turut menjadi garda terdepan dalam memberantas virus COVID-19.

Di Jerman, orang-orang Asia juga sering menjadi korban rasisme
Foto Ilustrasi: DW

Di kampus Ai, kasus rasisme bukan jadi barang baru. Beberapa kali kasus rasialisme terjadi sampai membuat para mahasiswa mengamuk dan menduduki Deptford Town Hall, bagian selatan kampus selama lebih dari empat bulan. Kejadian ini terjadi enam bulan sebelum Ai tiba di London. Kampusnya ini banyak menerima mahasiswa internasional seperti Ai. Jurusan tertentu seperti Media Communication justru didominasi oleh orang China dan Korea.

Protes ini dipicu setelah insiden selama pemilihan Serikat Mahasiswa Universitas. Seorang kandidat dari Asia Tengah dalam pemilihan Serikat Mahasiswa mengalami kejadian rasis. Poster dan spanduknya dirobek-robek lalu diberi coretan rasis yang mengejek aksennya. “Protes ini membangkitkan banyak isu lain di kampus. Ada problem sistematis terkait praktik rasis di badan kampus ini. Seperti misalnya staf kulit berwarna nggak direkrut jadi dosen tetap. Lalu walaupun mahasiswanya internasional, tapi kurikulumnya masih sangat Eropa sentris sekali,” tutur Ai.

Protes ini memicu terbentuknya Goldsmith's Anti Racist Action atau GARA. Gerakan ini melakukan protes dan berkampanye menentang perbuatan rasis dan kolonialis secara institusional yang diberlakukan oleh Universitas. “Jadi salah satu poin kritik mereka tuntutannya adalah melatih staf agar lebih sensitif terhadap isu rasial,” ujarnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE