INTERMESO

Foto Proklamasi di Tangan Mendur Bersaudara

Mendur bersaudara adalah dua orang yang berhasil mengabadikan momen proklamasi 17 Agustus 1945. Negatif film sempat dikubur agar tak dirampas Jepang.

Foto: Frans Mendur dan Alex Mendur (IPPHOS/Tugu Pers Mendur/BBC)

Senin, 17 Agustus 2020

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan pengibaran bendera merah putih pada 17 Agustus 1945 dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Semua gerak-gerik pemuda dalam upaya memproklamasikan kemerdekaan diawasi ketat tentara Jepang. Beberapa tokoh berusaha menyebarluaskan momen penting itu dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan kakak-beradik Alex Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur.

Informasi bakal ada pembacaan proklamasi kemerdekaan sampai ke telinga Alex yang bekerja sebagai fotografer kantor berita Domei di Pasar Baru, Jakarta Pusat, dan Frans sebagai wartawan foto koran Asia Raya di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Untuk meyakinkan informasi itu, keduanya lalu berangkat menuju rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Agustus 1945 malam. Benar saja, malam itu sudah banyak orang di rumah Bung Karno.

Foto Bung Karno saat membacakan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945
Foto : IPPHOS via Perpustakaan Nasional

Di tempat lain, di rumah Laksamana Tadashi Meida di Jalan Meiji Dori (sekarang Jalan Imam Bonjol No. 1) Menteng, Bung Karno, Mohammad Hatta, serta tokoh-tokoh pemuda lainnya berkumpul. Mereka rapat sepanjang malam untuk merumuskan teks proklamasi. Pertemuan itu bubar setelah Bung Karno-Hatta menandatangani teks proklamasi pada Jumat, 17 Agustus 1945, atau menjelang sahur 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, pukul 04.00 WIB. Setelah itu, Bung Karno kembali ke rumahnya di Pegangsaan Timur.

Yang disita itu film (negatif) baru yang tidak ada apa-apanya alias kosong, belum ada foto. Jadi Frans Mendur sudah tahu, dia punya kakak disita kameranya. Dia buru-buru menggali tanah, mengubur roll film."

“Jadi Alex dan Frans ini sebetulnya hampir tidak percaya akan ada Proklamasi Kemerdekaan. Jadi jiwanya sebagai wartawan itulah yang membuat jadi tabayyun, meyakinkan dengan pergi ke rumah Bung Karno pada tanggal 16 Agustus 1945 malam dan memang sudah banyak orang di sana,” kata sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI), Asep Kambali, kepada detikX, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, Jumat itu. Di sekitar rumah Bung Karno sudah banyak rakyat berkumpul. Bung Karno saat akan membacakan teks proklamasi dalam kondisi demam, karena kelelahan. Sehingga Bung Karno tak berpuasa hari itu. Sementara beberapa kelompok pemuda sempat terkecoh dengan berkumpul di Lapangan Banteng, Gambir, Jakarta Pusat. Di tempat itu dijaga ketat pasukan Jepang. Informasi bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan di Lapangan Banteng adalah upaya pengelabuan kepada pihak Jepang agar kemerdekaan tak gagal.

Foto detik-detik proklamasi yang dimuat di buku "Peringatan Enam Bulan Republik Indonesia" pada Februari 1946.
Foto : Dok Oscar Motuloh

Usai prosesi pembacaan proklamasi dan pengibaran bendera merah putih, Alex dan Frans langsung bergegas menyelamatkan diri. Frans menguburkan roll film negatif hasil jepretannya di belakang kantor koran Asia Raya di Hayam Wuruk. “Jadi menjelang malam, dia (Frans) ambil lagi dan dibawa ke laboratorium foto di sebelah kantor Domei, sama dia cuci diam-diam di sana. Kalau sampai ketahuan, ya habis lah. Karena (foto) Alex sudah keburu dirampas dan dihancurkan oleh Jepang,” ungkap Asep.

Kamera milik Alex terkena sweeping tentara Jepang di tengah jalan. Dari jarak 50 meter, Frans melihat kamera milik kakaknya dirampas dan dihancurkan tentara Jepang yang kesal. Frans langsung secepat kilat mengeluarkan roll filmnya dan menyembunyikan di halaman belakang kantornya. Ia langsung memasukan roll film baru ke dalam kameranya. Frans pun tak luput di-sweeping tentara Jepang. Tapi di dalam kameranya sudah berisi roll film yang kosong.

“Yang disita itu film (negatif) baru yang tidak ada apa-apanya alias kosong, belum ada foto. Jadi Frans Mendur sudah tahu, dia punya kakak disita kameranya. Dia buru-buru menggali tanah, mengubur roll film," ungkap Pierre Mendur, salah satu kerabat Alex/Frans Mendur, kepada detikX, Minggu, 16 Agustus 2020.

Pierre mengatakan, apa yang dilakukan leluhurnya itu sebagai upaya menyelamatkan bukti-bukti pengambilan gambar teks proklamasi Republik Indonesia. Hal itu menjadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia sudah merdeka. “Baru enam bulan kemudian foto milik Frans Mendur yang isinya Sukarno membacakan proklamasi itu diberitakan di Harian Merdeka. Jadi, foto itu baru tersebar ke publik enam bulan kemudian,” tutur Pierre.

Foto tentang Proklamasi Kemerdekaan RI yang sakral baru terbit enam bulan kemudian di Harian Merdeka. 
Foto : Dok Oscar Motuloh

Foto proklamasi kemerdekaan RI milik Frans Mendur pertama kali diterbitkan melalui Harian Merdeka besutan BM Diah. Saat itu, Alex dan Frans Mendur sudah pindah ke harian tersebut. Kemudian, Redaktur Pelaksana Merdeka, Rosihan Anwar, menugaskan wartawannya membuat laporan khusus tentang‘Peringatan Enam Bulan Republik Indonesia. Foto Bung Karno yang tengah membacakan teks proklamasi dimuat dalam tulisan berjudul Soeasana Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timoer tanggal 19 Februari 1946.

Lalu foto Bung Karno-Hatta yang menyaksikan pengibaran bendera merah putih oleh Latief Hendradiningrat (anggota PETA) dalam tulisan Pemerintah Republik Menghadapi Pers Internasional tanggal 20 Februari 1946. “Jadi foto proklamasi pada terbitan Februari 1946 itu kemudian dibikin essai-nya di Merdeka. Yang menulis kalau nggak salah Pak D. Bassa, wartawan seniornya Merdeka,” ujar Oscar Motuloh, Direktur Eksekutif Museum dan Galeri Foto Jurnalistik ANTARA kepada detikX, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Alex, dan khususnya Frans Mendur ketika itu, memotret proklamasi dengan menggunakan kamera merk “Leica”, yang saat itu sudah tergolong modern dan mahal harganya. Kamera itu mereka dapatkan ketika bekerja magang di koran berbahasa Belanda, Java Bonde. Usai kemerdekaan, Alex-Frans ikut BM Diah dan Ahmad Tjokroaminoto mendirikan Harian Merdeka. Setahun kemudian, Mendur bersaudara bersama Umbas bersaudara (Nyong atau Ferdinand Frans Umbas dan Justus Kopit Umbas), Alex Mamusung, dan Oscar Ganda mendirikan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) atau kantor berita foto Indonesia tanggal 2 Oktober 1946 di Jalan Hayam Wuruk No. 30.

Foto pengibaran bendera Merah Putih usai pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 karya Frans Mendur yang dikoleksi Museum Mendur di Minahasa 
Foto : Dok. Pierre Mendur

“Mereka (Alex dan Frans Mendur) zaman Pak SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) mendapatkan bintang Maha Putra kalau tidak salah. Cuma menurut saya, ya Mendur bersaudara ini layak dijadikan pahlawan nasional. Nggak ada dia, nggak ada bukti Indonesia merdeka. Kalau kata anak sekarang kan no picture hoax ya…ha-ha-ha,” ucap Oscar.

Oscar mengaku sempat melakukan riset bersama Yayasan Bung Karno untuk meneliti seberapa banyak foto-foto proklamasi saat itu. Dari usia Indonesia merdeka hampir 70-an tahun baru menemukan 13 foto seputar proklamasi kemerdekaan, termasuk memastikan apakah foto-foto itu benar lokasinya di Pegangsaan Timur atau bukan. “Jumlah fotonya sekarang ada 13. Foto-foto sekitar proklamasi saja, karena yang kita kenal kan paling hanya ada empat atau lima gambar ya. Jadi kita masih lacak terus tuh, mudah-mudahan sih ketemu,” pungkas Oscar.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: M Rizal
Desainer: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE