INTERMESO

Belajar dari Rumah: Boros Kuota, Ortu Rindu Me Time

“Kemarin habis rapat orangtua secara online dan mereka pada ngeluh nggak punya me time, nggak bisa manikur pedikur.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 21 Juli 2020

Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Ita segera mengencangkan dasi di seragam putih-abunya. Ita meminta tolong ibunya yang sedang bersiap pergi ke kantor untuk memfoto dirinya mengenakan setelan seragam rapi. Foto itu dikirim Ita ke grup WhatsApp sekolahnya sebagai bukti kehadiran. Di dalam kamar, Ita membuka laptop untuk mengikuti kelas online. Mata pelajaran pertama hari ini adalah matematika.

Sejak akhir bulan Maret lalu, sekolah Ita telah memulai PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh. Ita menempuh pendidikan SMA jurusan Bahasa di sebuah sekolah negeri yang berada di Jakarta Pusat. Pada hari biasa, Ita bangun pukul 05.00 WIB untuk bersiap ke sekolah. Tapi sekarang karena sekolah jarak jauh, Ita bisa tidur lebih lama. Absensi untuk PJJ dimulai dari pukul 06.00 WIB. Jika sampai pukul 07.00 WIB murid tidak kelihatan batang hidungnya, maka akan dianggap absen.

“Enaknya aku bangun lebih siang. Terus kalau belum mandi nggak ketahuan, deh,” tawa Ita saat dihubungi detikX. Harusnya 15 Juli 2020 kemarin, sekolah Ita akan kembali melakukan pembelajaran secara normal, tapi rencana itu dibatalkan karena pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan perbaikan.

Anak Fransiska Lim belajar di rumah
Foto : Dok fransiska lim

Di rumahnya di daerah Kedoya, Jakarta Barat, Ita tinggal bersama orangtua dan empat kakaknya yang sudah bekerja. Namun kakaknya yang terakhir masih sambil menyelesaikan skripsi. Laptop pun dipakai berdua dengan sang kakak. Jika kakaknya sedang membutuhkan laptop, mau tak mau Ita mengerjakan tugas di sekolah dengan handphone. Walaupun kondisi rumahnya lumayan berisik, Ita lebih suka belajar di rumah.

“Aku sih nggak masalah. Malah menurut aku lebih konsentrasi. Kalau di sekolah suka digangguin teman atau diajak ngobrol,” tuturnya. Tapi ada pula hal yang Ita rindukan. “Nggak enaknya itu aku nggak bisa ketemu dan main sama teman-teman. Selama ini main di rumah aja dan nggak boleh jauh-jauh.”

Meski lebih konsentrasi, Ita merasa materi yang disampaikan guru kurang jelas. Setiap ada materi baru, gurunya hanya mengirimkan link YouTube  atau melalui dokumen dalam bentuk PDF dan Word. Sementara isinya, murid diminta menafsirkan sendiri. Hanya beberapa guru saja yang masih rutin mengadakan video call untuk menjelaskan materi.

“Itu pun paling seminggu maksimal dua kali aja. Kebanyakan mereka kirim materi terus langsung dikasih tugas, kadang bingung juga ngerjain-nya gimana,” keluh Ita.

Selain itu, semenjak PJJ, banyak teman Ita yang mengeluh boros kuota. Karena begitu banyak materi pelajaran yang wajib diunduh. Beruntung di rumahnya Ita sudah memasang jaringan wifi. Sementara jika mengandalkan kuota internet harian akan lebih boros. “Itu juga alasan kenapa guru nggak mau video call, karena internetnya nggak stabil. Kemarin juga yang pakai mobile data akhirnya dibeliin kuota tambahan sama sekolah,” katanya.

* * *

Kestabilan jaringan internet kerap jadi kendala bagi siswa di daerah terpencil.
Foto : ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI

Sejak kedua anak perempuan Fransiska Lim belajar di rumah, perannya jadi merangkap. Bukan hanya sebagai ibu rumah tangga dan wiraswasta, kini Fransiska juga harus menjadi guru untuk kedua anaknya. Situasi yang membuat para orangtua terpaksa menjadi guru dadakan membuat mereka kewalahan.

“Kemarin habis rapat orangtua secara online dan mereka pada ngeluh nggak punya me time, nggak bisa manikur pedikur,” tawa Fransiska yang menyekolahkan anaknya di salah satu sekolah swasta di daerah Alam Sutera, Tangerang.

Fransiska masih beruntung karena memiliki jadwal kerja yang fleksibel. Sambil mengurusi dagangannya, mulai pagi sampai siang, Fransiska bisa menemani anaknya yang masih kelas 5 SD dan TKB belajar secara daring di rumah. Mengajari anak yang masih kecil memang banyak tantangannya. Bagi Fransiska sendiri terutama anak paling kecil. Mereka harus didampingi terus menerus.

“Makanya saya nggak kebayang kalau orang tuanya work from office tapi masih punya anak kecil. Gimana cara belajarnya saya nggak paham. Karena dari pengalaman sendiri harus diawasin, anak TK gitu kalau belajar pasti sambil ke mana-mana lah,” ucap Fransiska.

Sebagai orang tua yang juga memegang peranan penting dalam keberhasilan belajar di rumah, Fransiska harus pintar membangun mood anaknya. Selama belajar di rumah pasti ada kalanya sang anak merasa jenuh. Apalagi harus terus menerus duduk di depan komputer. Meski tak diwajibkan, Fransiska tetap memakaikan seragam untuk kedua anaknya.

“Supaya mereka seragam, mereka harus berlaku layaknya di sekolah. Apa yang nggak boleh kamu lakuin di sekolah juga nggak boleh dilakukan selama belajar di rumah. Misalnya seperti main handphone saat jam pelajaran,” tutur Fransiska. Anak sulungnya memang suka terganggu dengan pesan WhatsApp dari temannya.

Pandemi COVID-19 membuat KBM dilakukan dari rumah atau online.
Foto: ANTARA Foto

Pembelajaran online ini biasanya dimulai dari pukul 08.00 WIB pagi sampai pukul 12.00 WIB. Dari sistem pembelajaran tidak ada yang berubah drastis. Jam pelajaran mengikuti jadwal yang sudah diberikan sekolah. Waktu pembelajaran pun diisi dengan video call atau mengerjakan tugas di Google Forms.

Meski nanti sekolah akan dibuka kembali, Fransiska masih enggan mengirim anaknya ke sekolah. Terutama jika vaksin virus Covid-19 belum ditemukan.

“Saya belum mau masukin anak saya walaupun lumayan ribet ngajarin mereka. Karena resikonya lebih besar dari pada benefit yang didapatkan. Walaupun masuk sekolah mereka nggak boleh main dan harus jaga jarak. Padahal yang kita kejar kan sosialisasinya itu,” ujar Fransiska.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE