INTERMESO

Sidang Skripsi Online yang Bikin Kalem Dosen

"Sampai ada yang bilang ke saya, 'Bu Mungky sidang online jadi kalem kenapa, ya?'”

Ilustrasi: Getty Images

Senin, 13 April 2020

Matahari baru terbit, namun Muhammad Fahri sudah rapi. Ia mengenakan setelan kemeja lengan panjang warna putih dan celana bahan warna hitam. Tak lupa Fahri memasang jam tangan coklat keemasan di tangan sebelah kirinya. Hari itu merupakan hari bersejarah dalam hidupnya, sekaligus menjadi hari penentu nasib Fahri. Mahasiswa S1 jurusan Komunikasi Massa di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, itu bakal menuntaskan perkuliahannya dengan sidang skripsi.

Sidang ini menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan Fahri. Begitu pula dengan para dosen penguji. Di tengah merebaknya pandemi COVID-19, sidang skripsi di kampus mereka diadakan secara daring. “Dua minggu sebelum jadwal sidang tatap muka, saya dikabari sidangnya diubah jadi online. Padahal saya sudah nyiapin bahan hard copy segala macam,” tutur Fahri yang sidang skripsi online 23 Maret 2020 lalu.

Muhammad Fahri, mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Bina Nusantara yang baru saja lulus dalam sidang skripsi online.
Foto : Dok Pribadi

Sebelum online di jam yang sudah ditentukan melalui aplikasi Webex, mahasiswa jurusan broadcasting ini membuka laptop kemudian menyiapkan bahan untuk dipresentasikan. Sesaat sebelum dimulai, tak lupa Fahri mengenakan jas almamater berwarna merah. Meski sidang dilaksanakan secara online, setiap peserta diwajibkan berpakaian rapi.

Memang kalau saya dosen pengujinya di sidang skripsi banyak gimmick dan drama. Biar jadi kenang-kenangan juga kan.'

Sidang dimulai ketika wajah dua dosen pengujinya muncul di layar laptop. Sidang ini juga dipandu oleh seorang admin kampus yang menjadi moderator. Fahri membawakan presentasi skripsi mengenai dramaturgi di acara televisi. Sidang dilakukan tanpa banyak basa-basi. Setiap sesi juga lancar tanpa halangan berarti. Yang hilang hanya rasa gugup ketika berdiri di depan dosen penguji. Fahri berhasil menjawab setiap pertanyaan dosen penguji. Di akhir sesi Fahri dinyatakan lulus sidang.

“Dosen penguji menyatakan saya lulus. Sudah selesai begitu saja, aneh rasanya,” ujar Fahri yang masih harus menyelesaikan revisi skripsi.

Mungky Diana Sari, dosen jurusan Komunikasi Massa, Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, Universitas Bina Nusantara, saat menguji skripsi mahasiswa secara online.
Foto : Dok Pribadi

Sidang skripsi online itu begitu hampa terasa. Begitu kira-kira Fahri menggambarkan sidang skripsi yang baru ia lalui. Tidak ada selebrasi setelah sidang skripsi. Tidak ada pula teman-teman Fahri yang menunggu di koridor kampus sambil membawakan buket bunga dan balon warna warni. Lewat foto diri, Fahri mengirimkan kabar kelulusan di WhatsApp. “Kayak nggak ada feeling sidangnya, nggak greget,” ungkapnya. Di tengah pandemi COVID-19 yang belum kelihatan ujungnya ini, Fahri juga bingung dengan jadwal wisudanya. “Nggak tahu juga nih wisudanya gimana. Harusnya sih bulan Mei tapi kalau melihat situasi begini mungkin bisa diundur sampai akhir tahun.”

Mungky Diana Sari merupakan salah satu dosen yang menguji Fahri. Dalam sejarahnya mengajar sebagai dosen, ini pertama kalinya ia menguji sidang skripsi online. Namun karena sidang online, Mungky jadi tidak bisa mengeluarkan jurus andalan untuk 'mengerjai' mahasiswanya. “Memang kalau saya dosen pengujinya di sidang skripsi banyak gimmick dan drama. Biar jadi kenang-kenangan juga, kan. Saya tanya terus sampai anaknya bingung sendiri,” canda dosen Jurusan Komunikasi Massa, Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, Universitas Bina Nusantara, ini. “Kalau online mau iseng mikir karena kondisi sinyal, nanti makin dimundurin, sinyal nggak bagus, poin penting yang mau disampaikan malah kelewat. Sampai ada yang bilang ke saya 'Bu Mungky sidang online jadi kalem kenapa,ya?'”

Perkuliahan di Universitas Bina Nusantara pun dilakukan secara online sejak munculnya pandemi COVID-19.
Foto : Dok Universitas Bina Nusantara

Koneksi internet yang cepat dan stabil memang jadi faktor penentu kelancaran sidang skripsi online. Masalahnya banyak mahasiswa yang pulang ke kampung halaman di tengah pandemi COVID-19. Sementara kecepatan dan jangkauan internet di berbagai daerah di Indonesia tidak seragam. “Memang di saat seperti ini dilarang bepergian mudik, tapi mahasiswa yang dari luar kota, orang tuanya dengar kabar kita mau kuliah online sampai satu semester akhirnya disuruh pulang. Kondisi di daerah sinyalnya mempengaruhi. Ini juga berpengaruh saat kelas reguler online,” kata Mungky.

Selain itu sulit bagi mahasiswa untuk melakukan revisi skripsi dengan maksimal. “Habis sidang nggak mungkin nggak ada revisi, maupun yang major atau minor. Revisinya terkadang si mahasiswa kesulitan. Revisi terkadang harus tambah data, jadi nggak bisa ketemu narasumbernya.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE