INTERMESO

Kisah Ngenes Gitar Didi Kempot

Kemasyuran Didi Kempot berawal dari tempaan keras kehidupan jalanan pada era 1980-an. Gitar satu-satunya untuk ngamen pernah rusak digondol anjing.

Foto: Ukiran bambu bergambar wajah Didi Kempot karya Anang Setyo Pambudi, warga Jombang, Jawa Timur (Syaiful Arif/ANTARA Foto)

Kamis, 07 Mei 2020

Didi Kempot kini telah pergi. Berpulangnya penyanyi yang termasyur dengan lagu-lagu Jawa ber-genre campursari itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat seniman, hingga para penggede negeri ini yang mengenalnya. Terlebih lagi bagi jutaan penggemar “Lord Didi” yang disebut sebagai “Sobat Ambyar”.

Ada akhir, ada awal. Didi Kempot bukan penyanyi yang mendadak menjadi bintang karena viral di YouTube, meski dalam berbagai kesempatan ia mengatakan hadirnya teknologi internet telah membuat namanya kembali melambung, bahkan lebih ‘mencorong’ dibanding masa keemasannya pada 1990-an. Penyanyi 53 tahun itu punya karir bermusik yang panjang, dan dimulai dari tempaan kerasnya hidup di jalanan.

Belum banyak yang menggali cerita awal karir Didi Kempot sebagai pengamen. Meninggalkan bangku kelas 2 SMPN 15 Solo tahun 1982, Dionisius Prasetyo, nama asli Didi Kempot, memilih menjadi pengamen demi mengejar mimpinya menjadi seorang penyanyi. Didi ingin menjadi seniman besar mengikuti jejak keluarganya. Ayahnya, Ranto Edi Gudel, adalah pemain ketoprak kenamaan di Solo. Ibunya, Umiyati Siti Nurjanah, seorang penyanyi keroncong. Sedangkan kakaknya, Mamiek Prakoso, merupakan mantan personel grup lawak Srimulat.

Lord Didi saat masih hidup.
Foto : Istimewa

Keprabon, sebuah daerah di dekat Istana Mangkunegaran, Solo, menjadi tempat Didi Kempot sehari-hari mbarang (mengamen). Tidak sendiri, ia ditemani oleh Wawan Liswanto alias Mbolo, teman sebaya yang sama-sama keluar dari SMP. “Jadi kita kan SMP nggak lulus. Cuma waktu itu adalah masa-masa, kalau zaman sekarang ya kita ini anak-anak gaul, lah. Kita kumpul bareng, gitaran genjrang-genjreng. ‘Yuk daripada kita genjrang-genjreng nggak ada manfaat kita jalan’. Terus terjadilah ngamen di Keprabon itu," cerita Mbolo kepada detikX, Selasa 5 Mei 2020 lalu.

Mas Didi selalu bilang, berteman itu jangan ada batas. Jadi paseduluran tanpa tepi. Persaudaraan itu jangan melihat latar belakang SARA."

Tak lama kemudian, Mbolo berpisah dengan Didi Kempot karena harus merantau ke Jakarta. Ia menjadi salah satu personel grup musik pengiring Srimulat. Saban malam ia memainkan musik pembuka sebelum Srimulat pentas di Gedung Srimulat di Taman Ria Remaja, Senayan. “Saya pegang alat musik ukulele dan perkusi,” kata Mbolo. Namun Didi Kempot kemudian menyusul juga ke ibu kota pada tahun 1986.

Didi Kempot dan Mbolo menghuni sebuah rumah di Jalan Anggrek Blok C, Slipi, Jakarta Barat, yang dikontrak oleh Teguh Slamet Rahardjo, pendiri grup lawak Srimulat. Keduanya menghuni kamar bagian depan. Di rumah itu juga ikut tinggal Mamiek, yang menghuni kamar tengah. Ada pula Bejo Peyok, anggota Srimulat asal Semarang, kebagian kamar belakang.

Mbolo mengatakan, bila malam datang, dia pentas untuk Srimulat. Pada siang hari dia mengamen bersama Didi Kempot. Dua remaja ingusan asal Solo ini bersama pengamen lainnya membentuk kelompok bernama Kelompok Penyanyi Trotoar (Kempot). Mereka kerap nongkrong di Bundaran Slipi. Didi Kempot dan Mbolo juga kerap mengamen di transportasi umum jurusan Grogol-Blok M.

Didi Kempot dan Antok Mbolo
Foto : Dok Antok Mbolo

“Pada waktu itu dapat Rp 15 ribu dari Grogol-Blok M pulang-pergi itu sudah juara. Grogol-Blok M Rp 15 ribu, kemudian turun minum es teh, naik lagi Rp 15 ribu lagi. Sore bagi hasil. Paling tidak satu personel dapat Rp 45 ribu lah. Iso nggo nyahur utang mangan ha-ha-ha (bisa buat bayar utang makan),” kata Mbolo.

Karena belum menciptakan lagu sendiri, Mbolo bercerita, Didi Kempot sering membawakan lagu-lagu pop yang sedang nge-hit saat itu. Contohnya adalah “Abang Becak” karya Trio Bimbo dan “Di Radio” yang dipopulerkan oleh Gombloh. Namun, bila mengamen di perkantoran, lagunya berubah serius. “Kalau di instansi-instansi, nyanyinya lagu ‘Padamu negeri (Bagimu Negeri)’” kenangnya.

Tidak hanya di Slipi, Didi Kempot sempat pindah kos di Kampung Makasar, Jakarta Timur. Banyak personel Srimulat seperti Tarzan dan juga Mamiek sendiri memang kemudian tinggal di daerah itu. Saat tinggal di Kampung Makasar, Mbolo ingat akan sebuah kejadian lucu bin ngenes. Suatu hari, Didi Kempot sedang makan nasi berlauk bandeng. Tidak mau makan sendiri, ia juga ingin membaginya dengan Mbolo. Makanan itu disimpan di lubang gitarnya. Eh, tak tahunya gitar itu digondol anjing hingga ditemukan di bawah kolong fly over. “Pernah terjadi itu. Senare modal-madul, dadi nggak iso mbarang (Senar gitarnya berantakan, jadi tidak bisa mengamen)”.

Setelah beberapa waktu mengamen di Jakarta, dimulailah karir penciptaan lagu Didi Kempot. Lagu pertama yang diciptakan berjudul Ginah. Kemudian muncul lagu kedua berjudul Modal Dengkul, yang menceritakan kisah merantau Didi Kempot ke Jakarta. Sayang, kedua lagu tersebut kurang laku. Nasib apes juga pernah dialami kedua karib itu saat hendak menumpang rekaman di sebuah studio di Sumur Batu, Kemayoran. Bukannya dipersilakan masuk, Didi Kempot dan Mbolo justru diusir tanpa alasan yang jelas. Di tengah hujan deras, keduanya pergi dari studio rekaman itu.

Almarhum Didi Kempot dimakamkan di Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Selasa, 5 Mei 2020.
Foto : Joni Pratama/ANTARA Foto

Namun, di tengah proses perjalanan menciptakan karya lagu tersebut, Didi Kempot dan Mbolo pernah memenangkan sebuah lomba mengamen di Silang Monas dengan mengusung lagu Bengawan Solo karya almarhum Gesang. Di tengah penampilan mereka, ada seorang pemilik studio rekaman di Suriname tertarik dengan aksi panggung Didi Kempot. Didi Kempot pun akhirnya dibawa melanglang buana ke Suriname. Selama enam tahun lamanya, Didi Kempot dan Mbolo berpisah.

“Aku sama Kempot itu enam tahun nggak ketemu. Begitu pulang ada kabar berita Dani Pelo yang nyanyi Anoman Obong itu meninggal. Terus ketemu lah saya dengan Didi Kempot lagi di Solo lalu bikin karya ‘Stasiun Balapan’ pada 1995. Waktu itu masih pita kaset. Aku ikut ngedarkan sampai Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, pakai vespa etek-etek. Setelah itu terus sampai sekarang,” katanya.

Kembali pada saat mengamen di Jakarta, Mbolo mengatakan, ia bersyukur dirinya dan Didi Kempot dapat melewati masa-masa susah itu. Di saat Didi Kempot sudah menjadi penyanyi sukses, kehidupan di jalanan itu membuahkan prinsip yang mulia. Menurut Didi Kempot, menjadi orang kaya tidak akan ada gunanya jika tidak bisa memikirkan orang lain yang kesusahan. Prinsip itu yang dipegang erat oleh Didi Kempot sehingga ia menjadi sosok yang gemar membantu orang lain, khususnya sesama seniman, yang membutuhkan.

“Mas Didi selalu bilang, berteman itu jangan ada batas. Jadi paseduluran tanpa tepi. Persaudaraan itu jangan melihat latar belakang SARA. Kalau nanti kita sudah mencapai puncak jangan sombong,” pungkas Mbolo.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE