INTERMESO

Didi Kempot,
Cerita Surga, dan Gesang

“Seumpama aku mati, namaku akan dikenang seperti Mbah Gesang.”

Foto: ANTARA Foto

Rabu, 06 Mei 2020

Wawan Liswanto alias Mbolo tak menyangka acara kumpul-kumpul wedangan bersama Didi Kempot di Solo pada Senin malam kemarin menjadi perjumpaan terakhirnya dengan sang maestro campursari tersebut. Keesokan harinya, Selasa, sekitar pukul 07.30 WIB, telepon genggamnya berdering. Di ujung telepon, seorang dokter di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, yang kebetulan temannya saat Sekolah Menengah Pertama, memberi sebuah kabar yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Didi Kempot, sahabat dekat yang telah dikenalnya selama tiga puluh tahun lebih, meninggal dunia.

Setengah tidak percaya, Mbolo berusaha menegaskan sekali lagi kabar mengejutkan itu. “Kowe ki gojek, po? (Kamu itu bercanda, apa?). Jangan bercandaan, to,” kata Mbolo. “Nggak, Mas. Ini bener. Mas Didi meninggal dunia,” katanya menirukan ucapan dokter RS Kasih Ibu pagi itu. Mbolo lalu menelepon adik kandung Didi Kempot, Eko Guntur Martinus alias Eko Gudel. Namun, Eko pun rupanya baru tahu kabar duka itu dari Mbolo. “Weh, opo iyo? (apa iya)” Eko Gudel kaget. Pagi itu, keduanya lantas berangkat bareng ke RS tempat di mana Didi Kempot menghembuskan nafas terakhirnya.

Didi Kempot, penyanyi kelahiran Solo, 31 Desember 1966, berpulang pada usia 53 tahun karena penyakit asma, kemarin. Asisten Manajer Humas RS Kasih Ibu, Divan Fernandes, menerangkan, saat tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit, Didi Kempot sudah mengalami henti jantung. Petugas medis sudah memberikan pertolongan, namun nyawa penyanyi bernama asli Dionisius Prasetyo itu tak bisa diselamatkan. Sumartono Hadinoto, Ketua Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) yang melayat ke RS bersama Walikota Solo FX Rudy Hadyatmo bilang, Didi Kempot sudah mengeluhkan sesak nafas pada malam harinya. Almarhum menolak dibawa ke RS karena takut bila harus dirawat.

Didi Kempot saat duet dengan Isyana Saraswati
Foto : dok. instagram


Prosesnya panjang sekali, karena saya salah satu saksi hidup, sahabat dekat beliau, yang sampai akhir hayat beliau... bahkan tadi malam pun saya masih ketemu di wedangan. Sempat mengobrol dan nggak ada tanda apa-apa.”

Jenazah pelantun tembang “Sewu Kuto” itu pun telah dimakamkan di dekat pusara anak kandung pertamanya, Lintang, di Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Selasa, sore. Lintang meninggal dunia pada 25 Oktober 1995 dalam usia belum genap satu tahun. Kedua istrinya, keluarga, sahabat, serta para penggemar yang disebut sebagai “Sobat Ambyar" ikut mengiringi kepergian Didi Kempot ke peristirahatan terakhirnya. Kehilangan yang sangat mendalam terhadap sosok penyanyi berjuluk “The Godfather of Broken Heart” tersebut begitu terasa sepanjang prosesi pemakaman berlangsung.

Begitu pun dengan Mbolo. Ia masih tidak bisa memahami mengapa Tuhan memanggil Didi Kempot begitu cepat dan tiba-tiba. Terlebih Didi Kempot tengah kembali berada di puncak kejayaannya sebagai penyanyi. Mbolo adalah sahabat dekat sekaligus saksi hidup perjalanan karir bermusik Didi Kempot. Dia pulalah yang menjadi teman duet mengamen Didi Kempot di Solo pada tahun 1984-1986 dan kemudian Jakarta. Mereka membentuk sebuah wadah bernama Kelompok Penyanyi Trotoar atau disingkat "Kempot", nama yang kemudian melekat pada Didi sampai akhir hayatnya. Mbolo pun hafal betul riwayat penciptaan setiap lagu Didi Kempot mulai dari “Modal Dengkul”, “Nunut Ngiyup,” “Sewu Kuto,” hingga “Stasiun Balapan”. Lagu terakhir itu meledak di pasaran pada 1995 dan membuat Didi Kempot mulai populer.

“Prosesnya panjang sekali, karena saya salah satu saksi hidup, sahabat dekat beliau, yang sampai akhir hayat beliau... bahkan tadi malam pun saya masih ketemu di wedangan. Sempat mengobrol dan nggak ada tanda apa-apa,” kata Mbolo kepada detikX, Selasa, 5 Mei.

Hanya saja, Mbolo, teman dekat, dan kru grup musik Didi Kempot sempat bertanya-tanya tentang sebuah lagu yang diciptakan dan digarap oleh Didi Kempot dalam sebulan terakhir ini, seiring merebaknya virus COVID-19. Lagu itu berjudul “Pengin Mlebu Surga” (Ingin Masuk Surga). Melalui lagu itu, Didi Kempot bercerita bahwa dirinya ingin masuk surga, tidak mau masuk neraka. Lagu itu, menurut Mbolo, sudah dalam tahap akhir. Syuting untuk video klipnya sudah rampung. Rencananya, lagu itu bakal diluncurkan dalam konser akbar Didi Kempot di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada September 2020 mendatang.

Kerabat meratapi pusara almarhum penyanyi campursari Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot sesuasi dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Majasem, Ngawi, Jawa Timur
Foto : ANTARA FOTO/Joni Pratama

Di wedangan pada malam sebelum mangkat, Didi Kempot dan kru-nya juga membahas tentang proses pembuatan lagu "Pengin Mlebu Surga" tersebut beserta rancangan video klipnya. “Jadi malam itu lagunya sedang di-mixing, editing, Ya, dibenah-benahin sedikit gitu lah. Nah, lagu itulah yang membuat kru, teman-teman deketnya Mas Didi termasuk saya kaget. Iki arep eneng opo lho? (ini mau ada apa). Eh lha kok paginya meninggal,” kata Mbolo.

Selain itu, Mbolo yang pulang sebelum acara kumpul-kumpul itu bubar mendapatkan cerita Didi Kempot sempat mengatakan kepada seorang temannya, Mbah Bawang, bahwa apabila suatu saat meninggal dunia, namanya bakal dikenang seperti maestro keroncong Solo, Gesang. “Seumpama aku mati, namaku akan dikenang seperti Mbah Gesang,” ucap Didi Kempot. Menurut Mbolo, Didi Kempot memang akrab dengan pencipta lagu legendaris “Bengawan Solo” itu semasa masih hidup.

Saat gempa bumi dahsyat melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 26 Desember 2006, dirinya dan Didi Kempot sempat mengunjungi Gesang dan mengajak membuat aksi amal untuk membantu para korban gempa bumi di Klaten. “Saya sowan ke Mbah Gesang sama Didi Kempot, tak suruh nulis Bengawan Solo dan tandatangan, tak lelang untuk bantuan gempa. Pada waktu itu Mbah Gesang kerso (bersedia ) tandatangan. Kemudian, Didi Kempot juga menulis Stasiun Balapan dan ditandatangani, dibeli Bupati Klaten waktu itu Rp 30 juta untuk amal,” ungkap Mbolo.

Sebagai orang yang mengetahui betul watak dan karakter Didi Kempot, menurut Mbolo, Didi Kempot adalah sosok seniman yang perhatian terhadap seniman lainnya. Bukan hanya terhadap seniman di Solo, melainkan seluruh Indonesia. Putra seniman Ranto Edi Gudel itu juga tidak segan membantu sesama seniman yang sedang membutuhkan. Bertemu dengan sesama seniman di manapun, Didi Kempot selalu tampil rendah hati. “Dan itu lillahi ta'ala ikhlasnya. Makanya Indonesia berduka ini, bener-bener kehilangan seorang legend,” ungkap Mbolo.

Almarhum Didi Kempot dan Antok Mbolo
Foto : Dok Antok Mbolo

Sedangkan kepada keluarga dan teman-teman dekatnya, Didi Kempot selalu menanamkan sikap berani untuk berkreasi dan menghadapi keadaan apapun. Namun, yang tak boleh dilupakan adalah berdoa kepada Tuhan entah bagaimanapun caranya. Selain itu, harus selalu ingat terhadap orangtua, saudara, dan teman-teman yang berada dalam kesulitan. “Alhamdulillah sampai detik ini almarhum Mas Didi Kempot itu sahabat terbaik di mata saya. Beliau low profile, tidak membeda-bedakan teman. Dan dalam kondisi sedang punya, ibaratnya dia itu nggak merem, kancane yo dipikir (temannya juga dipikirkan),” pungkas Mbolo.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE