INTERMESO

Kisah China Basmi Corona Pakai Teknologi

China memanfaatkan teknologi untuk menekan virus corona. Sebagian mempertanyakan apakah data kesehatan akan dihapus setelah corona berlalu.

Foto: Getty Images

Kamis, 16 April 2020

Sekelompok warga terlihat antre untuk melintas di Han Street di Kota Wuhan, pada Rabu 8 April lalu. Setiap orang menunggu untuk diperiksa suhu tubuhnya sebelum melewati jalan tersebut. Selain itu, warga harus menunjukkan kode QR yang terdapat pada smartphone mereka. Jika kodenya berwarna hijau, maka mereka diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan.

Di Stasiun Hankau, Wuhan, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua, 8 April lalu, seorang wanita juga terlihat menunjukkan indikator kesehatan yang dimilikinya kepada sopir sebelum menaiki taksi. Sebelumnya, wanita tersebut juga telah memindai kode QR untuk pemeriksaan kesehatan begitu turun dari kereta api di Stasiun Hankau.

Meski penguncian kota (lockdown) di Wuhan, kota titik nol penyebaran virus corona (COVID-19) telah dicabut, namun jutaan warganya tetap harus menunjukkan kode QR itu ketika hendak bepergian. Dan, tidak hanya di Wuhan, teknologi digital untuk mengendalikan pergerakan orang dan menekan penyebaran virus corona tersebut masih diterapkan di berbagai kota di China hingga saat ini.

Koresponden CNN David Culver menunjukkan kode QR di smartphone-nya saat berada di Shanghai 
Foto : Dok CNN


Untuk menghentikan penyebaran virus, pelacakan kontak adalah langkah penting dan inilah mengapa inisiatif serupa diadopsi di tempat-tempat di seluruh dunia."

Selain China, beberapa negara juga menggunakan teknologi tersebut untuk menekan angka penyebaran virus corona. Singapura bulan lalu meluncurkan aplikasi pelacakan kontak, yang memungkinan petugas mengidentifikasi orang-orang yang telah kontak dengan pasien COVID-19. Jepang yang baru saja mengumumkan keadaan darurat nasional mempertimbangkan penggunaan aplikasi serupa. Sistem kode QR bahkan telah diterapkan di Moskow untuk melacak pergerakan orang-orang dan menertibkan lockdown.

Dikutip CNN, 16 April 2020, pemerintah China menggandeng dua raksasa teknologi, Alibaba dan Tencent untuk mengembangkan kode kesehatan pada platform unggulan mereka mulai awal Februari lalu. Seperti diketahui, Alibaba mempunyai aplikasi pembayaran Alipay yang digunakan jutaan orang di China. Di pihak lain, Tencent memiliki aplikasi pesan WeChat yang sangat populer dan eksklusif di China.

Sistem kerja kode QR kesehatan kira-kira begini. Ambil contoh di Kota Hangzhou. Seorang warga harus mengisi informasi pribadi termasuk nama, nomor identitas nasional, nomor paspor, serta nomor telepon pada halaman pendaftaran untuk mendapatkan kode kesehatan itu. Mereka kemudian diminta melaporkan riwayat perjalanan dan apakah pernah menjalin kontak dengan pasien positif atau dicurigai corona sepanjang 14 hari terakhir.

Pendaftar juga harus mencentang daftar isian untuk setiap gejala yang mungkin dirasakan di tubuhnya, yaitu demam, kelelahan, batuk kering, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, atau diare. Setelah informasi tersebut diverifikasi petugas, maka pengguna akan diberi kode QR berwarna merah, kuning, atau hijau.

Jika kode yang didapatkan berwarna merah, maka pengguna akan dimasukkan ke karantina pemerintah atau karantina mandiri selama 14 hari. Apabila pengguna memperoleh kode kuning, berarti wajib karantina selama tujuh hari. Nah, bagi yang mendapatkan kode QR warna hijau, menurut otoritas Hangzhou, dia diperbolehkan bergerak di sekitar kota secara bebas.

Calon penumpang yang hendak memasuki subway harus diyakini sehat dengan scan barcode di stasiun
Foto: AP Photo/Ng Han Guan

Dalam penerapannya, kode kesehatan Alipay di awal-awal pandemi corona telah diadopsi oleh 100 kota di China dan berkembang menjadi 200 kota pada akhir Februari. Sedangkan sistem yang dikembangkan Tencent telah diterapkan di 300 kota pada Maret lalu. Di Beijing, kode QR kesehatan dari dua raksasa teknologi tersebut juga dilengkapi dengan pengenalan wajah pendaftar ketika mendaftar.

Selain kode QR untuk penduduk, ChinaDaily, 8 April, melaporkan, Tencent juga meluncurkan kode QR bernama Fuxuema, yang kurang lebih artinya “kode pembukaan sekolah”. Hal itu terkait semakin banyaknya lembaga pendidikan yang mengumumkan bakal melanjutkan aktivitas pendidikan yang sempat mandek berbulan-bulan.

Melalui Fuxuema itu, siswa dan orangtua murid dapat melaporkan kesehatan mereka yang disediakan melalui program khusus di WeChat. Aplikasi akan mencatat suhu tubuh, gejala yang berkembang, serta keberadaan siswa selama 14 hari sebelum masuk sekolah. Informasi itu dapat diakses oleh guru dan pihak sekolah untuk menentukan kebijakan.

Pakar kesehatan di Alibaba, Xian-Sheng, mengatakan teknologi sekarang ini memainkan peranan penting dalam menahan pandemi. "Untuk menghentikan penyebaran virus, pelacakan kontak adalah langkah penting dan inilah mengapa inisiatif serupa diadopsi di tempat-tempat di seluruh dunia," kata Xian-Sheng.

Pakar ekonomi Universitas Zhongnan, Pang Helin, kepada Xinhua akhir Februari lalu, menjelaskan, kode QR menunjukkan bagaimana internet digunakan China dalam perang melawan COVID-19. Kode itu juga memberikan dukungan yang kuat untuk pencegahan dan pengendalian epidemi, serta dimulainya kembali ekonomi.

Namun, namanya juga teknologi, tidak pernah tanpa masalah atau hambatan. Di Hangzhou, masih menurut laporan CNN, beberapa warga China mengeluh melalui media sosial. Sebabnya, mereka diberi kode merah karena alasan yang kurang tepat, seperti mereka membubuhkan tanda centang pada “hidung tersumbat” dan “kelelahan.”

Lockdown di Wuhan telah berakhir pada 8 April 2020
Foto: AP Photo

Ketika kota seperti Wuhan telah mencabut larangan perjalanan dan orang-orang mulai bepergian ke luar kota, tidak semua kota dan provinsi di China mengenali kode kesehatan masing-masing. Sebab, meski semua kode QR tersedia dalam tiga warna yang sama dan dikembangkan perusahan yang sama, kode-kode itu didasarkan pada data COVID-19 yang berbeda yang dibuat otoritas lokal. Kemudian data tersebut ternyata tidak dibagi di antara pemerintah lokal di China sendiri. Sehinga kode QR di suatu tempat tak bisa dikenali di tempat lain.

Ada juga masalah lain menyangkut privasi data pengguna yang telah dikumpulkan termasuk lokasi, riwayat perjalanan, kontak terakhir dan status kesehatan. Data itu dikhawatirkan bocor. Sebagian juga mempertanyakan apakah data-data itu akan dihapus ketika pandemi virus corona telah berlalu.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE