INTERMESO

Tetap Instagramble dengan Baju Bekas

“Ada kepuasan tersendiri kalau kita bisa nemuin pakaian bagus. Karena thrifting itu unpredictable.”

Foto: hartakarun.co (instagram)

Senin, 06 Januari 2020

Demi jalan-jalan ke destinasi impiannya, Rizka Nidy sudah bertekad mengirit uang jajan. Nidy harus pasang muka tebal setiap kali menolak ajakan temannya buat nongkrong di kafe yang sedang nge-hits. Begitu pula dengan godaan untuk berbelanja pakaian lucu di online shop kesayangannya. Demi tiket pulang pergi ke India, Nidy terpaksa gigit jari. “Tapi aku juga manusia biasa yang nggak kuat nahan nafsu belanja. Makanya aku berburu baju second hand,” tutur Nidy.

Sebagai seorang travel blogger, Nidy butuh outfit kece buat difoto bersama tempat wisata yang didatangi. Tapi kalau cuma demi konten, rasanya sayang sekali jika harus membeli baju hanya untuk sekali unggah di medsos. Rutinitas ini tentu bakal bikin kantong Nidy jebol. Solusinya, perempuan yang bekerja di perusahan sekuritas ini membeli baju bekas impor. Mall bukan lagi satu-satunya pilihan. Pasar Senen adalah salah satu spot andalannya untuk thrifting, istilah gaul berburu baju bekas.

“Aku udah thrifting dari 2006, waktu masih ngampus di Perbanas. Waktu itu tempatnya masih kumuh, bau, sumpek banget karena banyak yang datang,” ungkap pemilik blog missnidy.com yang sudah khatam dengan seluk beluk Pasar Senen itu.

Rizka Nindy sudahthrifting sejak tahun 2006.
Foto : Dok Pribadi

Pasar tradisional Senen memang seolah tidak ada matinya. Meski sudah beberapa kali terbakar, tempat berjualan pakaian ini tak pernah sepi pembeli. Mulai dari berjualan di pinggir pasar hingga kini masuk ke dalam kios. Di Pasar Senen, kios yang menjajakan aneka pakaian bekas berderet. Pakaian model apapun, terutama yang vintage, semua serba ada. Bagi yang beruntung bahkan bisa menemukan barang bermerk bekas seperti Zara, Uniqlo maupun Chanel.

Mata lu harus kayak mata elang buat notice barang sekeren ini di antara tumpukan-tumpukan barang bekas.

“Semenjak banyak yang tahu di Pasar Senen barangnya bagus-bagus, jadi makin ramai. Bahkan sekarang isinya anak kuliah yang gaul, gitu,” tuturnya. Penjual baju bekas pun tak ingin kehilangan momentum. Harga pakaian bekas jadi makin melambung dan makin susah ditawar.

“Kalau dulu enak banget nawarnya. Dari Rp 100 ribu bisa turun jadi Rp 20 ribu. Dress yang bagus mentok Rp 60 ribu. Ada sih yang Rp 35 ribu, tapi itu nawarnya udah abis-abisan,” ungkap Nidy. Dengan kocek Rp 200 ribu, Nidy biasanya bisa mendapatkan hingga lima atasan atau terusan.

Baju-baju bekas impor di Pasar Senen.
Foto: Alfathir Yulianda/detikcom

Salah satu hasil perburuannya ia kenakan ketika berkunjung ke Jaipur, kota di India yang terkenal dengan arsitektur bangunan serba merah muda. Sebuah terusan dengan warna dasar putih dihiasi dengan aksen bunga berwarna biru dan coklat. Nidy mempermanis tampilan feminimnya dengan bando dan tas selempang bundar. “Nggak ada yang nyangka baju sebagus ini ternyata baju bekas. Lumayan anggaran beli baju bisa dihemat untuk jalan-jalan ke destinasi selanjutnya,” tawa Nidy.

                                                                          ***

Buat Steffi Santa yang punya passion di bidang fashion, penampilan yang keren itu tidak harus mahal. Sebagai content creator, ia justru menyebarkan virus thrifting di kalangan sesama penggemar fashion. Konten thrifting yang Steffi bikin di YouTube sering kali jadi sorotan penontonnya.

“Sejak setahun terakhir konten thrifting banyak yang request. Aku jadi sebulan minimal 2 kali pasti thrifting,” ungkap pemilik akun YouTube Steffi Santa yang kini di-subscribes oleh 22,1 ribu penggemar. Di antara pasar yang ia datangi termasuk Pasar Loak Kebayoran Lama. Lokasinya berada di sekitar kawasan Stasiun Kebayoran.

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, Steffi juga sempat ragu memakai baju bekas kotor. Tapi lambat laun, Alumni Universitas Sumatera Utara jurusan Pertanian ini malah ketagihan memakai pakaian bekas. Setiap kali thrifting dan berhasil menemukan outfit keren, ia merasa ibarat menemukan emas dalam pencarian harta karun.

Steffi Santa dengan pakain bekas impornya.
Foto : Dok Pribadi

“Ada kepuasan tersendiri kalau kita bisa nemuin pakaian bagus. Karena thrifting itu unpredictable. Ada yang sampai datang tiga kali aja masih belum nemu yang bagus. Jadi hoki-hokian. Tapi sekalinya ketemu itu bahagia banget,” ungkap Steffi yang pernah bekerja di Majalah GoGirl ini.

Ketika menyusuri Pasar Loak Kebayoran beberapa waktu lalu misalnya, Steffi berhasil menemukan berbagai macam pakaian dan barang bagus. Dompet merk Porter yang dibeli dengan harga Rp 30 ribu. Begitu pula dengan sebuah kalung mutiara merk Chanel.

“Mata lu harus kayak mata elang buat notice barang sekeren ini di antara tumpukan-tumpukan barang bekas. Gua nggak bisa bilang semua yang kita temuin 100% barang asli. Tapi dilihat dari detilnya, kalau ini beneran kalung Chanel asli, ini literally legit banget, sih,” tutur Steffi.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE