Ilustrasi: Edi Wahyono
Rabu, 31 Mei 2023Ini adalah cerita seorang bandit yang hidup di zaman Hindia Belanda. Sedari kecil, Kesen membuat pusing ibunya, Mak Kesen, dan warga di Kampung Rawa Bokor, Tangerang. Sejak umurnya baru menginjak 5 tahun, tingkah laku Kesen sudah menunjukkan tanda-tanda kebengalannya. Berkelahi dan mencuri sudah dilakukan di kampungnya sendiri.
Ketika umurnya semakin bertambah, bocah Kesen sudah mulai melakukan pencurian. Ada saja laporan dari warga yang kehilangan barang-barang di dalam rumah kepada keamanan kampung, kepala desa, dan demang.
"Mak Kesen, anak kau si Kesen semakin lama semakin jahat. Semalam tatkala aku berjalan ronda, aku melihat anak itu mencuri kelapa di pekarangan Pak Jiun. Tempo itu cuma kutempeleng dan kuusir pulang, sebab ia masih muda. Jikalau sekali lagi si Kesen mencuri, tentu kutangkap dan dibawa ke rumah cutak (camat) agar anak itu dikirim ke polisi," kata salah seorang mandor di Rawa Bokor bernama Nomo saat itu.
Selain nakal, Kesen juga berlaku durhaka kepada orang tuanya. Bila keinginannya tak dipenuhi, Mak Kesen dipukul, ditendang, dan dilempar. Tingkahnya membuat warga geram. Tapi Mak Kesen dianggap memanjakan anaknya dan melarang anaknya untuk diberi hukuman. Pasalnya, bila Kesen dihukum, ia akan mengamuk di rumah.
Mak Kesen melahirkan dan membesarkan anaknya bersama suaminya. Entah kenapa perangai Kesen jauh berbeda dengan ayahnya. Ada rumor, ayahnya bukanlah ayah kandung yang sebenarnya. Sebab, Mak Kesen disebutkan menjadi korban pemerkosaan di hutan, tak jauh dari kampung Rawa Bokor.
Saat itu, Mak Kesen hendak berbelanja menuju sebuah pasar di Mauk melalui jalanan yang membelah hutan. Ternyata di dalam hutan itu banyak dihuni gerombolan perampok. Biasanya orang yang akan pergi ke pasar selalu pergi secara berkelompok agar tak menjadi korban perampokan. Tapi nahas bagi Mak Kesen. Ia pergi sendiri dan diculik serta diperkosa.
Ia dipaksa melayani nafsu bejat pimpinan gerombolan perampok tersebut. Perempuan itu sempat melawan. Tapi apa daya. Di tengah todongan senjata api, Mak Kesen pasrah dan menangis diperkosa gembong perampok tersebut.
Sifat jahat Kesen diduga menurun dari lelaki pemerkosa Mak Kesen. Setelah dewasa, kejahatan Kesen meningkat dan kian merajalela. Dia mencuri nasi di dapur rumah tetangga, mencuri kain di jemuran dan segala macam buah-buahan di kebun milik warga kampung. Tak ada satu pun warga, lebih-lebih ayah-ibunya yang berani mencegahnya, karena Kesen dianggap sudah menjadi jago (jawara).
Baca Juga : Agen CIA dan Perampok Bank di Surabaya

Ilustrasi: Edi Wahyono
Bahkan istri mandor Nomo bernama Muna yang masih muda dan cantik pun dipacari Kesen. Ulah Kesen ini sebagai bentuk bales dendam kepada sang mandor yang sering memukul dan menangkapnya bila ketahuan mencuri ketika kecil oleh Nomo. Tapi perselingkuhan Muna dan Kesen ketahuan Nomo. Lantas Kesen kabur dari desanya.
Sejak itulah Kesen bergabung dengan beberapa kelompok bandit. Gerombolan bandit tak hanya merampok, tapi juga membunuh orang, memeras petani dan nelayan miskin, mengganggu para gadis, janda, dan istri orang. Mereka juga kerap menarik upeti kepada para tuan tanah dan petani.
Tindak tanduknya dalam perampokan menjadi momok yang menakutkan di wilayah Tangerang dan Batavia. Dia sempat ditangkap polisi dan keluar masuk bui. Untuk membebaskannya, Mak Kesen dan suaminya menjual beberapa petak sawah dan kebun, serta rumah. Bahkan saat Mak Kesen meninggal dunia pun, Kesen sedang berada di dalam penjara lagi.
Kisah kebejatan Kesen ini dituangkan dalam buku Cerita Rakyat Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta berjudul "Si Kesen Satu Kepala Penyamun di Tangerang" yang juga diunggah di laman budaya-indonesia.org milik Indonesian Archipelago Cultur Initiatives (IACI).
Tokoh bengis ini juga ditulis oleh Kisah sejarawan asal Belanda, Margreet van Till dalam bukunya "Banditry in West Java: 1869-1942" tahun 2011. Ia menyebutkan, kisah si Kesen yang bengis ini sangat jauh berbeda dengan sosok si Pitung yang dianggap pahlawan oleh masyarakat Betawi, atau sosok perampok si Gantang.
Kedua sosok itu melakukan pencurian dan perampokan khusus di rumah orang kaya atau tuan tanah, lalu membagikan hasil kejahatannya untuk rakyat miskin. Bahkan kedua tokoh tersebut acap kali mengolok-olok dan melawan pihak berwenang seperti kompeni atau polisi.
"Tapi sosok Kesen tidak seperti itu. Dari awal hingga akhir, ia digambarkan sebagai orang jahat, buruk, dan hanya mementingkan keuntungan pribadi," tulis Margrert van Till.
Menurut Margreet van Till, kekejaman Kesen ini ditemukan dalam laporan Asisten Residen Tangerang dan berita koran berbahasa Belanda Bataviaasch Nieuwsblad. Juga dimuat dalam cerita bersambung di koran berbahasa melayu, Bintang Betawi, dengan judul "Si Kesen" yang terbit pada 29 Januari hingga 4 Februari 1904. Kisahnya juga ditulis oleh Judex di koran Java Bode dengan judul "Uit de Indische Rechtszaak: een Rampokker".
Dari laporan Asisten Residen Tangerang menyatakan, Kesen asli Rawa Bokor, Tangerang yang jaraknya 20 Km di sebelah barat Batavia (sekarang Jakarta). Dia dicurigai terlibat dalam berbagai kasus perampokan dan pembunuhan di sekitar Batavia dan di Pulau Seribu di sebalah utara pantai Batavia. Hingga muncul informasi dari Demang (Kepala Distrik) Mauk kepada Asisten Residen Tangerang bahwa Kesen berencana untuk menikah dengan seorang perempuan di kampungnya.
Asisten Residen memerintahkan demang dan anak buahnya untuk menangkap Kesen di acara pernikahan tersebut. Tapi Asisten Residen itu kecewa. Ternyata sang demang seolah-olah merongrong upaya aparat penegak hukum setempat untuk menangkap Kesen.
Baca Juga : Siasat Busuk Belanda Menumpas Entong Gendut

Ilustrasi: Edi Wahyono
Rupanya Kesen dan sembilan kawannya yang menjadi anggota komplotan perampok datang kembali ke kampung itu untuk merampok rumah mandor Nomo dan merebut Muna, istri Nomo. Kesen berbekal dua pistol, sementara anggotanya membawa golok mendatangi rumah mandor Nomo malam hari pukul 23.00 WIB.
Mereka langsung mendobrak pintu rumah mandor yang menjadi musuh bebuyutannya tersebut. Kesen langsung menghajar Nomo hingga terkapar di tanah dan mengikatnya. Sementara istri mudanya, Muna, dibiarkan begitu saja. Sedangkan kawanan penyamun lainnya mengacak-ngacak seisi rumah dan isi lemari untuk mengambil barang berharga.
Saat itulah Kepala Opas (polisi) bernama Ardawis bersama lima anggota opas lainya datang membawa senapan. Kelompok si Kesen dari dalam rumah menembaki enam opas yang datang malam hari itu. Di kegelapan malam, kelompok Kesen berhasil keluar rumah. Para opas mengejarnya sambil melepaskan beberapa kali tembakan. Tapi Kesen berhasil meloloskan diri.
Akhirnya Asisten Residen Tangerang meminta bantuan kepada Schout (Kepala Polisi) di Batavia untuk membantu menangkap Kesen. Sang Schout ini dikenal pemberani, ke manapun Kesen lari bersembunyi, ia terus mengejarnya.
Berbagai cara dilakukan Schout dan anak buahnya untuk menangkap Kesen. Polisi melakukan pemblokiran jalan menuju wilayah ommelanden (pinggiran) dan Batavia. Polisi juga menangkapi orang-orang terdekat Kesen. Hingga akhirnya, setelah dua tahun, Kesen menyerah dan dimasukkan bui di penjara Tangerang.
Bukannya tobat, di dalam sel penjara, Kesen tetap berulah. Ia berkelahi dan membunuh sesama tahanan penjahat. Ia membunuh tahanan bernama Ali. Tapi tak ada satupun narapidana yang mau buka suara siapa pembunuh Ali.
Namun, dalam persidangan, seorang saksi bernama Hok Tjoen, salah seorang penjahat keturunan Tionghoa yang juga menghuni penjara Tangerang, mengungkapkan Ali dipukuli Kesen hingga mati. Atas perbuatannya, hakim pengadilan Landrat Sambang di Tangerang memberikan vonis hukuman 20 tahun penjara dan kerja paksa. Selama ditahan, kaki dan tangan Kesen selalu dirantai.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho