CRIMESTORY

Dunia Kejahatan Si Mafia Tampan

Sejak remaja, Benjamin 'Bugsy' Siegel sudah terlibat tindak kriminal. Pria berdarah Yahudi itu kaya raya setelah jadi bos mafia kesohor.

Foto:  Benjamin 'Bugsy' Siegel (Getty Images)

Sabtu, 15 April 2023

Bugsy Siegel, yang memiliki nama asli Benjamin Siegel, berasal dari keluarga Yahudi Austro-Hungaria yang bermigrasi ke Amerika Serikat sebelum Perang Dunia I atau pada 1903. Dia dilahirkan di Brooklyn, New York, pada 28 Februari 1906. Keluarga Siegel hidup sangat prihatin dan kekurangan di kawasan Lower East Side, Manhattan, New York.

Kondisi ekonomi keluarganya yang morat-marit menyebabkan Siegel tumbuh sebagai anak laki-laki yang nakal. Dia sering kabur dari rumahnya dan lebih banyak menghabiskan waktunya berada di jalanan. Di jalanan itulah, Siegel banyak bergaul dengan anak atau remaja nakal lainnya yang tergabung dalam geng asal Irlandia dan Italia, khususnya di kawasan Williamsburg.

Karenanya kenakalan Siegel sejak remaja semakin meningkat ke arah tindakan kriminal serius. Dia sering memeras para pedagang kelontong dan gerobak yang banyak terdapat di Lower East Side. Bila para pedagang tak mau membayar jasa perlindungannya, Siegel akan membakar toko dan gerobak milik pedagang.

Ketika usianya menginjak 12 tahun pada 1918, Siegel berteman dengan Meier Suchowlanski, atau yang dikenal sebagai Meyer Lansky, 16 tahun, imigran Yahudi asal Hrodna, Belarus. Di kemudian hari, Lansky menjadi tokoh penjahat kelas kakap dengan julukan 'Mob Accountant' (akuntan mafia).

Bersama Lansky, Siegel mulai terlibat sejumlah aksi pencurian mobil. Lalu sepanjang tahun 1920-an, Siegel mencoba peruntungan bisnis penyelundupan narkoba dan judi di sekitar New York, New Jersey, dan Philadelphia. Karena aksi pencuriannya selalu sukses, Siegel mulai dikenal kalangan sindikat mafia di Amerika Serikat.

Siegel mulai disewa jasanya untuk pembunuhan berencana. Karena itulah Siegel dan Lansky mendirikan kelompok Busy-Meyer Gang, sebuah kelompok mafia Yahudi kejam yang menjalankan bisnis pembunuh bayaran dengan nama Murder Inc. Kala itu, Siegel mulai dijuluki ‘Bugsy’ atau ‘Si Gila Kutu Busuk’, karena sifatnya yang gampang marah.

Benjamin 'Bugsy' Siegel
Foto: Dok Federal Bureau Investigation

Dikutip dari laman History.com dan Biography.com, keberanian Siegel menjadi pusat perhatian gembong mafia yang paling ditakuti di Amerika Serikat, yaitu Charles ‘Lucky’ Luciano. Lucky yang saat itu mengorganisir sejumlah gang mafia Italia untuk bergabung dalam sebuah sindikat nasional. Siegel kerap disewa jasanya untuk menghabisi nyawa anggota mafia veteran di New York.

Berkat Lucky jugalah Lansky dan Siegel mendapatkan restu untuk membangun sindikat mafia yang terdiri dari geng Italia, Irlandia, dan Yahudi pada 1929. Kehidupan Lansky dan Siegel meningkat drastis menjadi tajir melintir. Pada tahun yang sama, Siegel memutuskan menikahi gadis Esther Krakower dan dianugerahi dua orang putri, Milicent dan Barbara.

Tepat April 1931, Lucky Luciano memanggil Siegel bersama pemuda lainnya, yaitu Albert Anastasia, Vito Genovese dan Joe Adonis. Mereka dikumpulkan untuk menerima misi membunuh gembong mafia Italia asal Sisilia Guiseppe, Joe Masseria, yang dijuluki ‘The Boss’. Masseria dianggap mengancam bisnis Lucky Luciano. Ia diberondong tembakan hingga mati pada 15 April 1931.

Sejak berhasil membunuh Masseria, nama Siegel kian moncer di dunia kejahatan, apalagi wajahnya yang tampan. Akhirnya Siegel dipercaya untuk mengusai jaringan mafia wilayah pesisir barat dan menetap di California. Dia mendirikan tempat judi, termasuk kapal perjudian di lepas pantai. Dia juga mengendalikan bisnis prostitusi, narkoba, hingga pasar taruhan.

Hidup Siegel kian glamor dengan bisnis haramnya. Dia pandai bergaul dan membangun relasi yang baik dengan sejumlah bintang film Hollywood, misalnya Clark Gable, Cary Grant, Frank Sinatra, dan Jean Harlow. Saat itu, Siegel mulai kepincut hatinya dengan aktris cantik, Virginia Hill. Keduanya menjalin kasih cinta yang vulgar di depan publik.

Benjamin (Bugsy) Siegel (Kiri) bersama bintang Hollywood George Raft 
Foto: Getty Images

Hills, Los Angeles untuk Virginia Hil. Bahkan, Siegel mengajak pasangan gelapnya itu pindah ke Nevada pada 1945. Walau hidupnya sudah kaya raya, Siegel tetap berambisi menjadikan padang pasir di Las Vegas, Nevada, sebagai pusat perjudian dunia. Dia mengajak Hill mewujudkan impiannya itu.

Melihat kenyataan pahit bahwa suami tercintanya selingkuh dengan Hill, akhirnya Esther mengajukan gugatan cerai kepada Siegel pada 1946. Dengan dana dari sindikat mafia kejahatan wilayah timur yang dikuasai Lansky, Siegel membeli hotel Flamingo dan menyulap menjadi kasino besar. Awalnya dianggarkan sebesar US$ 1,5 juta.

Tapi masalah muncul ketika tahap konstruksi pembangunan Flamingo biayanya bengkak menjadi US$ 6 juta. Bengkaknya biaya anggaran diduga karena salah urus dan pencurian oleh kekasihnya Hill. Melihat kenyataan itu, Lansky marah atas penghianatan tersebut.

Banyak dugaan Lansky telah mengirimkan pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Siegel pada 20 Juni 1947 di Beverly Hills, Los Angeles. Namun hingga kini, tak pernah terungkap siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan Siegel. Walau saat itu ada dua orang yang dijadikan tersangka, yaitu Frankie Carbo dan Eddie Cannizarro.

Robert Lacey penulis buku Meyer Lansky: The Thinking Man's Gangster (1991) mengatakan, setelah kematian Siegel, nama kota Las Vegas kian masyhur. Tapi kemasyhuran itu bukan karena Siegel yang membangunnya dari nol. “Ben Siegel membangun kasino megah. Dia tak membeli tanah dan membangun Flamingo dari awal. Tapi kematiannya membuat Las Vegas terkenal,” kata Lacey.

Hotel dan kasino Flamingo justru semakin besar setelah dikelola oleh Micky Cohen, mafia Yahudi yang juga teman dekat Siegel. Cohen juga dikenal sebagai mesin pembunuh kelompok mafia Italia, Al Capone.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE