CRIMESTORY

Malam Pembantaian Raja Kasino Las Vegas

Gembong mafia Amerika Serikat, Benjamin 'Bugsy' Siegel, tewas ditembak pada 1947. Pengembang pusat judi di Las Vegas itu dituduh mencuri uang kelompok mafia.

Foto: Benjamin 'Bugsy' Siegel (Getty Images)

Kamis, 13 April 2023

Warga Los Angeles, California, Amerika Serikat, geger ketika membaca koran tentang kematian bos gangster atau mafia Benjamin Siegel. Pria keturunan Yahudi berusia 41 tahun yang dijuluki ‘Bugsy’ (Si Gila) itu tewas bersimbah darah setelah diberondong tembakan di rumahnya di Beverly Hills Mansion, Los Angeles, pada 20 Juni 1947 malam.

Selama tujuh dekade atau 76 tahun, kasus pembunuhan Siegel masih menyimpan tanda tanya. Publik Amerika hingga kini belum tahu secara jelas siapa pelaku dan dalang penembakan Siegel. Memang, pada masa itu banyak sekali kelompok mafia dan mereka saling bertikai.

Dalam artikel berjudul ‘Five Years Later, Debate Over Bugsy Siegel Murder Still Rages' yang dimuat di laman The Mob Museum pada 17 Juni 2022 disebutkan, Siegel baru datang di rumah gundiknya (istri simpanan) di Virginia Hill di 810 North Linden Drive, Beverly Hills, Los Angeles. Ia berniat liburan setelah lelah mengawasi pembangunan serta meresmikan hotel dan kasino Flamingo di Las Vegas, Nevada, pada Maret 1947.

Rencananya, Siegel bertemu dengan kedua putrinya, Milicent dan Barbara, yang akan datang dari New York menggunakan kereta api. Sambil menunggu kedatangan dua putrinya, Siegel ditemani Virginia Hill, Alen Smiley (sepupu Hill), dan Jery Mason makan malam. Setelah itu, Siegel dan Smiley berbincang-bincang di sofa ruang tengah sambil membaca koran.

Ketika keduanya asyik ngobrol, tak disadari ada orang yang tengah mengendap-endap di kegelapan malam. Orang itu langsung menuju jendela dan melongok ke dalam tempat Siegel dan Smiley berada. Tak lama, orang itu mengeluarkan senapan serbu M1 Carbine kaliber 30 milimeter dari balik jaketnya. Moncong senjata itu ke kaca jendela.

Tepat pukul 23.00 waktu AS, senapan menyalak. Suara letusan sebanyak sembilan kali memecah keheningan malam. Lima butir peluru yang dimuntahkan senapan mengenai batang hidung, mata kiri, dan dada Siegel. Satu peluru menembus jaket Smiley dan selebihnya mengenai dinding tempat Siegel duduk terkulai.

Rentetan suara tembakan mengejutkan tetangga sekitar. Mereka ke luar rumah dan melihat sekelebat orang berlari menuju mobil. Selanjutnya mobil tancap gas untuk melarikan diri. Mereka mendengar teriakan Virginia Hill yang histeris. Tak lama sejumlah polisi Beverly Hills pun berdatangan.

“Saya mendengar kaca pecah dan saya menunduk. Saya tak tahu berapa peluru yang ditembakkan, tapi saya bisa melihat Siegel menerima sebagian besar tembakan,” ungkap Smiley, yang selamat dari penembakan, kepada polisi yang tiba di tempat kejadian.

Bugsy Siegel tewas di rumahnya
Foto: Themobmuseum.org

Polisi dari Beverly Hills dan Los Angeles (LAPD) serta Biro Investigasi Federal (FBI) turun tangan menyelidiki pembunuhan gembong mafia yang paling disegani di AS tersebut. Tapi tak ada satu pun pelaku penembakan yang ditangkap. Akibatnya, banyak spekulasi terkait pembunuhan itu hingga bertahun-tahun.

Mulai adanya spekulasi bahwa Siegel dibunuh oleh kelompok pesaingnya. Hal itu terkait dengan perebutan bisnis narkoba. Selain itu, Siegel ingin menguasai bisnis judi pacuan kuda. Ada juga spekulasi bahwa Siegel telah menghabiskan uang kelompok mafia untuk proyek pembangunan Flamingo atau mencuri uang kelompok mereka. Hingga spekulasi dendam kepada Siegel yang memperlakukan buruk gundiknya, Virginia Hill.

Ada beberapa teori yang menjadi penjelasan yang diyakini publik bahwa pembunuhan tersebut beehubungan dengan pertemuan para pemimpin mafia besar AS di Havana, Kuba, antara Desember 1946 atau Februari 1947. Mereka yang hadir di antaranya gembong mafia Charles ‘Lucky’ Luciano, Frank Costello, dan Meyer Lansky. Mereka ini diduga merancang pembunuhan terhadap Siegel.

Saya yakin dan sampai sekarang bahwa Sedway memiliki andil dalam pembunuhan Siegel. Dia tahu siapa pelakunya."

Diduga para pemimpin mafia besar ini menugasi bos mafia wilayah California Selatan, Jack Dragna, untuk membunuh Siegel. Dragna diduga telah memerintahkan tiga anggota mafia menembak mati Siegel, yaitu Frankie Carbo, Eddie Cannizzaro atau veteran Perang Dunia II Robert McDonald, yang disebut memiliki utang judi besar kepada mafia.

Mantan ahli forensik di Laboratorium Kepolisian Beverly Hills, Clark Fogg, dalam bukunya 'Beverly Hills Confidential' (2013) menulis Siegel dibunuh bukan hanya oleh satu orang, tapi dua pelaku. Fogg sangat yakin kedua pelaku penembakan adalan anggota mafia Joe Adonis yang telah menyewa ‘Two Tonys’ sebagai eksekutor, yaitu Tony Brancato dan Tony Trombino.

Sedangkan seorang informan agen FBI pada 1947 mengklaim pembunuhan itu dirancang oleh Meyer Lansky, gembong mafia New York. Dialah yang telah memprovokasi saudara laki-laki Virginia Hill, yaitu Alen Smiley, untuk membunuh Siegel, karena sering menganiaya Hill. Siegel dan Hill menjalin hubungan penuh gairah selama 5 tahun, tapi juga sering bertengkar.

Klaim ini bertahan hingga kini. Bahkan klaim itu dibenarkan oleh Bernie Sindler, salah satu mantan karyawan Siegel di Flamingo dalam buku memoarnya 'The Bernie Sindler Story' (2015). Sementara itu, Gus Russo, penulis buku 'Supermob', mengaku mendapat keterangan dari pengacara para mafia bernama Sidney Korshak bahwa pelaku pembunuhan adalah Moe Dalitz, tokoh mafia asal Detroit, Cleveland, Ohio.

Dalitz terindikasi sebagai pelaku, karena telah menitipkan amplop berisi surat ancaman akan membunuh Siegel. Surat itu diberikan pelayan kepada Siegel saat makan malam bersama Hill, Smiley, dan Manson pada malam sebelum terjadi penembakan.

Hotel dan Kasino Flamingo pada 1950.
Foto: UNLV Libraries

Cerita lain lagi datang dari Amy Wallace, penulis senior di Los Angeles Magazine, pada 2014. Dia membuat analisis bahwa pembunuhan direncanakan oleh Moe Sedway, teman Siegel sendiri. Keterangan itu berdasarkan pengakuan janda Sedway, yaitu Beatric. Perempuan itu mengaku bahwa suaminya diancam akan dibunuh oleh Siegel, karena menyimpan banyak catatan bisnis di Flamingo.

Sedway diduga melaporkan ancaman tersebut dan catatan utang Siegel kepada Meyer Lansky. Lalu Sidwey mendapat persetujuan untuk menghabisi nyawa Siegel. Setelah itu ditunjuk langsung sebagai eksekutor penembakan adalah Mathew ‘Moose’ Pandza. Pandza mengikuti gerak-gerik Siegel pada 20 Juni 1947 hingga North Linden Drive, Beverly Hills.

Setelah mengeksekusi Siegel, Pandza kabur. Lantas dirinya mematahkan senjata yang dipakai untuk menembak Siegel di sebuah gang di kawasan Santa Monica. Patahan senapan itu lalu dibuang ke tengah laut. Tentu saja dari beberapa klaim di atas saling bertentangan.

Yang jelas, memang pembunuhan terhadap Siegel direncanakan dengan rapi. Indikasi itu mulai keberadaan sosok Allen Smiley yang mengaku terkena tembakan di jaketnya tapi tak terluka sedikit pun. Setelah Siegel ditembak mati, Smiley menelepon informan agen FBI Cabang Las Vegas, Curtis Lynum.

Smiley mengatakan kepada informan FBI bahwa Siegel telah ditembak tepat di wajah dan dadanya, serta memastikan korbannya mati di tempat. Setelah itu, keberadaan Moe Sedway yang muncul di hotel dan kasino Flamingo bersama Gus Greenbaun dan Morris Rosebrn. Ketiga orang inilah yang mengumumkan kematian Siegel kepada orang-orang yang berkumpul di kasino tersebut.

“Saya yakin dan sampai sekarang bahwa Sedway memiliki andil dalam pembunuhan Siegel. Dia tahu siapa pelakunya,” ungkap Clinton Anderson, Kepala Polisi Beverly Hills, yang saat itu menyelidiki kasus tersebut.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE