CRIMESTORY

Gacy Badut: Siang Pemurah, Malam Pembunuh

Sejak kecil John Wayne Gacy menjadi korban perudungan. Begitu dewasa, ia justru menjadi predator para remaja yang keji.

Foto: Foto Bettmann Archive-AP

Sabtu, 1 April 2023

Si badut pembunuh, John Wayne Gacy, diduga mengalami perudungan yang menjadikan dirinya memiliki kelainan seksual dan tega menghabisi nyawa 33 remaja laki-laki dan pemuda. Saat umur 4 tahun, Gacy mengalami sakit mental dan psikopat. Ia menerima pelecehan secara verbal dan fisik dari ayahnya yang merupakan pecandu alkohol.

Namun, pria kelahiran Chicago, Illinois, Amerika Serikat, pada 17 Maret 1942 ini tetap mengagumi sosok ayahnya, John Stanley Gacy. Sebaliknya, Gacy selalu sering dikatai sebagai anak bodoh dan seperti perempuan, karena dianggap bukan anak lelaki yang pemberani.

Ketika usia tujuh tahun, Gacy beberapa kali dilecehkan teman keluarganya. Tetapi, Gacy tak mau melapor kepada ayah dan ibunya, Marion Elaine Robinson. Dia takut karena ayahnya justru akan menyalahkannya dan menghukum berat. Perundungan terus berlanjut hingga Gacy duduk di bangku sekolah dasar.

Saat berumur 11 tahun, Gacy didiagnosa mengidap penyakit jantung. Karenanya, dia membatasi aktivitas fisik hingga tubuhnya mengalami obesitas. “Dia menjadi kelebihan berat badan dan mengalami ejekan dan perundungan dari teman-teman sekelasnya,” ungkap Charles Montaldo dalam artikelnya ‘John Wayne Gacy, the Killer Clown’ yang dimuat Thought.com, 3 Juli 2019.

Setelah lima tahun ke luar-masuk rumah sakit, Gacy terdeteksi memiliki gumpalan darah di otaknya. Bukannya iba, John Stanley malah terus memukuli anaknya bila ketahuan menangis. Karena sering dirawat di rumah sakit, Gacy putus sekolah. Karena itu, ayahnya meyakini bahwa Gacy memang anak bodoh.

Di umur 18 tahun, Gacy masuk menjadi simpatisan Partai Demokrat dan bekerja sebagai asisten polisi. Gacy mulai mengembangkan bakat berceloteh di depan orang, tapi usahanya tetap diremehkan ayahnya. Karena sudah lelah dilecehkan dan diremehkan, Gacy kabur ke Las Vegas, Nevada.

Di kota yang berjulukan Ibu Kota Hiburan Dunia itu, Gacy bekerja untuk layanan ambulans. Tak lama, dia dipindahkan bekerja di bagian kamar mayat. Sejak itu, Gacy sering menghabiskan malam di kamar mayat. Dia sering tidur di kamar mayat.

Rumah John Wayne Gacy dihancurkan setelah penemuan 33 jasad korbannya, 10 April 1979.
Foto: Arthur Walker - Chicago Tribune

Suatu hari, Gacy masuk ke dalam peti mati dan membelai jenazah seorang remaja laki-laki. Tanpa dia sadari, tindakannya itu justru membuat libido seksualitasnya bangkit. Satu tahun kemudian, Gacy berhenti bekerja dan kembali ke kampung halaman di Chicago.

Walau dia tak lulus SMA, Gacy berhasil masuk pendidikan di Nortwestern Business College dan lulus tahun 1963. Lalu magang bekerja di perusahaan Nunn-Bush Shoe Company. Karena dianggap cakap, Gacy dipindahkan ke Springfield, Illinois, sebagai manajer. Di tempat itulah, Gacy jatuh cinta kepada Marlynn Meyers, rekan satu kantornya.

Di kota ini Gacy aktif bergabung dalam United State Junior Chamber atau Jaycee, sebuah organisasi sipil dan pelatihan kepemimpinan bagi orang berusia antara 18 hingga 40 tahun. Gacy menjadi mahir dalam mempromosikan diri dan memanfaatkan pelatihan salesman untuk mendapatkan perhatian.

Dia dianugerahi gelar Key Man pada April 1964 karena dianggap piawai dalam penggalangan dana. Hingga akhirnya ditunjuk sebagai Wakil Presiden pada Divisi Springgield Jaycee. Kepercayaan dirinya semakin tinggi sebagai seorang pemimpin.

Setelah menikah dengan Marlynn pada September 1964, mereka pindah ke Waterloo, Iowa. Di kota itu, Gacy dipercaya ayah Marlynn untuk mengelola tiga restoran Kentucky Fried Chicken (KFC). Di kota ini, Gacy bergabung sebagai Jaycee Waterloo. Posisinya naik pangkat menjadi Wakil Presiden Luar Biasa.

Berbeda dengan Jaycee Springfield, di Waterloo Jaycee memiliki sisi kehidupan gelap. Penggunaan narkoba, praktik pertukaran istri, pelacur dan pornografi sering dilakukan secara diam-diam. Gacy terlibat semua dalam kegiatan gelap anggota Jaycee tersebut. Hasrat melakukan hubungan seksual dengan remaja laki-laki kembali bangkit.

Untuk melampiaskan hasrat bejatnya, Gacy membangun ruangan bawah tanah di setiap restoran yang dikelolanya. Dengan akal bulusnya, Gacy mengumpulkan karyawan restoran berusia remaja untuk nongkrong di ruang bawah tanah.

John Wayne Gacy Si Badut Pembunuh ditangkap 21 Desember 1978
Foto: Polisi Illinois AS - Chicago Tribune

Kehidupan sukses Gacy yang nyaris sempurna akhirnya hancur berantakan. Hal ini bermula ketika ia mempekerjakan Donald Voorhees yang berusia 15 tahun di restorannya. Gacy mengajak Voorhees ke ruang bawah tanah dan mencekoki dengan minuman alkohol serta film porno pada Agustus 1967. Gacy memaksan Voorhees melakukan oral seks.

Beberapa bulan ia melakukan hal yang sama kepada remaja laki-laki lainnya. Ia mengelabui para remaja dengan iming-iming ikut program penelitian ilmiah dengan imbalan US$ 50 setiap sesi. Tapi praktik cabul Gacy diadukan Voorhees ke polisi. Gacy ditangkap lalu dibawa ke meja hijau.

Gacy mengaku bersalah atas kasus sodomi dan menerima hukuman 10 tahun penjara pada 1968. Baru dua tahun masa tahanan, dia mendapat pembebasan bersyarat pada Oktober 1971. Tapi kenyataan lain menghadangnya, selepas bebas dari penjara, Marlynn mengajukan gugatan cerai.

Melihat kenyataan itu, Gacy marah dan bersumpah bahwa dirinya tak akan pernah mau melihat istri dan anaknya. Bahkan dia mengganggap mereka sudah mati. Lalu Gacy memutuskan kembali ke Chicago tinggal bersama ibunya. Ia bekerja sebagi juru masak, lalu pindah bekerja di aebuah perusahaan kontraktor kontruksi.

Kelakuan bejat Gacy kambuh lagi. Ia memikat seorang remaja laki-laki dan mencoba memperkosanya pada Februari 1971. Remaja itu berhasil kabur dan lapor ke polisi. Gacy kembali berurusan dengan hukum. Tapi tuntutan pelecehan seksual dibatalkan, karena pelapor remaja itu tak hadir di pengadilan.

Kembali Gacy mendekati remaja laki-laki berumur16 tahun bernama Timothy Jack McCoy. Remaja ini tergiur iming-iming ajakan tur keliling kota dan diajak menginap di rumah Gacy. Namun, kenyataannya lain, McCoy dipaksa untuk memuaskan nafsu bejat Gacy. Remaja itu langsung menghunuskan pisau dan hendak kabur.

Gacy melawan dan berhasil membunuh McCoy. Gilanya, Gacy mengaku mencapai orgasme selama proses membunuh McCoy. Setelah korbannya tak bernyawa, Gacy mengubur korbannya di ruang bawah tanah rumahnya di kawasan Jalan 8213 Sunnerdake Ave, Norwood Park, Chicago. McCoy ini merupakan korban pertama pembunuhan Gacy.

John Wayse Gacy dengan kostum badutnya pada 1976.
Foto: Martin Zeilinski - Chicago Tribune

Pada Juli 1972, Gacy menikah untuk kedua kalinyanya dengan teman sesma sekolah dahulu, yaitu Carole Hoff. Baru beberapa minggu menikah, Gacy ditangkap polisi atas tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang remaja. Gacy menyamar sebagai polisi membawa masuk remaja itu ke dalam mobil dan memaksa melakukan oral seks.

Lagi-lagi kasus itu dibatalkan, karena korbannya justru ketahuan melakukan pemerasan. Pada 1974, Gacy memulai bisnis kontraktor sendiri dengan nama PDM Contractors, Inc. Alasan menekan biaya operasional, Gacy banyak mempekerjakan remaja laki-laki sebagai karyawannya. Tentu ini muslihat Gacy agar mudah mendekati target remaja laki-laki yang bisa diajak ke ruang bawah tanah rumahnya yang mengerikan.

Begitu remaja terjerat perangkap Gacy, remaja itu akan dibuat pingsan dengan cara dibius, setelah itu diikat, lalu disiksa hingga berujung kematian. Di sisi lain, Gacy selalu mencitrakan dirinya sebagai orang yang baik dan penuh santun kepada para tetangga, teman dan karyawannya.

Gacy juga sangat aktif bekerja dalam proyek-proyek komunitas, mengadakan pesta di lingkungan rumah. Dia berusaha menjalin persahabatan yang erat dengan tetangga. Sejak itulah, Gacy selalu menghibur tetangga bila ada pesta ulang tahun atau rumah sakit untuk anak-anak dengan mengenakan kostum Pogo Badut.

“Siang hari, dia adalah pemilik bisnis yang sukses dan berbuat baik kepada masyarakat. Tetapi malam hari, tanpa diketahui siapa pun, kecuali korbannya, dia adalah pembunuh sadis yang berkeliaran,” tulis Montaldo.


Penulis: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE