Ilustrasi: Edi Wahyono
Jumat, 31 Maret 2023Pagi hari, beberapa petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Menard, Kota Chester, Illinois, Amerika Serikat, membawa keluar narapidana bernama John Wayne Gacy pada Selasa, 10 Mei 1994. Ia dipindahkan ke Lapas Stateville, Crest Hill, Illinois, untuk menjalani eksekusi mati, yang dinantikannya selama 16 tahun.
Gacy menjadi narapidana hukuman mati terkait kasus sodomi dan pembunuhan terhadap 33 remaja dan pemuda sepanjang 1972 hingga 1978. Ia dijuluki The Killer Clown (Badut Pembunuh) karena memang bekerja sebagai penghibur anak-anak dengan kostum badut Pogo (Pogo the Clown). Ia didiagnosis sebagai psikopat, merasa tak bersalah dan tak menyesal melakukan pembantaian terhadap para remaja dan pemuda yang menjadi korbannya.
Setiba di Lapas Stateville, Gacy diberi kesempatan bertemu dengan keluarganya pada sore hari. Gacy memesan makanan sebagai santapan terakhirnya. Ia memesan seember ayam goreng cepat saji, selusin udang kupu-kupu, kentang goreng, buah stroberi, serta minuman diet cola. Sebagian dari makanan ini ludes dilahapnya.
Di luar penjara, ribuan warga berunjuk rasa. Mereka mendukung hukuman mati terhadap Gacy. Sebagian besar mengenakan kaus bertulisan 'Tidak Ada Air Mata untuk Badut'. Sedangkan di salah satu sudut ruangan di lapas itu, petugas tengah menyiapkan ruang peralatan untuk prosesi eksekusi mati.

John Wayne Gacy si Badut Pembunuh bengis
Foto: Bettmann Archive/AP
Gacy diputuskan dieksekusi dengan suntik mati menggunakan lethal injection. Alat itu akan menyuntikkan tiga cairan kimia yang langsung bisa mematikan tahanan, yaitu sodium thiopental (pentothal), pancuronium bromide (pavulon), dan potassium chloride (racun). Zat kimia itu juga yang akan dimasukkan ke tubuh gempal Gacy.
Malam semakin larut, waktu eksekusi kian dekat. Beberapa petugas sipir mengeluarkan Gacy dari ruang isolasi menuju ruang eksekusi. Penampilan Gacy seolah tenang dengan mengumbar senyum dan ejekan kepada petugas sipir. “Kiss my ass (cium bokongku)...,” ucap pria 52 tahun itu kepada petugas sipir yang mengawalnya.
Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Gacy. Tak ada pesan lainnya hingga sampai dibaringkan di ranjang khusus eksekusi. Kedua kaki, tangan, dan kepalanya masing-masing diikat di sisi ranjang. Setelah aba-aba perintah eksekusi dimulai, petugas menjalankan lethal injection. Mula-mula obat penenang, lalu obat bius disuntikkan.
Setelah kondisi kesadaran Gacy hilang dan tertidur, zat racun disuntikkan ke dalam tubuhnya. Tak ada perlawanan dan berontak. Para saksi, seperti polisi, jaksa dan pengacara, serta pendeta hening menyaksikan proses eksekusi mati itu. Akhirnya, tepat pukul 00.30 waktu AS, tim medis menyatakan nyawa Gacy sudah melayang alias meninggal dunia.
Dikutip dari laman Chicago Tribune dan Biography, Gacy adalah salah satu pembunuh berantai tersadis dalam sejarah kriminalitas di Negeri Paman Sam. Banyak kalangan tak puas atas hukuman mati yang dianggap terlalu mudah bagi Gacy. Bahkan, jaksa penuntut umumnya di Pengadilan Tinggi Illinois mengatakan kematian Gacy lebih mudah dan tenang daripada kematian 33 korbannya yang menyakitkan.
Hampir 6 tahun sejak 1972 hingga 1978, Gacy menyodomi dan membunuh 33 anak remaja dan pemuda di Cook County, Illinois. Mayat 29 korban dikubur di ruang bawah tanah rumah Gacy di Jalan Summerdale Ave 8213 W, Norwood Park, Chicago. Empat korban lain, mayatnya ditemukan dan terkubur di sepanjang bantaran Sungai Des Plaines antara wilayah Channahon dan Morris.

Sejumlah pemuda korban pembunuhan John Wayne Gacy yang bisa teridentifikasi pada 12 Februari 1980.
Foto: Bettmann/Getty Images
Kebejatan Gacy terbongkar setelah kasus hilang dan terbunuhnya remaja berusia 15 tahun bernama Robert Piest di Des Plaines pada 11 Desember 1978. Sebelumnya, remaja yang bekerja paruh waktu di apotek Nisson Pharmacy itu dilaporkan orang tuanya menghilang setelah mengikuti wawancara seleksi pekerjaan dengan seorang kontraktor konstruksi.
Orang tua Robert khawatir dan panik ketika seharian anaknya tak kunjung pulang. Lalu mereka melaporkannya ke kantor polisi Des Plaines. Polisi melakukan penyelidikan dengan mendatangi gerai apotek tersebut. Pemiliknya mengaku kontraktor konstruksi yang disebut menawarkan pekerjaan pada musim panas adalah Gacy.
Mendapat informasi tersebut, polisi mendatangi Gacy. Kepada polisi, Gacy mengaku berada di apotek pada malam hari ketika Robert menghilang. Tapi Gacy menyangkal bila dikatakan ia berbicara, apalagi menawarkan pekerjaan kepada Robert. Merasa ada yang janggal dari pengakuan Gacy itu, polisi mengawasi dan menyelidiki rekam jejak kejahatan Gacy di kepolisian lainnya.
Dari catatan yang ditemukan, Gacy pernah dihukum 10 tahun karena melakukan pelecehan seksual terhadap dua remaja pada 1968. Setelah menjalani masa tahanan dua tahun, Gacy mendapat pembebasan bersyarat pada 1970. Setahun kemudian, Gacy ditangkap lagi atas tuduhan yang sama. Tapi tuduhan itu dibatalkan setelah pelapor tak kunjung hadir dalam persidangan.
Pada pertengahan 1970-an, ada dua remaja kembali melaporkan Gacy atas kasus pemerkosaan. Tapi saat itu polisi belum bisa menangkapnya karena tak ada bukti kuat. Gacy pun beralasan pada tahun-tahun itu merupakan masa dirinya melakukan pengelanaan.
Atas catatan itu, Letnan Joe Kozenczak dari Kepolisian Des Plaines membawa surat perintah penggeledahan rumah Gacy, tak jauh dari Bandara Internasional O'Hare, Chicago, pada 13 Desember 1978. Gacy protes atas penggeledahan itu dan upaya polisi gagal. Baru pada 19 Desember 1978, Gacy mengundang dua polisi ke rumahnya untuk sarapan pagi.
Kesempatan itu digunakan kedua polisi tersebut untuk melakukan penyelidikan. Begitu mereka masuk, tercium bau busuk. Polisi belum bisa melakukan tindakan tapi terus mengawasi gerak-gerik Gacy. Dua hari kemudian, polisi mendapatkan informasi bahwa Gacy menyerahkan paket berisi ganja kepada petugas pom bensin.

Penggalian ruang bawah tanah rumah John Wayne Gacy menjadi kuburan para korbannya. Foto Pengadilan Cook County
Foto: Chicago Tribune
Gacy ditangkap dan dibawa ke markas polisi Des Plaines untuk diinterogasi. Polisi mendapat informasi dari pengacara Gacy dalam kasus narkoba bahwa kliennya mungkin membuat pengakuan telah membunuh 30 orang. Polisi menginterogasinya berjam-jam hingga bikin Gacy kelelahan. Akhirnya, pada 22 Desember 1978, Gacy mengakui telah membunuh 32 pria dan anak laki-laki setelah terlebih dahulu melakukan hubungan seksual dengan mereka.
Pada pengakuan paling awal, ia mengatakan mengubur mayat 27 korban di ruang bawah tanah rumah miliknya. Lima mayat lainnya, termasuk Robert Piest, diakui Gacy dibuang ke Sungai Des Plaines. Polisi terkejut atas pengakuan Gacy. Ia lalu ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan terhadap Robert Piest.
Selama 17 hari polisi membongkar lantai tanah rumah Gacy. Polisi menemukan kuburan korban keganasan Gacy. Hampir sebagian besar mayat kondisinya sudah hancur dan sulit dikenali lagi. Sebagian besar tinggal menyisakan tulang-belulang korban, termasuk pakaian dan barang berharga korban.
Penemuan mayat-mayat korban Gacy membuat geger warga AS. Pelecehan seksual dan pembantaian yang dilakukan Gacy terhadap 33 korban ini merupakan rekor tertinggi dalam sejarah kriminalitas di AS. Mulanya Gacy didakwa atas kasus tujuh pembunuhan pada 8 Januari 1979. Lalu dakwaan bertambah menjadi 26 kasus pada 23 April 1979. Hal itu seiring dengan mulai teridentifikasinya mayat yang ditemukan di rumah Gacy, termasuk jasad Robert Piest, yang baru teridentifikasi pada 9 April 1979.
Persidangan kasus pembunuhan Gacy ini baru dimulai pada Februari 1980. Saat persidangan, dihadirkan sejumlah saksi dari psikiater, polisi, tetangga pelaku, kenalan, hingga anggota keluarga korban. Juri hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam untuk memberikan vonis hukuman mati karena Gacy terbukti bersalah atas pembunuhan terhadap 33 anak laki-laki dan pemuda.
Hakim Pengadilan Cook County, Luis Garippo, menetapkan tanggal eksekusi mati Gacy pada 2 Juni 1980. Tapi eksekusi ditunda karena Gacy mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Illinois dan kasasi ke Mahkamah Agung Federal AS. Kedua upaya itu gagal, dan akhirnya Gacy dieksekusi pada 10 Mei 1994.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho