Daun jatuh tiap detik, tergantikan segera oleh daun-daun lain yang masih segar. Menyemerbakkan kesegaran, adalah mimpi tiap orang bisa bersantai di taman nan asri.
Berdiri di antara pepohonan itu dialah Rio (27), sendirian di taman depan Polsek Menteng, Jakarta Pusat. Tubuh tinggi kurus dia melayangkan sapu lidi ke sana ke mari.
"Kalau kerja di taman-taman begini sih saya sudah 7 tahun. Sudah lumayan lama sih saya kerja beginian," ujar dia sembari menyapu dedaunan kering di hari Selasa (8/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi sebelum jadi tukang sapu ya saya jadi bagian dekorasi taman begitu," ucap dia.
Tak banyak dia berbicara manakala sedang bekerja. Padahal di tempat dia kerja tak tampak bagian supervisi yang mengawasi penuh sangsi.
Tak ada hiburan pula buat Rio ketika memasuki masa istirahat tengah hari bolong. Hanya sebuah sepeda karatan yang setia menemani dari tengah-tengah taman.
"Hiburan saya ya cuma kalau orang-orang kantoran duduk-duduk di taman ini. Kadang ada yang sambil tiduran. Saya senang kalau orang-orang pada senang duduk di taman yang bersih. Makanya saya selalu bersihin taman ini sebelum jam istirahat," tutur Rio.
Sayangnya kerja keras Rio tak membuahkan penghasilan yang maksimal. Sehari bekerja dia diupah sebesar Rp 80.000 untuk membersihkan dua tempat.
Pagi-pagi sekali Rio sudah berangkat bekerja di taman depan Polsek Menteng. Siang harinya dia pindah ke RSCM untuk tugas yang sama.
"Saya ke mana-mana ya naik sepeda itu. Belum punya duit buat beli motor, jadi ya disyukuri apa yang ada saja," kata dia.
(bpn/trq)











































