Belasan tahun sudah dia berdagang demi rasa manis yang bisa dibagi untuk keluarga. Tak sedikit pun dia mengeluh karena menjual makanan tradisional itu.
Makanan yang berwarna merah muda cerah, segenggam gulali diapit oleh kerupuk sagu membuat siapa pun yang mengecapnya akan ketagihan. Murah meriah dan disajikan dengan sederhana bukan berarti hanya masyarakat lapisan bawah saja yang senang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sehari tak banyak yang bisa dia kantongi untuk dibawa pulang. Belum lagi setoran yang harus diberikan ke atasan yang memasak harum manis.
"Rata-rata laku 5 bungkus harum manis sih sehari. Tapi kalau pas lagi ramai bisa saja sampai 20 bungkus. Satu bungkusnya harganya Rp 10.000," imbuh Pak Rokib.
Di Ibu Kota ini Pak Rokib tinggal bersama kawan-kawan sesama pedagang arum manis di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Tempat itu disediakan oleh bos mereka sekaligus sebagai tempat pembuatan harum manis.
"Jadi saya tinggal jual saja. Bikin arum manis kayak gini susah soalnya, harus direbus dulu terus dikasih minyak sayur. Kalau bikin sendiri malah lama, mendingan saya tinggal jualin saja," ujar Pak Rokib.
Sementara anak dan istrinya tinggal di kampung halaman yang terletak di Brebes, Jawa Tengah. Biaya hidup berkeluarga di Ibu Kota terlalu mencekik bagi seorang pedagang kecil seperti Pak Rokib.
Tujuh tahun belakangan ini Pak Rokib memilih untuk mangkal di depan rumah makan Soto Kudus di wilayah itu. Sebuah tempat yang biasanya dikunjungi oleh kalangan ekonomi menengah ke atas.
Rupanya makanan sederhana yang dijajakan Pak Rokib juga diminati kalangan itu. Sederhana akan terasa mewah jika kita mau bersyukur, menurut Bapak beranak dua itu.
(bpn/trq)











































