Campur aduk ranah publik dan privat membuat siapa pun di Ibu Kota harus berpikir cepat. Kadang pun bias itu tampak kala terbawa arus lalu lintas di kota besar bernama DKI Jakarta.
Ketika orang sibuk bicara bias asli dan palsu, Pak Benny (62) tetap yakin akan usaha yang dia miliki. Sebuah kerajinan berbahan dasar pelat seng yang banyak dipakai orang berkendara.
"Saya bikin pelat nomor seperti ini sudah dari tahun 1979. Dari awal ke Jakarta saya usaha ini saja. Dulu melihat orang bekerja ini kok sepertinya mudah," kata Pak Benny di pinggiran Jl Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bikin yang standard saja. Soalnya kebanyakan orang tidak puas sama pelat yang dapat dari polisi. Pelatnya tipis, catnya jelek. Makanya banyak yang bikin lagi di saya," ujar pria asal Sumatera Utara ini.
Untuk sepasang pelat motor dia hargai dengan Rp 50.000 sedangkan untuk mobil Rp 100.000. Sebenarnya Pak Benny bisa saja membuat empat hingga lima pasang pelat, hanya saja tak sebanyak itu orang yang mampir memesan.
Sudah kering pelat yang baru saja dia buat, tapi belum dapat dia upah untuk itu. Masih pula tersimpan rapi pelat-pelat yang kering sedari kemarin.
"Sebulan paling-paling saya dapat Rp 2.000.000. Memang sekedar cukup sih, tapi bisa sampai menyekolahkan anak saya, lima, lulus SMA semua," tutur Pak Benny.
Kios kecil itu sudah yang ketiga sejak dia pertama kali berkarya. Beberapa bulan lalu kiosnya diangkut oleh petugas karena dia tinggal pulang ke kampung halaman.
Tinggal harap yang selalu dia ketuk-ketuk pada pelat seng di kiosnya. Suatu saat nanti ada jalan terbaik untuk mengukir karya bagi anak-anaknya.
(bpn/trq)











































