Mobil-mobil garang berderu di belakang motor-motor yang berbaris di zebra cross. Berselip-selip di antara barisan itu, seorang pria berkaki satu membawa setumpuk koran.
Trimo 'Edi' Puji Slamet (35) namanya, seorang loper koran yang tetap yakin pada pilihan dia untuk berjuang sendiri. Menapaki aspal hitam nan panas di persimpangan Jl Matraman-Jl Pramuka, Jakarta Timur, Bang Edi tak sudi bila hidup tak mandiri.
"Berita paling ramai dari kemarin ya debat-debat capres. Prabowo lawan Jokowi. Ada yang kritik, ada yang muji. Tapi nggak ada tuh pengaruhnya buat saya," kata Bang Edi siang itu pukul 14.30 WIB hari Rabu (25/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin waktu saya lihat debat, ide membuat drone dari Jokowi banyak dikritik. Padahal maksudnya Jokowi itu menurut saya ya biar kita bikin senjata sendiri, nggak cuma beli dari luar negeri. Kita kan sudah punya Pindad. Buat apa?" sebut Bang Edi yang sedang menunggu agen koran petang.
Bang Edi yang hanya mengenyam pendidikan setingkat SMA itu pun mengerti kalau drone adalah kapal tanpa awak. Sebuah teknologi yang sebenarnya kita sudah miliki, namun belum dikembangkan secara banyak.
"Kita terlalu senang beli dari luar. Padahal tank Leopard itu saya pikir nggak cocok buat kita. Soalnya mahal dan beratnya 62 ton kan. Padahal kita sudah punya panser buatan sendiri yang pakai nama-nama binatang juga. Kenapa bukan itu saja ya yang dibikin banyak?" tutur Bang Edi.
Mungkin terlalu jauh bila seorang yang hanya loper koran seperti Bang Edi memikirkan alutsista. Dibicarakan banyak-banyak pun dia hanya bisa melihat di halaman koran, tak menyentuh langsung.
"Memang buat orang kecil seperti saya itu senjata tidak penting. Yang penting ya kesejahteraan. Tapi punya senjata juga penting buat menjaga wilayah perbatasan kita," ujar Bang Edi.
(bpn/trq)











































